Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Patah hati anak perempuan


__ADS_3

Patah hatinya anak perempuan adalah ketika mengetahui ayahnya selingkuh.


Bu Santi berdiri diambang pintu memperhatikan Bintang tengah menikmati seblak. Kemudian ia mendekatinya saat Bintang selesai makan seblak.


"Nak, setelah lulus SMA, kamu harus kuliah." Kata Santi sambil duduk di kursi menghadap Bintang.


"Aku tidak mau kuliah," jawab Bintang datar.


"Kamu harus kuliah, harus punya pendidikan yang tinggi biar kamu tidak di injak injak orang lain," ucap Santi lagi.


"Bu, aku tidak mau kuliah. Biayanya dari mana, aku tidak mau merepotkan ibu.." jawab Bintang pelan.


"Tapi nak, kamu jangan seperti ibu. Kamu harus tetap kuliah." Santi terus membujuk.


"Aku tidak mau, aku tidak suka. Aku hanya butuh dukungan ibu.." ucap Bintang lirih.


"Bintang, kamu harus nurut apa kata ibu. Kalau kamu sukses, kamu bakalan menemukan kebahagiaan dan cinta." Jelas Santi.


Bintang menatap tajam wajah Santi.


"Dalam sebuah drama, novel, mereka selalu menceritakan bahwa kehidupan dan cinta itu indah, tapi faktanya tidak!"


"Bahkan aku sudah bosan hidup dan tidak akan mencintai pria manapun!" Seru Bintang, air mata mengalir begitu saja di pipinya.


Santi langsung memeluk Bintang. Namun Bintang menepisnya.


"Tidak nak, jangan bicara seperti itu. Hidup tak selamanya buruk, begitu juga dengan cinta." Kata Santi.


"Ayah kamu pasti sedih, kalau tau kamu seperti ini.." katanya lagi.


"Ayah?" Ucap Bintang. "Tidak ada hubungan yang abadi, bahkan hubungan darah pun bisa putus."


"Ayah rela meninggalkan aku dan ibu hanya karena wanita yang lebih cantik dan muda. Padahal baru saja ayah kenal, tapi menjadikan wanita itu bedebah di rumah ini!'


"Bedebah?" Tanya Santi.


"Ibu tahu? Kata bedebah masih terlalu bagus buat wanita itu!"


"Nak..tenang.." pungkas Santi menyentuh bahu bintang. "Bukan seperti itu nak, kau salah paham."

__ADS_1


"Salah paham? Ibu lihat, bedebah itu berkuasa di rumah ini dan menjadikanku layaknya pembantu!" Pekik Bintang marah.


"Siapa yang lo sebut bedebah?"


Bintang dan Santi menoleh ke arah Friska di ambang pintu, lalu berjalan mendekatinya dan menyeret Bintang keluar dari kamar.


"Lepas!" Bintang menepis tangan Friska lalu mengambil tongkat stik yang ada di atas meja.


Tongkat itu ia pukulkan ke guci dan barang barang pecah yang terpajang.


PRANKKK


AAAWWW! Jerit Friska ketakutan


PRANKKK


"Kamu harus tau, diam bukan berarti takut. Diam bukan berati mengalah, diam bukan berarti tidak bisa membalas perbuatan jahatmu dan tante Berliana!" Ucap Bintang marah.


"Dan kamu, sudah melewati batas kesabaranku, dan aku akan membalas semua perbuatanmu!" Ucapnya lagi.


Friska terdiam dengan mulut menganga.


"Kenapa nggak?" Jawab Bintang.


Gue aduin lo ke mama! Ancam Friska.


Aku ga takut!


Lihat saja nanti, lo bakal dapat hukuman!


Setelah bicara seperti itu, Friska beranjak pergi ke kamarnya. Sementara Santi membereskan barang barang yang pecah di lantai.


***


Di kantin.


"Eh lihat, cewek bar bar datang!" Tunjuk Friska pada Bintang yang baru saja datang ke kantin.


"Kalau gue malu lah datang kekantin pake muka fake, sok polos padahal kasar!" Ucapnya lagi.

__ADS_1


"Acting lo, biar di kasihani. Huuu!" Teriak Nala dan Melodi. Sambil melempar makanan ke arah Bintang.


"Stop!" Pekik Gema menghalangi Bintang dari lemparan makanan.


"Ga usah sok paglawan lo, norak!" Sindir Friska pada Gema.


"Ngotak lo kalau bicara, ngaca!" Balas Gema.


"Guys, lempar cewek fake itu jangan sampai ke kantin!" Seru Nala.


"Dah miskin belagu!" Timpal Melody.


Sementara Axel dan dua sahabatnya hanya diam menatap ke arah Bintang dan Gema.


"Bilang aja lo minta di traktir Axel!" Friska semakin menjadi jadi.


"Aku memang miskin, seluruh dunia tahu, aku miskin!" Balas Bintang menatap marah ke arah Friska dan yang lain.


"Aku ga butuh di traktir siapapun, bahkan aku tidak akan mati kelaparan hanya gara gara ga dapat traktiran atau makan di kantin ini. Tapi asal kalian tahu, aku makan di sini bukan uang dari orang tua seperti kalian. Tapi hasil kerja kerasku!" Pungkas Bintang.


Axel berdiri seraya menendang kursi yang ia duduki dan menghampiri Friska dan yang lain.


"Bacot kalian semua!"


"Axel, kenapa si lo ga bisa liat gue sebentar saja?" Tanya Friska. "Lo selalu belain bintang, Bintang terus!"


"Lo mau tau, karena dia berbeda. Ga kaya lo!"


Bintang terdiam mendengar kata kata Axel.


"Sok tau lo, gue tau siapa Bintang. Axel!!" Jerit Friska melihat Axel berlalu begitu saja tanpa mendegarkannya terlebih dahulu.


"Lo harus berubah, kali Fris." Bisik Nala.


"Berubah?" Tanya Friska.


"Ya, jadi cewek yang di inginkan Axel." Timpal Melody.


"Gue harus coba," jawabnya.

__ADS_1


Nala dan Melody mengangguk dan menyemangati sahabatnya.


__ADS_2