
"Kita telat upacara, gimana nih?" Tanya Bryan sambil menyugarkan rambutnya kebelakang.
"Paling juga kena hukum lagi." Timpal Celvin.
Sementara Axel hanya diam. Ia enggan menimpali kedua sahabatnya.
"Xel, kayanya kita harus bicara serius." Kata Bryan dengan tatapan keluar jendela kelas.
Axel menoleh ke arah Bryan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tumben?"
"Pokoknya ada yang mau gue sampein ke kalian berdua." Ujar Bryan.
"Oke!" Sahut Celvin.
Saat mereka sedang berbincang, tak lama upacara telah selesai. Semua murid kembali masuk ke kelas masing masing.
Axel duduk di kursinya begitu yang lain. Namun tatapannya lurus ke arah Bintang yang baru saja masuk ke kelas.
"Benarkah apa yang di katakan mereka semalam?" Batinnya.
"Axel!"
Gema memanggilnya, tapi Axel terus memperhatikan Bintang hingga Gema kesal lalu menggebrak meja dan membuat Axel berjengkit kaget.
"Hahahhaha!" Teman sekelas mentertawakan Axel yang melamun.
"Diam!" Seru Axel marah.
Seketika semua temannya terdiam. Tidak ada yang berani membuka suara apalagi tertawa saat Axel marah.
"Ngapain lo marah, gue yang manggil lo diem aja. Budek lo!"
Axel berdiri lalu menarik kerah baju Gema.
"Berani lo ngatain gue?'
"Jangan mentang mentang lo tajir!" Tunjuk Gema ke wajah Axel.
"Bisa seenak jidat lo!" Ucapnya lagi.
"Mau lo apa?!" Axel mendorong tubuh Gema hingga menabrak meja di belakangnya.
"Axel ke kantor sekarang juga!" Perintah pak Salim yang baru saja datang dan menyaksikan sikap kasar Axel pada Gema.
__ADS_1
"Cepat!"
Axel menoleh ke arah pak Salim.
"Iya pak!" Sahut Axel.
Axel melangkahkan kakinya mengikuti pak Salim namun tatapan tajam mengarah pada Gema hingga hilang di balik pintu.
Sesampainya di kantor, pak Salim meminta Axel untuk duduk di kursi. Ia mengeluarkan beberapa catatan dari laci meja dan menunjukkannya pada Axel.
"Bapak tau, kamu itu anak yang pintar. Selama bapak jadi wali kelasmu, tidak pernah ada jawaban yang salah. Tapi kenapa, sekarang nilaimu merah semua."
Axel melirik ke arah catatan di atas meja.
"Bagaimana tanggapan orang tuamu nanti, ada apa dengan kamu?"
Axel menarik napas panjang, menatap tajam pak Salim.
"Salah, kalau saya punya nilai jelek?"
"Nggak salah, kalau memang tidak mampu. Tapi itu berlaku untuk anak yang tidak mau belajar. Bapak tidak melihat kamu malas, tapi kamu sengaja. Bukan begitu?" Tanya pak Salim.
Axel masih diam.
"Dad, harus menerima kekuranganku. Bukan menuntutku untuk sempurna seperti yang mereka mau." Tegas Axel, mengakhiri obrolannya dengan pak salim, lalu pamit undur diri tanpa menunggu jawaban pak Salim.
Pak Salim menggelengkan kepalanya.
"Suatu hari nanti, kamu akan menyesal nak." Gumam pak Salim.
Sementara Axel kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran hingga bel berbunyi tanda jam istirahat.
Semua murid berhamburan keluar kelas. Tinggallah Axel, Bryan dan Celvin.
"Gue laper, ke kantin yok!" Ajak Bryan pada dua sahabatnya.
"Xel, cabut yuk!" Celvin menepuk bahu Axel.
Axel berdiri dan mengikuti langkah mereka berdua tanpa berkata apa apa.
Sesampainya di kantin, Axel tersulut emosi melihat Gema mengikuti kemanapun Bintang pergi.
Axel berjalan mendekati Gema dan melayangkan tinju di wajah Gema.
"Buk!"
__ADS_1
"Lo jangan ganggu Bintang!"
Tubuh Gema oleng kesamping dan menabrak meja.
"Brengsek lo, gue peringatin. Lo ga usah ikut campur!" Seru Gema berjalan mendekati Axel.
"Lo yang brengsek, gue bilang berkali kali. Jangan dekati Bintang." Ucap Axel pelan tapi penuh dengan penekanan.
"Kenapa emangnya, lo sudah jadian ma dia?" Tanya Gema bernada sinis.
"Seingat gue, lo cuma maksa karena lo merasa anak pemilik sekolah ini. Segitunya lo peduli sama dia. Atau jangan jangan udah lo pake?' Gema tersenyum miring.
"Brengsek! Jaga mulut lo!!"
Buk
Buk
Axel menghajar wajah Gema hingga tersungkur ke lantai. Semua siswa dan siswi yang ada di kantin menepi dan memperhatikan mereka, termasuk Bryan dan Celvin menatap waspada takut kalau Axel kalah maka mereka ikut turun tangan.
"Hentikan!!" Pekik Bintang.
Namun teriakan Bintang tidak di dengar, Axel terus memukul Gema dan Bintang hanya menatap sedih ke arah mereka.
"Axel!
"Gema!
Teriakan teman temannya yang ada di kantin menyemangati.
Brakk
Tubuh Gema menimpa meja.
Prankk
Barang pecah berjatuhan ke lantai. Pada akhirnya, Axel berhasil melumpuhkan Gema.
"Cuih!"
Axel meludah lalu menyeka keringat di hidungnya. Setelah itu ia beranjak pergi di ikuti Bryan dan Celvin.
Sementara Gema berusaha untuk bangun.
"Aku sudah bilang, jangan ganggu aku. Tapi kamu ngeyel, terus mengikuti kemanapun aku pergi!" Pekik Bintang marah, lalu berlari meninggalkan kantin.
__ADS_1