
Sepulang dari markas, Bryan biasanya pulang larut malam. Tapi hari ini, entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman. Sesampainya di rumah, Bryan merasakan ada yang beda. Biasanya setiap sore, ia melihat mama nya duduk di teras bersama pria muda.
Bryan masuk ke dalam rumah yang tak terkunci. Sepi, tidak terdengar ada aktifitas di rumahny.
"Ma..." panggil Bryan, tengadahkan wajah ke lantai dua rumahnya.
"Ma!" Panggilnya lebih keras, lalu ia menaiki anak tangga menyuju kamar pribadi Claudia.
Tepat di depan pintu kamar, langkah Bryan terhenti. Ia menatap cukup lama pintu kamar. Namun ia tidak mendengar ada pergerakan di dalam kamar Claudia.
"Ma..." ucapnya pelan sambil mengetuk pintu berkali kali.
Namun tidak ada jawaban sama sekali. Bryan akhirnya memberanikan diri membuka pintu perlahan.
Saat pintu terbuka lebar, mata Bryan melotot ke arah kaki yang menjuntai.
"Mama!' Pekik Bryan berlari lalu memeluk kedua kaki Claudia.
"Mama!" Jerit Bryan di sertai air mata yang mengalir deras.
"Mama!!"
Bryan melepaskan pelukannya lalu mencari kursi si sudut ruangan. Ia naik ke atas kursi dan berusaha melepaskan tali yang menggantung leher mama nya.
"Buk!"
Tubuh Claudia jatuh ke lantai, Bryan turun dari atas kursi dan duduk di lantai mengangkat kepala mamanya ke pangkuannya.
"MAMA!" Jeritnya histeris.
"MAMA!"
Bryan memeluk erat tubuh Claudia dan menangis histeris.
'Mamaa...kenapa ninggalin aku, ma...bangun ma..banguuuun." ucapnya.
__ADS_1
"Mama bangun!" Jeritnya seraya mengguncang tubuh Claudia.
"Mama bangun! Jangan tinggalkan aku, ma! Aku mau melakukan apa saja asalkan mama bangun! Aku mau jadi anak baik dan penurut asal mama bangun!
"MAMA BANGUUUNNN!!!"
"JANGAN TINGGALIN AKU, MA! AKU MENYESAL MA!!"
Namun, apapun yang Bryan ucapkan tak mampu membangunkan Claudia lagi. Sekeras apapun Bryan berjanji tidak dapat membangunkan Claudia dan memarahinya seperti hari hari yang lalu.
Bryan tidak menduga, mamanya akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Bryan menduga, selama ini mama nya hidup bahagia dan tidak perduli dengan dirinya.
"Mama...maafkan Bryan."
Air mata semakin deras membasahi wajah Claudia yang sudah tak bernyawa lagi. Di saat orang yang paling ia benci semasa hidupnya. Wanita yang telah melahirkannya, yang selalu ia lawan setiap keinginannya.
Hari ini, hanya kebaikan yang Bryan ingat tentang sosok Claudia. Ibu muda, sekaligus ayah untuk Bryan. Semasa hidupnya tak pernah akur dan selalu salah di mata Bryan kini terbujur kaku.
Semasa hidupnya, Bryan seringkali melawan apa yang Mamanya katakan dua hari lalu masih terngiang di telinganya dan membuat Bryan menjerit histeris.
"Nanti kamu akan menangis bila Mama telah tiada."
***
Di pekaman.
Bryan dan Axel berada di samping Bryan, menatap gundukan tanah yang masih merah. Cuaca panas berubah mendung, seakan semesta merasakan kesedihan yang di rasakan Bryan.
Satu persatu yang datang ke pemakaman akhinya pergi. Wisnu dan Starla memberikan waktu yang banyak untuk Axel berada di samping Bryan. Karena mereka tahu, Bryan adalah sahabat putranya.
Axel dan Celvin hanya bisa memeluk erat Bryan yang tak berhenti menangis. Tidak ada satu kalimatpun terucap daru bibir Axel maupun Celvin. Di saat berduka seperti ini, kata kata tidak mampu menyembuhkan, yang Bryan butuhkan hanya pelukan.
Kini ia hidup sebatang kara, tidak ada lagi ocehan di setiap pagi dan malam. Tidak ada lagi yang memarahinya tiap kali Bryan melakukan kenakalan.
"Malam ini, kau tidur di rumahku. Mau?" Tawar Axel dan Celvin.
__ADS_1
Namun Bryan menolak, ia tetap mau tinggal di rumahnya.
"Aku akan menemanimu malam ini." Kata Axel. Kemudian meminta izin pada Wisnu dan Starla untuk menginap di rumah Bryan barang semalam.
Starla dan Wisnu mengizinkan putranya untuk menemani Bryan. Setelah itu orang tua Axel pulang ke rumah. Sementara tiga sahabat itu pun pulang ke rumah duka.
Di rumah Bryan.
Axel dan Celvin tetap berada di samping Bryan. Meski tidak ada perbincangan diantara mereka.
Axel dan Celvin hanya diam membiarkan Bryan mengenang semua kenangan manis bersama mama nya meski kenangan manis itu tidak pernah ada. Namun di saat ibunya sudah tiada, semua kemarahan mamanya menjadi sebuah kenangan indah yang tak akan pernah terulang.
Celvin menoleh ke arah Axel, ia terkejut melihat darah keluar dari hidung Axel.
"Xel, darah..." ucap Celvin pelan tapi terdengar jelas oleh Bryan yang menoleh ke arah dua sahabatnya.
"Darah?" Axel mengusap darah di hidungnya. Semakin lama semakin deras mengalir.
"Axel!" Pekik Bryan menghampiri.
"Ambil tisu!" Perintah Celvin pada Bryan.
Bryan mengangguk lalu mengambil tisu di atas meja. Celvin menyandarkan tubuh Axel ke sofa lalu menyumbat hidung Axel dengan tisu.
"Kita kerumah sakit, gimana?" Usul Bryan.
"Jangan, gue gak mau." Tolak Axel.
"Orang tua li harus tau, gue hubungi mereka ya?" Bryan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Namun Axel mencegahnya.
"Jangan, gue nggak apa apa. Tenang saja." Kata Axel.
Bryan dan Celvin mengikuti apa mau Axel. Mereka berdua mencoba menghentikan pendarahan di hidung Axel. Setelah beberapa detik, akhirnya hidung Axel berhenti mengeluarkan darah.
"Lo istirahat, biar gue jagain lo." Kata Celvin.
__ADS_1
"Ga, gue baik baik saja. Bryan lebih membutuhkan kita." Tolak Axel.
Bryan tersenyum samar lalu memeluk erat kedua sahabatnya.