
"Mom, boleh aku minta tolong?" Tanya Axel lemah.
"Katakan sayang.."
"Panggil Bintang kesini, aku mau bicara dengan Bintang. Mom.." pinta Axel.
Starla menganggukkan kepalanya, kemudian memerintahkan pak Doni untuk membawa Bintang ke rumah sakit.
Satu jam menunggu, akhirnya Bintang datang ke rumah sakit menemui Axel.
"Bintang, gue nggak bisa masuk sekolah. Gue juga nggak bisa jagain lo lagi di sekolah. Tapi gue janji, apapun akan gue lakukan buat ngelindungin lo." Ungkap Axel, menggenggam erat tangan Bintang.
"Gue sayang sama lo, gue juga nggak mau lo ninggalin gue." Katanya lagi.
"Aku juga sayang kamu, aku juga takut kehilangan kamu. Axel, kamu jangan khawatir. Aku pasti baik baik saja, yang penting kamu fokus sama kesehatanmu. Jangan menyerah, kamu pasti sembuh."
"Janji sama gue, lo jaga hati, jaga mata. Gue gak mau lo dekat dekat sama cowok lain." Pinta Axel.
Bintang mengangguk.
__ADS_1
"Janji.."
"I love you.." ucap Axel.
"I love you to." Jawab Bintang.
Semangat Axel kembali membara. Saat ini, hanya Bintang satu satunya gadis yang ada di hati Axel. Bintang lah penyemangat hidupnya.
Setelah mereka bicara serius, saling berjanji dan mempercayai Bintang sepenuhnya bahwa dia lah gadis yang bisa di andalkan. Bintang kembali pulang diantar pak Doni.
"Bagaimana sayang?" Tanya Starla lalu duduk di kursi memperhatikan Axel yang terlihat lemah, wajahnya pucat.
"Apapun mau kamu sayang." Jawab Starla menatap sendu wajah Axel.
"Aku percaya, Bintang yang terbaik. Aku tidak mau yang lain.." kata Axel.
Starla menganggukkan kepalanya, tangannya terulur mengusap air mata yang mebasahi pipi putranya.
"Kamu pasti sembuh sayang."
__ADS_1
***
Hari hari yang Axel jalani di rumah sakit terasa membosankan dan membuatnya depresi. Kenangan tentang dua sahabatnya seringkali membuatnya menangis.
Ada rasa penyesalan di hati Axel. Mengapa ia terlambat mengartikan kasih sayang dan perhatian yang di berikan kedua orang tuanya.
Bryan, Celvin, meninggal bukan karena masalah dari luar. Tapi tekanan yang diberikan orang tua, yang seharusnya menjadi sandaran anaknya justru sebaliknya menjadi pembunuh untuk putra putranya.
Axel masih tidak bisa menerima nasib kedua sahabatnya dan penyakit kanker yang menimpanya. Namun, berkat dukungan orang tuanya. Axel mampu melewatinya meski dengan rasa sakit yang tak dapat di jelaskan.
"Maafkan aku, mom..dad...aku memang menyesal..tapi rasanya aku kehilangan arah dan pegangan.." gumam Axel dalam hati.
Namun, kesedihan Axel berkurang, ia mampu mengalihkan perhatiannya kepada Bintang yang selalu mensuport nya. Kehadiran Bintang menjadi pelita untuk Axel. Hari hari Axel di rumah sakit tidak terlalu menjemukan karena selalu mendapatkan asupan perhatian dari Bintang.
Axel menaruh kepercayaan yang besar pada Bintang dan berharap ia cepat sembuh dan bisa bersama sama dengan Bintang.
Berbeda dengan Friska, ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya telah menjebak Celvin.
Sementara Berliana dan Wijaya ikut terlibat dengan aksi Friska karena merasa sakit hati atas penolakan Wisnu dan Starla yang ingin menjodohkan Friska dan Axel.
__ADS_1
Bintang dapat hidup tenang bersama Santi yang tak lain sahabat Hana. Ibu kandung Bintang, rumah mewah yang mereka tempati di sita pihak Bank. Santi dan Bintang tinggal di rumah kecil, hidup dengan tenang tanpa ada gangguan dari Friska lagi.