
Sudah dua hari sejak Bryan tinggal dengan kakeknya, ia jarang main dan kumpul dengan Axel dan Celvin. Sudah dua hari pula, Bryan terus terusan menghubungi Erika.
Sudah hampir satu bulan, Erika selalu menghindari Bryan. Sikapnya yang dulu hangat dan perhatian tidak ada lagi. Bahkan pesan singkat pun tak pernah di balas lagi. Setiap Bryan ingin menemuinya, Erika selalu menolak.
Tiba tiba Bryan mendapatkan pesan singkat dari Erika yang memutuskan hubungan dengan sebelah pihak.
Bryan tersenyum miring, membaca pesan singkat dari Erika.
"Sudah kuduga, wajah cakep, uang ada, setia saja tidak cukup mempertahankan sebuah hubungan." Gumamnya.
"Wajar sih, nyokap gue saja ga cukup sama satu pasangan." Ucapnya lagi.
"Bodo amatlah, mending gue cabut dari rumah." Bryan bergegas pergi menuju markas.
Tak butuh lama, Bryan sudah sampai di markas. Kebetulan Axel dan Celvin sudah ada di markas.
"Lo kenapa?" Tanya Axel melihat raut wajah Bryan di tekuk.
"Badmood!" Sahutnya.
Bryan menceritakan apa yang terjadi padanya selama dua hari ini.
Buk
Celvin memukul bahu Bryan pelan.
"Dah lo jangan mikirin cewek, ga penting. Semua cewek di dunia ini sama, termasuk nyokap gue."
"Gimana kalau kita ke diskotik?" Usul Bryan.
"Ide bagus, cabut yuk!" Ujar Axel.
"Kemon, kita senang senang dari pada pusing!" Timpal Celvin.
Axel berdiri lalu mereka melangkah bersama keluar dari markas. Mereka mengendarai motor menuju diskotik.
Puk
Puk
Puk
__ADS_1
Axel menepuk bahu Celvin untuk menghentikan laju motornya.
"Stop!"
Celvin buru buru menepikan motornya di ikuti Bryan.
"Ada apa?" Tanya Bryan pada Axel.
Namun Axel tidak menjawab, ia berjalan mendekati Bintang tengah berjalan bersama Gema.
"Lo sedang apa di sini?" Tanya Axel.
"Axel, aku...-?"
"Jadi, selama ini lo bekerja di sini?" Tanyanya lagi. "Pantas saja, setiap kali aku chat kamu selalu telat balasnya."
"Kamu salah paham.." kata Axel.
"Lo bilang salah paham, ini apa buktinya!" Seru Axel.
"Axel, aku bisa jelasin. Ini tidak seperti yang kamu lihat."
"Lo pikir, gue buta?!"
"Dan kamu nggak bakal paham bagaimana rasanya untuk mendapatkan lembaran rupiah hanya untuk menyambung hidup, dan kamu seenaknya menuduh dan menilaiku serendah itu!"
"Tapi, benarkan, lo kerja disini dan tiap malam lo bersama dia!" Tunjuk Axel ke arah Gema.
"Kamu pikir aku mau, kerja disini!" Teriak Bintang.
"Bulshit!"
"Apa, kamu nggak suka. Ayo kita putus!" Balas Bintang.
"Lo nggak tau gimana perasaan gue, lo seenaknya ngucapin kata putus!" Axel mulai kesal.
"Kita jadian bukan atas dasar suka sama suka, kamu yang maksa!"
"Jadi selama ini, lo anggap gue main main?" Tanya Axel.
"Kalau bukan main main lalu apa?" Tanya Bintang lagi.
__ADS_1
"Eh lo ya, bisa bisanya lo berkata seperti itu! Bukannya mempertahankan , malah minta putus!"
"Salahin saja aku terus!" Pekik Bintang, air matanya jatuh di pipinya.
"Memang lo salah!"
"Oke, Fine!" Napas Bintang tersengal sengal menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya.
Axel terdiam membisu menatap Bintang yang menangis. Bryan dan Celvin diam menundukkan kepala.
"Lo punya hati ga sih?" Gema akhirnya membuka suara.
"Enak bener lo nuduh, enak ya kalau ga punya otak, ga cape cape mikir," kata Gema lagi.
"Lo belajar dulu yang baik buat contoh gue, bukan belajar jadi orang ketiga." Balas Axel.
"Jangan banyak omong, jangan banyak muka. Gue jadi bingung mau ngeludahin yang mana." Pungkas Axel.
Setelah bicara seperti itu, Axel beranjak pergi dan berlari menjauh dari mereka.
"Axel!" Panggil Bryan dan Celvin. Namun Axel tak menggubrisnya.
"Awas lo ya!" Ancam Bryan pada Gema. Kemudian Bryan dan Celvin naik ke atas motor dan melajukannya untuk mencari Axel.
"Kamu ga apa apa?" Tanya Gema pada Bintang.
Bintang menggeleng pelan, dan berlalu dari hadapan Gema.
Ia jongkok di depan toko yang sudah tutup sambil menangis.
"Sudah nangisnya."
Bintang mengusap air matanya, memperhatikan Axel membuka jaketnya lalu di pakaikan ke tubuh Bintang.
"Kenapa kamu balik lagi?" Tanya Bintang.
"Jangan pede lo, gue balik bukan karena lo. Tapi gue memang mau ke diskotik." Bantah Axel.
"Makasih..." ucap Bintang lalu memeluk Axel dan tanpa ragu, Axel membalas pelukan Bintang.
"Pulang, udah malam. Nanti lo masuk angin pakai baju kaya begini."
__ADS_1
Bintang mengangguk, dan membiarkan Axel menuntunnya pergi dari tempat itu.