
Sejak penangkapan Celvin akibat menyimpan obat terlarang, Axel semakin terpukul dan merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa membantu sahabatnya. Namun Axel percaya, kalau barang tersebut bukanlah milik Celvin.
Axel lebih mencurigai kalau di balik kejadian itu adalah Gema. Namun ia belum mendapatkan bukti, kemudian Axel memerintahkan anak buah geng nya untuk mencari tahu.
Jam istirahat, diam diam Axel menemui Gema di markasnya sendirian. Gema yang berada di markas bersama Edo, melihat kedatangan Axel, di sambut dengan tepuk tangan.
"Berani sekali lo datang ke sarang macan. Ha ha ha!" Sapa Edo.
Axel tersenyum sinis menatap tajam keduanya.
"Gue nggak perduli, mau sarang macan atau sarang penyamun sekalipun!"
"Lihat, lucu sekali anak mami kalau sedang marah." Sindir Gema.
"Gak usah banyak bacot, katakan lo kan yang jebak Celvin?" Tuduh Axel.
Gema tertawa sambil menoleh ke arah Gema. Keduanya tertawa terbahak bahak menyulut emosi Axel.
Bukk
Bukk
Dua tinju mengenai wajah Edo dan Gema.
"Sialan!" Seru Edo lalu membalas pukulan Axel, namun Axel berhasil berkelit dan lolos dari pukulan Edo.
"Hajar dia!" Perintah Edo pada Gema dan yang lain.
Perkelahian yang tak imbang. Satu lawan empat orang, membuat Axel kewalahan. Hingga akhirnya terpukul mundur dengan wajah luka lebam.
"Cukup!"
Axel dan yang lain menoleh ke arah sumbet suara. Nampak Friska berdiri di belakang Axel.
__ADS_1
"Gue yang ngelakuin, bukan Gema atau Edo!" Friska mengakuinya.
"Lo bercanda bukan?" Tanya Axel menatap marah ke arah Friska.
"Gue ga bercanda, gue yang ngelakuin. Tadinya gue mau jebak lo, tapi sayang. Saat gue mau masukin obat ke tas lo. Ternyata tas lo ketuker sama tas milik Celvin." Ungkap Friska.
"Tega lo ya, apa salah gue?!" Tanya Axel.
"Gue cinta sama lo, tapi lo milih Bintang. Gue sayang lo, tapi lo malah milih cewek itu!" Pekik Friska.
"Cih!"
"Kenapa, lo mau laporin gue?" Tanya Friska menantang.
"Pasti, jangan lo pikir gue milih kasian cewek kaya lo di banding sahabat gue." Jelas Axel.
"Silahkan gue ga takut!" Tantang Friska.
Axel berjalan tertatih menjauh dari markas. Tepat di tepi jalan, Axel ambruk ke jalan dan tak sadarkan diri.
***
"Aku di mana.." gumamnya melihat tangan kananya ada selang infus.
"Sayang, kau sudah sadar?"
Axel menoleh ke arah Starla.
"Mom..."
"Kamu istirahat, tenang saja. Dad, sedang mengurus Celvin." Kata Starla, menyandarkan kepala Axel di bantal.
Starla kembali duduk di kursi, lalu mengambil remote dan menyalakan televisi supaya Axel tidak merasa jenuh.
__ADS_1
Layar televisi menyala, siaran berita sekilas info. Starla bermaksud memindahkan chanel, namun niatnya dia urungkan.
"Seorang tersangka kasus narkoba, tewas gantung diri." Gumam Starla.
"CELVIN!" Teriak Axel saat mengenali wajah sahabatnya.
"Tidak mungkin!" Pekik Axel histeris.
Starla langsung memeluk Axel dan menenangkannya.
"Momi...gak mungkin Celvin, mom!"
"Tenanglah sayang, semua akan baik baik saja. Kita tunggu kabar dad." Ucap Starla menenangkan.
"Ga mungkin! Celvin!" Jerit Axel histeris dan menangis sejadi jadinya dan akhirnya jatuh pingsan.
****
Axel tak berhenti menangis di depan gundukan tanah yang masih merah. Luka batin atas kematian Bryan belum sepenuhnya hilang, sekarang Axel harus kehilangan sahabat satu satunya lagi.
"Kenapa...kenapa jadi seperti ini...bukan kaya gini yang aku mau!!" Teriak Axel tiba tiba, membuat Starla dan Wisnu terkejut lalu mereka berdua menenangkan Axel.
"Ini ga adil!!" Jerit Axel.
"Sebaiknya kita pulang.." usul Starla.
Wisnu mengangguk, kemudian mendorong kursi roda Axel membawanya kembali ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Wisnu meminta maaf pada Axel. Ia terlambat membantu Celvin. Bukan karena Wisnu tak mampu, tapi Celvin memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dengan tekanan dari kedua orang tuanya yang seharusnya jadi penguat buat Celvin.
Axel hanya bisa menangis tanpa membalas kata kata Wisnu. Darah segar mengalir di hidung Axel hingga jatuh pingsan.
Wisnu memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi Axel saat ini.
__ADS_1
Satu jam menunggu, akhirnya Dokter selesai memeriksa dan menyampaikan kabar buruk. Penyakit kanker darah yang di derita Axel sudah stadium akhir. Namun bukan berarti Axel tidak memiliki kesempatan untuk sembuh. Dokter, terutama Axel harus sama sama berjuang untuk kesembuhannya.