
Malam minggu, Axel berniat nongkrong bersama teman temannya di markas. Tapi saat melewati taman kota, ia melihat Bintang tengah duduk sendirian di bangku taman. Terpaksa Axel menepikan motornya dan menghampiri Bintang. Namun langkah Axel terhenti saat melihat gadis itu mengusap air mata di pipinya. Entah apa yang teejadi padanya, malam malam menangis sendirian.
Sementara yang Bintang rasakan.
Ayah...
Sejujurnya aku lelah..
Banyak beban pikiran yang harus kupendam sendirian..
Banyak keluh kesah yang sulit aku ceritakan..
Sejujurnya aku sangat terjatuh dan ingin menyerah..
Aku sudah tidak sanggup berpura pura kuat padahal hati ini sudah sangat hancur lebur..
Ayah...
Ketahuilah, saat ini anakmu sedang tidak baik baik saja..
Hal yang paling menyakitkan, saat merindukan seseorang yang tak bisa di peluk lagi selamanya. Bintang, nama yang indah. Namun tak seindah namanya. Hidupnya tak pernah bercahaya seperti namanya.
Bintang, seorang gadis yang seringkali begadang. Ia jarang makan dan jam tidurnya pun sangat berantakan. Sering menangis sendirian, dan kini hatinya pun sangatlah berantakan. Bintang sangat kelelahan, harus terlihat kuat di hadapan banyak orang.
"Ngapain lo di sini malam malam?"
Bintang menoleh, saat tahu yang menyapa Axel. Ia cuek dan kembali menatap langit.
"Ayo pulang!"
Axel menarik tangan Bintang.
"Apaan sih!" Sahutnya kesal.
"Bisa ga si, sikap kamu ga maksa orang terus?" Tanyanya lagi.
"Pulang!"
__ADS_1
Axel tak perduli penolakan Bintang. Terus memaksanya untuk pulang.
"Nanti!" Bintangpun menepis tangan Axel.
"Ya udahlah serah!" Axel kesal lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Bintang.
"Kenapa si kamu ngambek mulu!" Seru Bintang.
"Aku mau beli seblak!" Sahutnya lagi.
Axel menoleh ke arah Bintang.
"Seblak?'
Bintang mengangguk.
"Ya udah ayo beli, di mana tukang seblaknya sekalian sama penjualnya di beli biar lo ga kelayapan.'
Axel kembali mendekat lalu menarik tangan Bintang.
"Di mana tukang seblaknya?" Tanya Axel memperhatikan sekitar taman.
"Itu!" Tunjuk Bintang ke arah tepi jalan raya.
"Ayo cepat!" Axel menarik tangan Bintang dan berjalan tergesa gesa menuju penjual seblak.
"Dih ngantri.." gumam Axel.
"Ya udah tungguin aja." Kata Bintang sambil memperhatikan orang yang ngantri hendak membeli seblak.
"Punya mata tu di jaga, jangan liatin cowok," Axel mengusap wajah Bintang.
"Apaan, siapa juga yang liatin cowok." Bantah Bintang kesal.
"Halah, alesan!" Gerutu Axel dan sudah tak sabar harus menunggu lama.
"Lo tunggu di sini, jangan kemana mana dan jangan liatin cowok terus!"
__ADS_1
Bintang mendengus kesal.
"Terserah!"
Axel berjalan mendekati mamang penjual seblak.
"Saya duluan pak!"
Axel merebut kotak yang berisi seblak.
"Eh itu pesanan saya!" Teriak seorang pria yang tak terima pesanannya di serobot Axel.
"Diem lo, jangan rese!" Sahut Axel tak perduli kemudian merogoh saku celananya mengambil uang pecahan lima puluh ribu rupiah.
"Ambil kembaliannya!" Katanya lagi.
"Bocah tengil lo!" Teriak pria itu lagi menatap punggung Axel yang ngeloyor begitu saja.
"Nih ambil, sekarang pulang!"
Axel memberikan kantong plastik pada Bintang.
"Kamu bisa ga sih, sikapmu ga kaya gitu?" Tanya Bintang bingung dengan sikap Axel yang selalu memaksa dan suka suka hati.
"Suka suka gue lah!" Sahut Axel lalu menarik tangan Bintang menuju motor miliknya yang terparkir di pinggir taman.
"Ayo naik!"
Bintang menurut saja, dan duduk di atas motor.
"Pegangan yang kuat!" Perintahnya lagi.
Bintang mengangguk lalu melingkarkan tangannya di pinggang Axel.
"Sudah?" Tanya Axel.
"Iya!" Sahut Bintang.
__ADS_1
Axel menghidupkan motornya meninggalkan taman.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Bintang tidak merasakan bahagia atau perasaan apapun. Apalagi terhadap Axel, hatinya masih tertutup untuk pria manapun.