Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Rencana Friska


__ADS_3

Di sekolah.


Bryan dan Celvin tengah berjalan sambil makan roti. Dari jendela kelas yang terbuka, Axel langsung mengambil roti milik Bryan.


Bryan berlari lalu masuk ke dalam kelas menghampiri Axel dan merebut kembali rotinya. Axel bergegas berlari menyusul Bryan. Namun langkahnya terhenti saat melihat Friska tengah membuka botol minuman segar.


Axel langsung menepis tangan Friska hingga botol minuman segar jatuh kelantai dan menggelinding hingga air minuman segar itu berceceran di lantai.


Celvin masuk secara tiba tiba ke dalam kelas lalu terpeleset menginjak lantai kelas yang licin.


"Axel!!" Pekik Friska kesal.


"Buk!!


"Gubrakk!!"


Pak Salim yang baru saja masuk ke dalam kelas tersandung kaki Celvin hingga terjatuh dengan posisi telungkup. Sontak semua murid yang ada di dalam kelas ataupun luar kelas tertawa terbahak bahak melihat kekacauan.


Pak Salim berdiri dengan raut wajah malu lalu mengambil sapu dan mengejar Axel, Bryan dan Celvin.


"Axel!"


Axel yang berlari mendahului Bryan dan Celvin, tidak sengaja menabrak bahu Bintang. Andai tidak ada Gema di sampingnya, mungkin Bintang sudah jatuh tersungkur. Dengan sigap Gema menarik bahu Bintang dan mendekap pinggangnya.


Axel terdiam dengan sorot mata tajam menatap wajah Gema.


Gema dan gengnya yang berbeda tingkah laku dengan Axel, Brian dan Celvin. Mereka sangat tidak menyukai Axel dan dua sahabatnya itu.


'Lo bisa gak, sehari saja gak bikin rusuh?"


"Bukk!!


Bryan dan Celvin yang baru saja berhasil mengejar Axel. Menubruk punggung Axel.


"Ughhh!" Keluh Bryan dan Axel.


"Kasihan sekali nyokap and bokap lo, capek capek ngebiayaain. Tapi kalian kayak anak kecil." Sindiri Gema.


Axel menyeka hidungnya dan tersenyum sinis. Berjalan lebih dekat dengan Gema dan Bintang.

__ADS_1


"Lo nggak usah ngurusin hidup gue, iri lo? Ha ha ha!"


Gema melepaskan bintang, saling beradu tatapan tajam dengan Axel.


"Gue akui, lo pintar. Tapi melihat sikap lo, gue ragu dengan kejeniusan otak lo," ucap Gema menyinggung perasaan Axel.


Namun baru saja Axel hendak membalas, dari arah belakang pak Salim masih mengejarnya.


"Axel!


"Bryan!


"Celvin!"


"Kaburr!!" Seru Bryan menarik tangan Axel meninggalkan Gema.


Di sela langkahnya, Axel menoleh ke arah Gema dan menunjuk dengan kedua jarinya.


Gema menggelengkan kepala melihat Axel dan yang lain melarikan diri.


"Dia itu siapa?" Tanya Bintang.


Bintang mengangguk, kemudian mereka berjalan bersama menuju kelas. Sementara pak Salim terengah engah mengejar Axel dan sahabatnya.


"Anak nakal!" Gerutunya dan menyerah untuk tidak mengejar mereka lagi.


****


Friska dan gengnya.


"Gue punya ide!" Seru Friska pada Nala dan Melody.


"Gue gagal gimana caranya supaya Axel membenci Bintang. Tapi sekarang, ide gue gak bakalan gagal lagi." Jelas Friska.


"Memang apa ide lo?" Tanya Melody.


Friska membisikkan sesuatu kepada Melody dan Nala.


"Gue dapet nomer ponsel Axel, lo tau kan? Bintang itu sangat antusias untuk mempelajari apapun." Bisik Friska.

__ADS_1


"Terus, terus." Kata Nala.


Friska kembali membisikkan rencanya pada Nala dan Melody.


"Yes!" Seru Melody.


"Tumben otak lo encer.." timpal Nala.


Friska tersenyum lebar.


"Liatin aja, gue bakal bikin anak itu keluar dari sekolah ini."


"Rika!" Panggil Friska melihat salah satu teman yang dekat dengan guru.


"Ada apa Fris?" Tanya Rika.


"Lo mau duit?" Tanya Friska.


Rika mengangguk, meskipun siswi yang masuk di sekolah itu terbilang anak orang kaya. Tetapi karena gaya hidup mereka yang glamour dan hobi memakai barang branded. Tetap saja mereka selalu menginginkan lebih banyak uang.


"Lo kasiin nomer hp ini sama si Bintang. Lo bilang, kalau nomer ponsel ini milik pak Ridwan guru IPS. Lo janji, jangan pernah lo bongkar rahasia, kalau nomer ponsel ini dari gue. Lo paham?!"


Rika mengedipkan mata kirinya.


"Lo tenang aja, selama duit lo ngalir. Gue bakalan bungkam seumur hidup."


"Sialan lo!" Rutuk Friska lalu memberikan nomer ponsel di kertas, kepada Rika.


"Oke, gue cabut dulu." Kata Rika.


Friska mengangguk, tersenyum penuh kemenangan meski rencananya baru di mulai.


Sementara Rika menghampiri Bintang dan memberikan nomer ponsel itu pada Bintang.


"Dari pak Ridwan, lo bisa chat kapan saja untuk bertanya pelajaran tambahan." Jelas Rika meyakinkan.


"Makasih ya Rik." Balas Bintang senang.


Rika mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Bintang.

__ADS_1


__ADS_2