
Perkelahian axel dan gengnya gema.
Sepulang sekolah, sesuai perjanjian di awal. Bryan mengajak kedua sahabatnya untuk berbicara serius di satu taman kota tak jauh dari sekolah.
"Oke, sekarang kita sudah kumpul. Gue mau bicara serius." Bryan memulai percakapan.
Axel dan Celvin mendengarkan dengan serius.
"Gue mau berhenti sekolah."
Axel dan Celvin terkejut mendengar pernyataan Bryan.
"Lo bercanda kan?" Tanya Axel.
Bryan menggeleng cepat.
"Lo cerita, ada apa sebenarnya?" Tanya Axel lagi.
"Gue cuman ngerasa kaya sampah sih, ga guna.' Kata Bryan.
"Gue hidup tapi kaya ga ada artinya. Ibarat kalau gue mati, seluruh dunia ga bakalan kehilangan gue." Ucapnya lagi.
"Lo anggap gue ma Celvin apa?" Tanya Axel tidak setuju dengan pernyataan Bryan.
"Gue tau, cuma lo berdua yang nantinya bakal kehilangan gue. Tapi bukan cuma lo yang gue arepin. Tapi nyokap gue juga." Ujar Bryan.
"Lo ga boleh berenti sekolah!" Axel mencengkram kerah baju Bryan.
"Lo ga ngerti, Xel. Gue tiap hari di hina tetangga, saudara, punya nyokap tak tau diri. Seneng mainan berondong, cerai kawin cerai lagi. Sekarang nyokap gue ga bisa biayain sekolah gue lagi." Ungkap Bryan.
"Kalau ada yang menghina, lo jangan diem. Pokoknya lo harus tetap sekolah!" Axel mendorong tubuh Bryan.
"Gimana biayanya?" Tanya Bryan pada Axel.
"Gue bantu lo, jangan khawatir." Jawab Axel.
Bryan menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Plok
Plok
Plok
"Wow, sekumpulan anak brengsek tengah gabut," sindir Gema.
Axel, Bryan dan Celvin menoleh ke arah sumber suara. Nampak Gema dan gebgnya dari sekolahan lain sengaja datang untuk memberikan perhitungan kepada Axel. Di saat bersamaan, Bintang datang ke lokasi karena ia mendapatkan informasi dari salah satu temannya yang mengatakan kalau Gema akan membalas dendam.
"Bintang?' Sapa Axel menatap penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Aku datang kesini buat ngasih tau kamu kalau Gema mau balas dendam, api ternyata aku datang terlambat." Jelas Bintang.
Axel menoleh ke arah Gema dan kawan kawannya yang membawa balok berukuran sedang.
"Oh, jadi gini. Main keroyokan?" Ucap Axel tersenyum miring.
"Ga usah banyak bacot, lo pikir gue takut. Jangan mentang mentang lo anak sultan." Balas Gema.
"Gue heran sama lo, dikit dikit lo bawa bawa status. Iri lo?!" Axel tertawa terkekeh di ikuti Bryan dan Celvin.
"Gue pikir selama ini lo ironman. Ga taunya **** you man, hahahahaha!" Timpal Celvin menyindir sikap baik Gema yang di tunjukkan di depan teman temannya di sekolah hingga Gema di cap Angel.
"Bacot!" Seru Gema, dan memberikan kode pada teman temannya untuk bersiap siap melawan Axel dan dua sahabatnya.
"Hentikan, kalian tidak boleh berkelahi!" Pekik Bintang.
"Eh tunggu!" Seru salah satu teman Gema yang menjadi ketua geng mereka. Anak laki laki yang bernama Edo menghampiri Bintang dan menelisik wajahnya.
"Kayanya gue kenal ma ni cewek.' Ucapnya lagi.
Axel dan yang lain menoleh ke arah Bintang.
"Setau gue, ni cewek calon bini pemilik perusahaan Golden moon. Laki laki tua yang hobi daun muda," ungkap Edo.
"Jaga bicara kamu ya!" Pekik Bintang.
"Lo keponakan tante Berliana kan, gue tau siapa mereka." Kata Edo lagi.
"Bangsat, lo bilang mau ngejagain dan ngelindungin Bintang dari gue. Nyatanya lo pengkhianat. Anjing!" Axel tersulut emosi saat mereka merendahkan Bintang.
"Anak mami, gigit menggigit dalam suatu hubungan baik persahabatan atau keluarga itu hal biasa. Lo jangan kaget baby, hahahhaa!" Edo semakin membuat Axel marah.
"Lo mati saja membusuk di penjara, anjing!" Hardik Axel.
"Axel, kamu jangan ladenin mereka. Aku bisa jelasin semuanya." Potong Bintang.
"Lo percaya, ucapan cewek murahan kem dia?" Tunjuk Gema ke arah Bintang.
"Tutup mulut lo!" Seru Bintang marah.
"Lo yang ga tau diri, gue dah baik sama lo. Gue lakuin apa saja tapi lo malah sok sok an nolak gue!" Balas Gema.
"Bangsat!" Pekik Axel, maju seraya tangannya mengepal dan meninju wajah Gema.
Buk
"Hajar!" Seru Edo kepada teman temannya.
Bintang mundur ke belakang, ia mencari sesuatu untuk bisa di pakai membantu Axel dan dua temannya. Akhirnya ia menemukan dahan pohon yang berukuran sedang lalu mengambilnya.
__ADS_1
"Rasakan ini!' Pekik Bintang dan mengayunkan dahan tersebut ke arah salah satu temannya Gema.
Perkelahian tak dapat di hindarkan. Axel terbagi perhatian kepada Bintang, membuat ia tidak fokus.
"Bintang awas!" Pekik Axel dan berlari mencoba melindungi tubuh Bintang dari serangan Edo.
Buk
Buk
Buk
Balok yang di ayunkan mengenai kepala Axel hingga menyebabkannya tersungkur dan terus melindungi Bintang dari serangan Edo.
Buk
Buk
Buk
"Mampus!" Seru Edo senang.
Celvin berlari menghampiri Axel dan memukul tengkuk Edo menggunakan sikutnya
Buk
Tubuh Edo ambruk, sebelum bangun di susul tendangan kaki Celvin.
Buk
Buk
Sementara Bryan yang tidak terima Axel di pukuli, ia merebut balok di tangan Gema lalu di ayunkan secara membabi buta.
"Cabuut!" Teriak Gema kepada yang lain.
"Jangan kabur bangsat!" Teriak Bryan berusaha mengejar Gema yang memapah Edo. Namun di cegah Celvin.
"Bryan, tolongin Axel!"
Bryan berlari ke arah Axel yang memeluk Bintang dan membantu mengangkat tubuhnya.
'Axel!" Pekik Bintang melihat darah segar di telapak tangannya.
"Axel, Axel bangun!" Seru Bryan dan Celvin mengguncang tubuh Axel yang tak sadarkan diri.
"Axel banguun..." ucap Bintang seraya terisak.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit!" Usul Bryan.
__ADS_1
Bintang berlari ke tepi jalan raya mencari taksi. Sementara Bryan dan Celvin menggotong tubuh Axel menyusul Bintang. Tak lama taksi datang bersama Bintang. Mereka masuk ke dalam taksi dan membawa Axel ke rumah sakit terdekat.