Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Ketauan membawa obat terlarang


__ADS_3

Sejak kematian Bryan, Axel lebih banyak melamun di sekolahnya. Begitu juga Celvin, seperti ada yang kurang.


Sekolah tersebut, sudah biasa dengan keonaran yang dibuat tiga remaja itu. Tetapi semenjak Bryan meninggal, tidak ada lagi kegaduhan, tidak ada lagi suara teriakan pak Salim memarahi Bryan, Celvin dan Axel. Suasana di sekolah itu kembali tenang.


Gema, salah satu musuh Axel. Selalu memantau dan memanfaatkan situasi. Gema membuat geng dan berusaha untuk menjadi nomer satu di sekolah itu.


Sementara Celvin dan Axel bukan tidak tahu kalau Gema mendirikan geng baru, tapi mereka memilih diam karena masih dalam situasi berkabung.


Suasana kelas menjadi hening, pak Salim menerangkan mata pelajaran tanpa ada gangguan dari Bryan, Axel dan Celvin.


Tiba tiba, dua anggota polisi masuk ke dalam kelas bersama kepala sekolah. Mereka meminta waktu semua murid untuk memeriksa tas masing masing.


"Anak anak, hari ini ada pemeriksaan. Bapak minta, tas kalian masing masing letakkan di atas meja." Ucap pak kepala sekolah.


Suasana tenang di dalam kelas berubah gaduh dan panik. Ada yang santai, ada yang bingung, ada yang khawatir. Satu persatu mereka meletakkan tas di atas meja. Kemudian kedua anggota polisi itu mulai menggeledah satu persatu tas milik semua murid di kelas tersebut.


Tiba giliran tas milik Axel, mereka tidak menemukan apa apa. Namun giliran Celvin, kedua anggota polisi itu menemukan sebungkus kecil obat terlarang.


Celvin terkejut setengah mati, raut wajahnya berubah panik.


"Pak, itu bukan milik saya pak," ucap Celvin.


"Kamu, ikut saya ke kantor." Kata salah satu anggota Polisi.

__ADS_1


"Pak, saya berani sumpah. Itu bukan milik saya!" Pekik Celvin.


"Pak, teman saya tidak mungkin melakukan itu. Saya yakin ada yang menjebaknya." Sela Axel.


Kedua anggota polisi itu menatap wajah Axel dan Celvin.


"Kalian berdua ikut kami!"


Kedua anggota polisi itu, kemudian membawa paksa Axel dan Celvin ke kantor polisi.


"Pak, itu bukan barang saya pak!" Teriak Celvin histeris, namun polisi tersebut menarik kerah baju Celvin dan memasukkannya ke dalam mobil bersama Axel.


***


Selama beberapa jam menunggu, akhirnya Celvin terbukti mengkonsumsi obat obatan dari hasil tes urin. Sementara Axel tidak sama sekali, ia bersih dari tuduhan.


'Pak, bu, tolong di jaga dan di perhatikan putranya. Jangan sampai terjerumus kedalam obat obatan terlarang." Pesan salah satu polisi.


"Terima kasih pak!" Sahut Wisnu.


"Bagaimana dengan Celvin?" Tanya Starla.


"Celvin terpaksa kami tahan, dan di berikan bimbingan. Karena terbukti mengkonsumsi obat dan memiliki obat terlarang di dalam tasnya. Kami akan menyelidiki lebih lanjut." Jelas mereka.

__ADS_1


"Dad, mom, percaya padaku. Celvin tidak bersalah!" Bela Axel meminta orang tuanya untuk membebaskan Celvin.


"Tenang sayang, aku akan berusaha untuk membebaskan Celvin." Janji Wisnu.


Setelah itu, Axel di perbolehkan pulang. Namun, sebelum Axel pulang. Ia menemui Celvin di ruangan lain.


"Gue ga nyangka, lo mengkonsumsi obat obatan," ucap Axel.


"Gue minta maaf, gue terpaksa." Jawab Celvin.


Axel langsung memeluk erat Celvin.


"Lo tenang saja, gue minta dady buat ngebebasin lo."


"Makasih, Xel." Celvin melepas pelukan Axel.


"Lo jangan sia sia-in orang tua yang sudah sayangi lo." Pesan Celvin.


Namun Axel tidak menjawab, ia sebaliknya kesal dengan Starla dan Wisnu. Gara gara peraturan ketat itu, Axel tidak bisa berada di dekat dua sahabatnya di saat saat sulit.


"Gue pulang dulu, besok gue ke sini lagi." Janji Axel


Celvin mengangguk, menatap punggung Axel hingga hilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2