Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Anu


__ADS_3

Setelah menjemput Bryan. Mereka berdua menemui Celvin di rumahnya, kebetulan papa tiri dan mamanya tidak di rumah. Namun melihat ada luka lebam di wajah Celvin. Axel mengurungkan niatnya untuk berbagi cerita.


"Serius lo nggak apa apa?" Tanya Axel.


"Astaga, lebam kek gini lo masih nanya ga apa apa?" Protes Bryan, bibirnya monyong.


"Dih sewot, gue basa basi kali." Sahut Axel.


Bryan menepuk keningnya, bisa bisanya Axel melucu di saat seperti ini.


"Gue bosen hidup kaya gini, setiap hari gue di maki bokap tiri. Tapi nyokap gue sama sekali tidak pernah membela. Gue selalu dianggap sampah tak berguna." Celvin mengungkapkan semua kekesalan dan rasa kecewanya. Membuat Axel dan Bryan diam membisu.


"Ada ga sih, yang lebih menyakitkan selain ucapan keluarga sendiri?" Ungkapnya lagi.


Axel dan Bryan masih diam membisu.


"Ahkk!" Celvin berteriak membuat Bryan dan Axel terkejut.


"Anjing!" Pekik nya lagi seraya meremas rambutnya sendiri.


"Njir, gue kaget." Ucap Bryan mengusap dadanya.


"Bisa saja gue pergi dari rumah ini, tapi siapa yang jagain nyokap gue?" Keluh Celvin lagi.


Bryan dan Axel tetap diam membisu, mereka mengerti. Celvin hanya butuh di dengarkan tanpa di hakimi.

__ADS_1


"Sory, gue lebay ya?" Tanya Celvin melirik ke arah dua sahabatnya.


Bryan dan Axel menggeleng, keduanya merangkul bahu Celvin dan menenangkannya.


"Eh lo berdua kesini ngapain, tumben." Celvin baru sadar.


"Nggak ada, gue cuma iseng aja. Kali lu dah gak bernapas." Jawab Axel ngasal.


"Gue mati, lo berdua yang pertama gue gentayangin!" Ujar Celvin.


"Lo ngapain?" Tanya Axel melirik ke arah Bryan yang merogoh saku celananya dan mengeluarkan barang.


"Lo tau ini apa?" Tanya Bryan menunjukkan benda kecil lebih mirip balon berwarna putih.


"Alat kontrasepsi milik nyokap gue. Rupanya semalam nyokap gue bawa berondong ke kamarnya.' Jelas Bryan.


"Pfftttt!" Axel dan Celvin menahan tawanya.


"Terus, mau lo apain tu barang?" Tanya Celvin.


"Kagak, gue cuma mau amatin doang. Kata orang kalau mau anu, ni barang di masukin." Jelas Bryan.


"Terus, lo mau anu sama siapa?" Tanya Axel terkekeh.


"Astagfirulloh, gue cuma nanya doang Axel, nanya doaang." Jawab Bryan.

__ADS_1


Axel dan Celvin tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Bryan berubah masam.


"Kek nya nyokap lo, mau buat adek buat lo," sela Celvin.


"Jijay, gue kagak sudi. Hidup nyokap gue masih berantakan kaya anak baru gede." Sanggahnya seraya memasukkan barang itu lagi ke dalam sakunya.


"Jadi gimana, kita anu nih?" Tanya Celvin menampilkan raut wajah polosnya.


"Ogah, gue nggak napsu. Mending main game!" Sahut Axel.


"Anu dong biar seru," kata Celvin lagi.


"Jadi cowok, otak lo mesum! Jangan sampe ya, gue tendang lo sampe ke planet mars!" Pekik Bryan begidik ngeri.


"Goblok, Mesum pikiran lo! Gue ajak lo solat, biar ati kita tenang!" Balas Celvin sambil ngejitak kepala Bryan.


"Astaga!" Bryan tertawa sambil mengusap kepalanya.


"Gue pikir lo nggak pernah solat,' sela Axel.


"Hahahahaha!"


Mereka bertiga tertawa terbahak bahak mentertawakan diri mereka masing masing. Sejenak, Celvin melupakan masalahnya begitu juga dengan Bryan. Saat mereka bertiga berkumpul, semua beban dalam hatinya seakan sirna.


Tanpa Axel sadari, ia mengucap syukur sudah memiliki orang tua yang sangat sayang padanya.

__ADS_1


__ADS_2