Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Saling mengancam


__ADS_3

Ke-esokan paginya di sekolah. Axel dan Bryan menunggu Celvin di gerbang sekolah. Namun sampai pintu gerbang di tutup, Celvin tak kunjung datang.


"Tumben si Celvin ga masuk sekolah," ucap Bryan menoleh ke arah Axel.


Axel mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


"Lo sudah hubungi Celvin?" Tanya Bryan.


"Nggak aktif dari semalam." Kata Axel.


"Perasaan gue ga enak, gimana kalau kita samperin ke rumahnya?" Usul Axel.


"Gue setuju, cabut yuk!"


Bryan dan Axel meminta pak Juki untuk membuka pintu gerbangnya. Pak Juki tak membantah permintaan Axel, ia takut di pecat dan memilih membiarkan Axel dan Bryan meninggalkan sekolah.


Saat Bryan membukakan pintu mobil, Axel diam mematung menatap ke arah sekolah. Ia melihat Bintang dan Gema sedang berjalan bersama menuju ruang guru.


"Cih!" Axel membuang mukanya lalu masuk ke dalam mobil.


"Lo cemburu?" Tanya Bryan.


"Dih!" Sahut Axel.


Bryan tertawa terkekeh melihat raut wajah Axel berubah cemberut.


"Dah cepetan jalankan mobilny." Perintah Axel.

__ADS_1


"Siap bos!" Sahut Bryan lalu melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.


Sesampainya di depan rumah Celvin. Bryan memarkir mobilnya lalu mereka berdua keluar dari dalam mobil dan melangkah bersama menuju rumah Celvin.


Saat Bryan hendak menekan tombol bel rumah. Dari dalam, seseorang membuka pintu lebar lebar.


Bryan langsung menyapa Sinta yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan curiga.


"Pagi tante!"


"Kalian tidak sekolah?" Tanya Sinta.


"Sekolah tante, tapi kami mau menjemput Celvin." Kata Bryan.


"Kalian pasti Bryan dan Axel, bukan?" Tanya Sinta lagi.


"Benar tante!" Sahut Bryan, sedangkan Axel hanya diam saja.


"Anak saya bandel gara gara kalian." Tuduh Sinta. "Kalian membawa pengaruh buruk buat anakku."


"Apa maksud tante?" Axel yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara.


"Lupakan, sebaiknya kalian pergi sekolah." Sinta mundur ke belakang hendak menutup pintu.


Namun Bryan dan Axel menahan pintu karena mendengar suara panggilan Celvin dari dalam rumah.


Aksi dorong pintu pun terjadi. Bryan dan Axel tetap memaksa masuk ke dalam rumah hingga akhirnya Sinta menyerah.

__ADS_1


"Mau apa kalian!" Tunjuk Ramdan ke arah Axel dan Bryan. Sementara di belakang Ramdan, terlihat Celvin seperti sedang menahan rasa sakit.


"Pergi kalian atau aku laporkan ke polisi!" Ancam Ramdan.


Axel mendengus geram menatap Ramdan lalu mendekatinya.


"Lo mau lapor, silahkan. Gue nggak takut." Tantang Axel.


"Pantas saja Celvin jadi anak pembakang, ternyata kalian anak anak brengsek tidak tahu etika!" Seru Ramdan.


"Minggir lo!" Axel mendorong bahu Ramdan lalu membantu Celvin berdiri tegap.


"Hey, kalian jangan macam macam!" Ramdan menarik kerah baju Axel dan mengepalkan tinju. Namun Bryan menangkap tangan Ramdan sebelum menghajar wajah Axel.


"Lo gak pantas di sebut ayah," ucap Bryan tersenyum sinis.


Ramdan mengatupkan rahangnya menahan amarah.


"Pless bawa gue pergi..." pinta Celvin pelan.


"Ingat baik baik, om. Kami bisa saja melaporkanmu pada Polisi, tamat riwayat lo, om." Ancam Bryan.


Ramdan memcoba untuk tenang, dan membiarkan mereka membawa Celvin keluar dari rumahnya. Sementara Sinta mencoba untuk mencegah Bryan dan Bryan untuk membawa Celvin.


"Tante urus suamimu, jangan sampai kami bertindak nekat!" Tunjuk Axel, kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan rumah Celvin menuju rumah sakit.


"Gue kagak salah milih sahabat, makasih ya." Kata Celvin.

__ADS_1


"Lebay lo, ngapain juga terima kasih." Sungut Bryan.


Sementara Axel sibuk menyetir dan fokus ke depan. Pikirannya sibuk membandingkan hidupnya dan Celvin. Apakah ia harus bersyukur karena memiliki orang tua yang menyayanginya dan selalu memanjakan. Meski ia bosan dan risih dengan setiap aturan orang tuanya.


__ADS_2