Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Parfum


__ADS_3

"Baby, bangun sayang.." ucap Starla membangunkan Axel, putra kesayangannya.


"Lima menit lagi mom.." sahut Axel seraya menarik selimutnya.


"Tidak ada lima menit lagi, kamu sudah kesiangan. Ayo bangun..." Starla menarin selimut dan menarik tangan Axel supaya bangun.


"Ah momi, lima menit lagi.."


"Tidak, kamu harus bangun." Starla terus memaksa dan akhirnya Axel pun bangun.


"Aku tunggu 20 menit, kamu harus cepat." Pesan Starla lalu beranjak pergi dari kamar Axel.


Axel turun dari atas tempat tidur dengan mata masih terpejam dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air gemericik dan suara senandung Axel menyanyikan sebait lagu.


Tak lama kemudian ia sudah selesai mandi dan keluar dengan menggunakan balutan handuk. Ia tersenyum melihat laci meja.


"Sekarang aku sudah gede, sudah punya pacar. Waktunya berubah dari hal kecil." Gumamnya lalu mendekati laci meja dan mengambil parfum orang dewasa.


Axel menyemprotkan parfum keseluruh tubuhnya. Setelah itu ia menggunakan seragam sekolah yang sudah di siapkan Starla dan merias dirinya sendiri. Biasanya yang melakukan itu semua adalah Starla.


"Hmm, harum.." gumamnya menghirup aroma parfum tersebut.


"Mungkin, ini rasanya jadi orang dewasa." Ucapnya lagi.


Axel membuka satu kancing seragamnya lalu memeriksa ketiaknya.

__ADS_1


"Untung nggak ada bulunya, aman. Nggak perlu pake pengharum ketiak." Katanya lagi sambil tertawa kecil.


"Axel apa apaan?!"


Axel terkejut lalu menyembunyikan parfumnya di belakang saat melihat Starla.


"Momi, sumpah. Tidak seperti yang momi pikirkan. Aku hanya mencoba sesuatu yang baru..." kata Axel.


"Sesuatu yang baru?" Tanya Starla, memegang bahu Axel dan mengendus bau parfum yang berbeda.


"Lepasin dulu tangan Momi, nanti aku jelasin.." ucap Axel dengan manja.


Starla menarik tangannya, menatap anak lelakinya dengan kedua alis menaut.


"Udah gede bukan berarti harus pakai parfum orang dewasa, ayo cepat balik kamar mandi!" Perintah Starla.


"Ah momi!"


"Ayo!" Starla mendorong punggung Axel menuju kamar mandi lalu menutup pintunya.


Tiga puluh menit kemudian, Starla menunggu Axel di ruang makan. Namun anak lelakinya tidak kunjung keluar dari kamarnya. Starla memutuskan untuk menemuinya lagi di kamar. Namun Axel tidak berada di kamarnya.


"Hm, pasti ngambek ni anak." Gumam Starla. Kemudian Starla kembali keluar kamar, memanggil pak Doni untuk menemaninya ke taman belakang.


Sesampainya di taman belakang. Starla dan pak Doni berdiri dan tengadahkan wajahnya menatap ke atas pohon besar.

__ADS_1


"Axel, turun nak!"


"Kok momi tahu aku di sini?" Tanya Axel, menatap ke bawah.


"Yang ngelahirin kamu, aku. Yang mengandung 9 bulan juga aku. Kalau cuma nyariin kamu, itu mah kecil!" Sahut Starla.


"Pak Doni, ambilkan tangga!" Perintah Starla.


"Baik nyonya!" Sahut Pak Doni.


Tak lama pak Doni kembali dengan membawa tangga. Lalu meminta Axel untuk turun dari atas pohon di bantu pak Doni.


"Kalau ngambek jangan naik pohon, ga bisa turun kan?" Ucap Starla.


Axel hanya diam dengan wajah masam.


"Sekarang berangkat sekolah, kamu sudah terlambat lima belas menit." Pungkas Starla.


Axel masih tetap diam.


"Katanya udah gede, masih ngambekan." Goda Starla.


Axel hanya melirik ke arah Starla, lalu melangkahkan kakinya dengan kesal. Pak Doni mengikuti langkah Axel dari belakang.


"Biarpun kamu sudah besar, tetap saja kamu itu anak laki laki kecilku." Gumam Starla.

__ADS_1


__ADS_2