Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Peringatan


__ADS_3

Setelah kejadian tempo hari. Siang ini Starla sengaja menjemput Axel ke sekolahnya. Ia tidak ingin terjadi apa apa lagi terhadap putranya.


Setelah menemui kepala sekolah dan menceritakan apa yang terjadi kepada Axel. Akhirnya kepala sekolah memanggil Gema, bryan, Celvin dan Bintang ke ruang guru untuk di sidang.


"Gema, kami memutuskan. Kamu di nyatakan bersalah telah memukul salah satu murid di sekolah ini." Kata pak kepala sekolah.


"Dia yang mulai duluan pak, kenapa dia ga ikut di hukum, apa karena dia anak pemilik sekolah ini?" Sindir Gema.


"Diam kamu!" Bentak pak kepala sekolah.


"Cukup!" Sela Starla.


"Jika putraku memang melakukan kesalahan, sesuai peraturan sekolah. Maka putraku tetap harus menjalani hukuman." Ucap Starla lagi.


"Maafkan saya bu.." ujar kepala sekolah merasa tidak enak hati.


"Anda harus bersikap adil. Meski putraku, anak pemilik sekolah ini. Jangan sampai ada pengecualian." Jelas Starla tegas.


"Baik bu!"


"Momy...? Ucap Axel pelan, menatap ke arah Starla.


"Kamu juga diam.." jawab Starla.


"Silahkan di lanjut pak."


Pak Kepala Sekolah mengangguk dan memberikan peringat terakhir untuk Gema dan Axel. Jika mereka melakukan kesalahan atau berbuat onar lagi. Maka pihak sekolah akan mengeluarkan mereka.


Setelah selesai, Bryan dan yang lain keluar dari ruangan guru. Tinggallah Starla dan Guru yang lain di dalam ruangan.


Sementara itu, Bintang sedang berjalan menuju kelas untuk mengambil tasnya. Tiba tiba Friska dan dua temannya menghadang Bintang.


"Sok cantik, sok polos, lo sadar ga sih. Gara gara lo, Gema ataupun Axel bisa di keluarin dari sekolah?" Tegur Friska.

__ADS_1


"Ga dirumah, ga di sekolah. Hobi banget kamu ngerecokin hidup aku?" Balas Bintang kesal.


Friska tersenyum sinis dan menunjuk wajah Bintang.


"Jangan kecentilan lo, Axel punya gue. Lo dekil, nggak cocok sama Axel," hinanya.


"Siapapun yang membuat putraku bahagia, datanglah. Jangan di sakiti, sebab menyakiti putraku sama saja menyakitiku."


Friska, Bintang dan yang lain menoleh ke arah Starla yang sudah berdiri di belakang mereka dan mendengarkan percakapan antara Bintang dan Friska.


"Tante!" Seru Friska mendekati Starla seolah olah sudah kenal dekat.


"Friska, putrinya Berliana?"


Friska mengangguk sambil tersenyum sumringah.


"Lalu Bintang, siapanya kamu?" Tanya Starla menatap tajam ke arah Bintang.


Starla menatap Bintang dengan kedua alis bertaut penuh tanda tanya.


"Wajahmu mengingatkanku pada sahabatku, Hana."


"Sudahlah tante, dia ga penting." Sela Friska lalu mengajak Starla berbincang dengan sikap yang manja.


Sementara Bintang memilih menjauh dari mereka dengan hati yang dongkol atas ucapan Friska.


"Heh, kenapa lo nangis?" Sapa Axel menarik tangannya mundur kebelakang.


"Siapa juga yang nangis, aku kelilipan!" Sahut Bingang seraya mengucek kedua matanya.


"Lo bohong, gue tau. Pesek lo, kalau bohong." Kata Axel menekan hidung Bintang dengan jarinya.


"Aku sudah pesek dari lahir, kenapa? Ga suka?" Balas Bintang menepis tangan Axel.

__ADS_1


Axel tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Biar kata pesek, aku tetap suka." Jawab Axel.


"Modus!" Bintang mencibir rayuan Axel, lalu berlari meninggalkannya.


"Dih, malah lari. Dasar cewek!" Gerutu Axel.


Tanpa ia sadari, Starla sudah sejak dari tadi memperhatikan mereka berdua.


Axel balik badan dan terkejut melihat ibunya.


"Momy?"


"Kita pulang sayang." Ajak Starla.


"Tapi mom?"


Starla menggelengkan kepalanya.


"Pulang."


Axel mendesah kecewa, lalu berjalan mendekati Starla.


"Ya udah, ayo pulang.."


Starla mengangguk, dan menuntun tangan Axel. Melangkah bersama meninggalkan sekolah.


Dari jauh, Bryan dan Celvin memperhatikan kedekatan Starla dan Axel.


"Andai gue punya ibu, kaya tante Starla." Gumam Celvin di sambut anggukan Bryan.


"Sama. Ayo kita cabut!"

__ADS_1


__ADS_2