
Di rumah sakit.
Dr Desta memeriksa luka Axel di kepalanya. Sementara Bryan, Celvin dan Bintang menunggu di ruang tunggu dengan rasa khawatir.
"Vin, lo punya nomer nyokap and bokap, Axel ga?" Tanya Bryan.
Celvin menggelengkan kepala pelan.
"Gue ga punya."
"Bagaimana ini?" Bryan mulai tegang, ia khawatir dengan kondisi Axel dan bingung bagaimana menceritakannya pada kedua orang tua Axel.
"Ini salahku..." kata Bintang.
"Lo memang salah, kenapa si lo harus hadir di kehidupan Axel?" Tuduh Celvin.
"Ga, lo ga bisa nyalahin Bintang. Gema yang pengkhianat." Bela Bryan.
"Sory, gue kacau," jawab Celvin mengusap wajahnya gusar.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara langkah kaki dengan tergesa gesa dari arah lorong rumah sakit. Bryan, Celvin dan Bintang menoleh ke arah Wisnu, Starla dan pak Doni yang menghampiri mereka.
"Tante, om..!" Sapa mereka serempak.
Starla dan Wisnu tidak menjawab, mereka berdua menatap ketiga anak anak di hadapannya dengan tatapan serius.
"Bagaimana ceritanya, putraku bisa terluka?" Tanya Wisnu.
__ADS_1
Bryan dan Celvin maju selangkah dan menceritakan kepada orang tua Axel, kalau mereka di serang oleh sekolah lain.
Wisnu hanya diam mendengarkan, bukan berarti ia tidak tahu menahu. Wisnu hanya ingin tahu, bagaimana kejujuran dan tanggung jawab anak anak yang ada di hadapannya.
Saat mereka tengah bicara, pintu ruangan terbuka.
"Dr Desta, bagaimana putra saya. Tidak ada luka yang serius?" Tanya Wisnu khawatir.
"Pak Wisnu, Bu Starla. Mari kita bicara di ruangan saya." Kata Dr Desta.
"Baik Dok!" Sahut Wisnu.
"Kalian tetap di sini, saya belum selesai bicara." Kata Wisnu pada Bryan, Celvin dan Bintang.
Setelah itu keduanya mengikuti langkah Dr Desta menuju ruangan. Pak Doni menunggu di luar. Sementara Bryan, Celvin dan Bintang, masuk ke dalam ruangan Axel.
"Xel!" Seru Bryan, Celvin secara bersamaan.
"Gue gak apa apa," jawab Axel singkat, lalu bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Axel, maafin aku. Gara gara aku, kamu jadi begini.." sela Bintang.
Axel menoleh ke arah Bintang.
"Ga usah banyàk ngomong, kepala gue sakit. Mending lo peluk gue, dari pada banyak omong." Kata Axel ketus.
Bryan dan Celvin tertawa kecil sambil menepuk keningnya sendiri. Sementara Bintang malu malu.
"Ayo peluk!" Paksa Axel.
"Nggak mau, Axel." Tolak Bintang.
"Peluk!" Pinta Axel sekali lagi dengan nada maksa.
__ADS_1
"Iyaa!" Sahut Bintang, memilih mengikuti keinginan Axel dari pada harus di marahin.
Bintang membungkukkan badannya lalu memeluk Axel sekilas.
"Maafin aku ya.."
"Maaf, maaf, lebaran masih lama," jawab Axel.
Bintang tertunduk malu di perhatikan Bryan, Celvin.
"Sekarang lo pulang, tapi jangan sendirian. Bryan dan Celvin, yang antarkan lo pulang." Kata Axel pada Bintang.
"Lo tenang aja, gue pastikan Bintang pulang dengan selamat. Yang penting lo sehat and balik lagi ke sekolah.' Ujar Celvin.
Axel mengangguk dan mempercayakan keselamatan Bintang pada dua temannya.
Sementara di ruangan Dr Desta.
Dr Desta sedang membicarakan luka di kepala Axel.
"Bagaimana Dok?" Tanya Wisnu.
Dr Desta diam sejenak.
"Ada hal lain yang lebih penting selain luka di kepala akibat pukulan balok." Kata Dr Desta.
"Maksud Dokter?" Tanya Starla dan Wisnu berbarengan.
"Saya tidak dapat menjelaskan sekarang. Setelah tes darah hasilnya sudah selesai, saya bisa menjelaskan lebih lanjut. Untuk saat ini, tuan Axel boleh dibawa pulang. Saya akan datang ke rumah pak Wisnu setelah hasilnya keluar." Jelas Dr Desta.
"Baik dok, saya tunggu secepatnya." Kata Wisnu.
Setelah selesai, Wisnu dan Starla pamit undur diri untuk melihat Axel di ruangannya.
__ADS_1