
Axel dan dua sahabatnya masih menggunakan seragam sekolah hanya di lapisi jaket hitam baru saja keluar dari belakang sekolah. Suara derum motor dan klakson bergema sepanjang jalan, memperkeruh suasana. Kehadiran mereka menambah kemacetan di jalan yang memang sudah macet.
Axel dan dua sahabatnya duduk di sepeda motor masing masing dan menghidupinya. Tepat di depan Bintang, Axel menarik tangannya dan meminta untuk duduk di atas motor.
"Ayo naik!"
"Gak!" Tolak Bintang.
Bagi Axel, tidak ada kata penolakan. Apapun yang ia minta semua harus di turuti. Axel mematikan motornya lalu menggendong Bintang.
"Aku bilang, nggak!"
Axel tak perduli meski Bintang menolak. Setelah memastikan Bintang duduk dengan teman. Axel duduk di motor lalu menghidupkannya.
"Pegangan yang kuat," perintahnya.
Namun Bintang tak mau mengikuti perintahnya. Axel menoleh sekilas dan tersenyum, lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Bryan dan Celvin berbeda arah menuju markas dan menunggu Axel di sana.
"Axel!" Teriak Bintang lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Axel.
Sepanjang jalan, Bintang berteriak meminta Axel untuk tidak ngebut, tapi Axel tak perduli.
Sementara friska yang melihat Axel membonceng Bintang.
"Kenapa selalu Bintang!" Pekiknya kesal.
"Sabar Fris," ucap Nala.
"Sabar lo bilang, saat semua yang gue mau tapi dia yang dapatkan!"
Nala dan Melody terdiam dan saling pandang.
"Gue ga boleh nyerah, apapun gue lakuin buat dapetin Axel." Ucap Friska lagi.
"lo jangan cuma diam saja, gerak cepat dong!" Melody menyemangati.
"Diaaaam!" pekik Friska. "Bantuin dong!"
Nala dan Melody mengangguj cepat sambil tertawa terkekeh.
"Siap tuan putri!
***
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu gerbang rumah. Bintang turun dari atas motor, rambutnya berantakan dan sedikit pusing. Axel tertawa melihat raut wajah Bintang yang cemberut.
"Lain kali, jangan paksa aku lagi!" Setelah bicara seperti itu, Bintang memasuki gerbang halaman rumah.
Axel kembali menghidupkan motornya. Tiba tiba Axel menepikan motornya dan membuka kaca helmnya , memperhatikan mobil yang baru saja melintas di depannya.
"Bukankah itu mobil, Dad?" Tanyanya dalam hati.
Axel kembali melajukan motornya mengikuti mobil yang di duga milik dady nya.
Tepat di depan sebuah hotel, mobil tersebut terparkir. Dari jarak jauh, Axel melihat dady nya keluar dari dalam mobil bersama seorang wanita yang tak lain adalah Santi.
"Nggak mungkin..." ucapnya pelan.
"Ah sial, kenapa aku harus mencurigai Dady?" Gumamnya.
Axel memutar arah motornya, melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di tempat tongkronga. Axek menepikan motornya dan masuk ke dalam markas. Bryan dan Celvin terkejut, tiba tiba Axel melempar helmnya ke lantai.
"Gue nggak tau, gue hidup buat apa. Ga ada impian ataupun cita cita. Eksistendi gue ya gitu aja, ga ada maknanya, ga ada tujuannya." Keluh Axel.
"Xel, lo baik baik aja kan?" Tanya Bryan merangkul bahu Axel.
Bryan dan Celvin saling pandang, mereka tidak mengerti apa yang terjadi dengan Axel.
"Gue sumpek!"
Bryan dan Celvin masih diam dan belum paham. Sampai salah satu teman geng motor datang dan membawa minuman beralkohol.
"Obat sumpek, lo mau?" Tawarnya pada Bryan dan Celvin.
Axel melirik ke arah botol minuman yang di pegang salah satu geng motor. Lalu merebut dan membuka botol minuman itu. Axel menghabiskan minuman hanya dengan sekali tenggak.
Bryan dan Celvin menatap tak percaya. Awalnya mereka ragu, namun detik berikutnya Bryan merebut botol minuman di tangan Axel lalu melemparkannya ke lantai.
"Axel!" Seru Bryan.
"Plak!" Satu tamparan keras mendarat di pipi Axel.
"Lo boleh nangis, lo boleh lemah, lobeh ancur jatuh dan terpuruk. Tapi satu yang ga boleh, lu nyerah!" Ucap Bryan menyadarkan Axel.
Bryan mencengkram kerah baju Axel kuat kuat.
"Xel, sebangsat bangsatnya lo sebagai anak. Jangan sakiti perasaan nyokap bokap lo dengan cara seperti ini." Tegur Bryan.
__ADS_1
"Lo cerita, ada apa?" Sela Celvin.
Axel hanya diam menyeka mulutnya lalu menepis tangan Bryan.
"Axel! Mau kemana!" Ser Celvin melihat Axel beranjak pergi dari markas.
Bryan dan Celvin berlari keluar markas. Melihat Axel sudah melajukan motornya, mereka berdua pun memutuskan untuk mengikuti Axel dari belakang. Mereka khawatir terjadi apa apa di jalan karena Axek setengah mabuk.
Tak lama kemudian, Celvin dan Bryan dapat bernapas lega. Axel sampai di rumah dengan selamat. Kemudian mereka kembali ke markas dan tidak ingin membuat kekacauan di rumah Axel.
Axel pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Axel tidak terkejut atau takut saat pulang ke rumah karena pengaruh alkohol, ternyata orang tuanya sudah pulang ke rumah.
"Kau mabuk?" Tanya Starla.
"Sejak kapan kau mengkonsumsi alkohol?" Tanya Wisnu.
"Aku sudah gede, dad. Aku sudah 18 tahun. Bukan anak kecil lagi yang segalanya harus di atur!"
"Axel, begini caramu bicara!" Tegur Starla.
"Momi bentak aku?"
"Kamu kenapa nak, kenapa kamu mabuk mabukan?" Tanya Starla.
Axel diam membisu dan memilih pergi dari hadapan mereka dari pada harus berdebat.
"Axel!" Panggil Wisnu.
"Axel!" Wisnu menarik tangan Axel mundur ke belakang.
"Axel, aku minta maaf. Aku benar benar minta maaf." Ucapnya.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya menyayangimu dengan cara yang kamu mau. Aku tidak tahu caranya, jika kamu menginginkan kebebasan. Baik, aku tidak akan melarang apapun."
Axel menarik napas panjang, menatap tajam wajah Wisnu. Bukan kata kata itu yang ingin Axel dengar, tapi sebuah pengakuan kalau papanya sudah selingkuh dari momy nya.
"Axel?"
Axel menggelengkan kepala pelan dengan tatapan kecewa. Setelah itu ia beranjak pergi dari hadapan Wisnu.
"Ada apa dengan Axel?" Tanya Starla.
"Aku juga tidak tahu.." jawab Wisnu.
"Apakah aku melakukan kesalahan, mengapa Axel berubah. Apa yang tidak, kita ketahui?" tanya Wisnu bingung.
__ADS_1