Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Apa salahku?


__ADS_3

"Kalian tahu, ini jam berapa?" Pak Salim menunjuk jam tangannya.


"Jam delapan pak!" Sahut Bryan cengengesan.


"Itu tandanya kalian telat berapa menit?" Tanya pak Salim.


"30 menit pak!" Sela Celvin.


"Kalian tahu, hukuman buat kalian yang selalu melanggar peraturan dan berbuat onar di sekolah?" Tanya pak salim lagi.


"Banyak pak, selain pel lantai, bersihin toilet, lari di lapangan. Atau bapak punya hukuman yang tak biasanya?" Bryan balik bertanya, dan pak Salim berpikir keras hukuman apa buat mereka.


"Bego banget si, malah di suruh nyari hukuman. ******," bisik Axel di telinga Bryan.


"Gue cuma kasih solusi, yang ngerjain biar anak anak." Jawab Bryan.


"Apa kamu bilang?" Pak Salim mendengar perkataan Brya.


"Nggak pak, itu si Jamal ibunya masuk rumah sakit." Kata Bryan.


"Jamal, di kelas kita tidak ada nama Jamal." Kata pak Salim menatap ke arah murid murid.


"Yang bilang Jamal sekolah di kelas ini siapa pak?" Bryan balik bertanya.

__ADS_1


"Bryan!" Pak Salim memukul meja menggunakan penggaris.


"Sekarang juga kalian bersihkan toilet!" Perintah pak Salim.


"Dengan senang hati pak!" Sahut Axel dan yang lain lalu mereka berlarian keluar dari kelas.


"Astagfirulloh.." gumam pak Salim mengusap dadanya sendiri.


Sementara Axel memerintahkan Deni dan Yudi untuk menggantikannya membersihkan toilet. Setelah itu mereka meninggalkan sekolah dan berkumpul bersama geng motor yang di ketuai oleh Axel.


Sepanjang hari mereka konvoi di jalan raya mengendarai sepeda dan meresahkan pengendara lainnya.


Di sekolah, para guru memanggil orang tua Bryan dan Celvin. Mereka nengadukan kenakalan yang di buat putranya.


Celvin dengan wajah sumringah pulang ke rumahnya. Namun sesampainya di rumah. Ramdan, papa tiri Celvin sudah menunggu dengan tongkat besi berukuran kecil di tangannya.


"Anak tidak berguna, sampah, seharusnya kau mati saja dari pada jadi beban keluarga!" Bentak Ramdan marah pada Celvin.


Celvin diam menatap ke arah lain, Sinta duduk di kursi matanya merah berkaca kaca.


"Aku sedang bicara, tatap mataku!" Seru Ramdan.


Celvin mengalihkan pandangannya menatap tajam ke arah Ramdan.

__ADS_1


"Anak tidak berguna!" Ramdan mengayunkan tongkatnya ke kepala Celvin tapi berhasil berkelit. Namun sayang, tongkat Ramdan mengenai tubuh Celvin.


Buk


Buk


Buk


"Mati saja kau!" Pekiknya dan tanpa ampun memukul tubuh Celvin hingga tersungkur ke lantai. Sinta hanya bisa menangis tanpa melakukan apa apa.


"Di rumah cuma jadi beban keluarga, di sekolahkan malah bikin masalah tiap hari. Mau jadi jagoan?!"


Ramdan dengan membabi buta memukul tubuh Celvin tanpa ampun. Setelah puas, Ramdan beranjak pergi dan melempar tongkat besinya di hadapan Sinta.


Sinta berjengkit kaget, menatap punggung Ramdan. Setelah itu ia beranjak dari kursi, menoleh sekilas ke arah Celvin yang meringkuk di lantai dan meninggalkannya begitu saja.


"Tuhan, cabut nyawaku..aku sudah tak tahan lagi..." gumam Celvin lirih.


Ia berusaha bangun dan menyeka darah segar di mulutnya. Tubuhnya terasa sangat remuk dan kakinya sulit untuk di gerakkan. Namun rasa sakit di tubuh, tidak sebanding dengan sakitnya hati Celvin atas ucapan Ramdan dan sikap diam mamanya.


Seharusnya, ibu tempat ternyaman di saat suka dan duka. Bersandar di bahunya dan menangis di pelukan ibu. Namun apa yang di dapat Celvin sebaliknya. Rumah dan orang tuanya, bagi Celvib sudah seperti berada di neraka.


"Papa, andai kau masih hidup. Mungkin aku tidak akan merasakan seperti ini.." ucapnya lagi.

__ADS_1


Celvin berusaha untuk bangkit, tapi berkali kali jatuh karena kedua kakinya tidak mampu menopang tubuhnya. Celvin berjalan merangkak menuju kamar pribadinya.


__ADS_2