
Axel keluar dari kamarnya diam diam lalu berjalan perlahan menuruni anak tangga. Sesampainya di lantai dasar rumah, ia memperhatikan sekitar ruangan.
Sepi!
Axel tersenyum mengembang lalu berjalan sambil mengangkat kedua tangannya ke atas sambil goyang pinggul.
Tanpa Axel sadari, dari belakang pak Doni meniru gerakan Axel dan mengikutinya.
Saat di ambang pintu, Axel berputar. Raut wajahnya langsung cemberut saat mengetahui pak Doni mengikutinya.
"Tuan muda mau kemana?" Tanyanya.
"Kepo!" Sahut Axel.
Pak Doni tertawa kecil sambil mengedipkan matanya.
"Aaarghh hentikan!" Teriak Axel
"Ssttt, jangan teriak nanti tuan dan nyonya dengar." Kata pak Doni.
Axel langsung diam dan matanya menatap ke arah kamar orang tuanya.
"Aman..." ucapnya pelan.
"Tuan muda mau kemana?" Tanya pak Doni.
"Biasa, malam minggu," jawabnya singkat.
Pak Doni mengangguk, bibirnya membuat lingkaran bulat.
"Oooo..."
"Siapa nama gadis yang mau tuan muda kunjungi?" Tanya pak Doni lagi.
"Masih di rahasialan.." ucap Axel pelan lalu memutar tubuhnya dan melangkah pelan di mulai dari kaki kanannya.
"Mau kemana?!"
Sontak Axel langsung balik badan dan memasang muka imut saat mendengar suara papa nya.
"Dad..."
"Mau kemana?" Tanyanya lagi.
"Mau jalan jalan sebentar cari angin segar bareng pak Doni, iya kan?" Axel menoleh ke arah pak Doni dengan mata melotot.
Pak Doni tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Benar?" Tanya Wisnu pada pak Doni.
"Benar tuan," sahut pak Doni.
"Ya sudah, jangan lama lama. 30 menit cukup." Kata Wisnu memberikan waktu.
__ADS_1
"30 menit, dad?" Axel mengulang.
"Ya, kenapa?" Tanyanya lagi.
"Jalan keteras 5 menit, hidupin mobil 5 menit. Jalan keluar gerbang 5 menit, sampe jalan raya 5 menit. Baru sampe belokan kampung sebelah sudah 10 menit. Terus kapan cari angin segarnya?" Axel memperkirakan waktu yang di berikan Wisnu.
"Kenapa, keberatan?" Tanya Wisnu.
"Kalau keberatan, lebih baik kamu istirahat." Ucapnya lagi.
"Tidak, tidak, tidak Dad. Cukup kok, 30 menit. Ya kan pak Doni..?"
Pak Doni mengangguk sambil mengulum senyumnya.
"Kalau gitu cepat sana di cari anginnya, kalau ada bungkus satu ya." Kata Wisnu sembari ngeloyor kembali ke kamarnya.
"Huffft!" Axel mendesah sambil menirukan gaya bicara Wisnu.
Pak Doni hanya terkekeh melihat raut kekecewaan Axel.
"Ga usah ketawa, ayo anter!" Seru Axel.
"Oke!" Sahut pak Doni lalu mempersilahkan Axel berjalan lebih dulu, lalu mereka masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Axel berpesan.
"Kalau nanti sampai di rumah bintang, pak Doni tunggu di luar gerbang saja. Jangan ikut aku, oke?"
Di perjalanan ke rumah Bintang, Axel merangkai kata bagaimana caranya meminta izin pada orang tua Bintang.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan gerbang rumah Bintang.
Pak Doni tertegun melihat ke arah rumah.
"Bukankah ini rumah pak Wijaya dan Bu Berliana, seingatku mereka hanya punya satu putri bernama Friska. Lalu siapa Bintang?" Batin pak Doni.
"Heh malah melamun!" Axel menepuk bahu pak Doni.
"Ah iya tuan!' Sahut pak Doni menoleh.
"Tunggu di sini, dan jangan perlihatkan dirimu depan mereka." Pesan Axel.
Pak Doni mengangguk, lalu membukakan pintu mobil untuk Axel.
"Semoga berhasil!"
Axel hanya memanyunkan bibirnya lalu masuk ke dalam pintu gerbang yang tak terkunci. Nampak beberapa mobil mewah terparkir di halaman. Langkah Axel sesaat terhenti melihat Berliana, Wijaya. Ada Bintang dan seorang pria paruh baya berada di teras rumah.
"Kebetulan sekali.." gumam Axel.
Axel melangkahkan kakiny menghampiri mereka dan menyapanya.
"Malam tante, om..."
__ADS_1
Berliana menautkan kedua alisnya menatap Axel. Lalu berjalan lebih dekat ke arah Axel.
"Kamu siapa, mau bertemu siapa malam malam?" Tanya Berliana.
"Axel, dia temanku!" Sela Bintang.
Berliana menoleh sesaat ke arah Bintang, kemudian menatap lagi pada Axel.
"Oh, kamu temannya Bintang. Mau apa kamu malam malam nemuin Bintang?" Tanya Berliana.
"Kenalkan tante, aku pacarnya Bintang. Tentu saja aku mau ajak Bintang jalan jalan. Ini kan malam minggu tante!" Sahut Axel memperkenalkan diri dengan penuh rasa percaya diri.
"Apa? Pacar Bintang?" Berliana menatap tak percaya. Setelah itu ia tertawa sambil mengendus aroma minyak bayi di tubuh Axel.
"Heh! badan bau minyak telon, mau macarin Bintang. Muka kaya anak kecil, udah mau pacaran!" Tolak Berliana.
"Tante, aku bukan anak kecil." Kata Axel.
"Bau minyak telon, masih bau kencur. Sana pulang, sudah malam. Ga baik anak anak keluyuran malam malam!" Usir Berliana di sertai tawa Wijaya dan pria paruh baya di sebelahnya.
"Tante, jangan bicara seperti itu pada Axel!" Potong Bintang lalu mendekati Axel.
"Heh, diam kamu!" Berliana menarik tangan Bintang supaya menjauh dari Axel.
"Kamu dengar ya anak kecil, Bintang sudah punya calon suami. Jadi jangan pernah dekati lagi, sekarang juga kamu pergi!" Usir Berliana.
"Tante!" Seru Bintang.
"Diam kamu, sekarang juga masuk!" Perintah Berliana pada Bintang.
"Tante jangan sombong, tante kira-?" Ucapan Axel terputus.
"Usir anak ingusan itu!" Perintah Berliana pada salah satu anak buah Wijaya.
"Tante, dengarkan dulu!" Seru Axel.
Namun pria itu terus menyeret paksa tubuh Axel keluar dari rumah itu, lalu menutup pintu gerbang.
Axel mendengus geram menatap pintu gerbang yang tertutup.
"Apa perlu, saya beri mereka pelajaran?" Tanya pak Doni.
Axel menoleh ke belakang lalu menggeleng cepat.
"Tidak perlu!" Sahut Axel.
"Terus gimana, tuan?" Tanya pak Doni lagi.
"Pulanglah!" Sahut Axel dengan kesal.
Pak Doni mengangguk, lalu membukakan pintu mobil dan menutupnya lagi setelah Axel duduk dengan tenang.
"Aku harus mencari tau, dan melaporkannya pada tuan besar." Gumam pak Doni.
__ADS_1