
Di ujung koridor sekolah, Friska menatap tajam ke arah Bintang yang tengah berjalan mendekat.
"Heh, lo tau kan, gue tunangannya Axel?" Ucap Friska mencegat Bintang.
"Aku tahu Fris, tapi itu cuma kata tante Berliana. Axel tidak mengatakan kalau kamu tunangannya. Apa kamu kurang jelas?"
"Berani sekali lo bicara kek gitu ke gue?' Friska mencengkram tangan Bintang.
"Ada apa ini?"
Friska dan Bintang menoleh ke arah Axel.
"Lo tau kan? Orang tua kita sudah menjodohkan lo sama gue?" Ucap Friska nyolot.
"Lo ngimpi kali," jawab Axel.
"Lo lebih milih dia dari pada gue? Cewek kaya-?"
"Kaya apa?" Potong Bintang.
"Friska, kamu ga usah ngancam dan ngehina terus terusan. Aku ga akan tinggal diam." Selesai bicara seperti itu, Bintang berlalu dari hadapan mereka.
"Axel, gue harus ngelakuin apa supaya lo sayang ke gue." Ucal Friska.
"Lo inget baik baik, jangan terlalu sayang. Nanti sakit," pungkas Axel seraya tersenyum sinis dan beranjak pergi.
"AXEL!! Teriak Friska memanggil Axel.
Namun Axel menggubrisnya, ia terus melangkah memasuki kelasnya.
Di kelas.
Axel duduk di kursi sambil memainkan ponselnya bersama Bryan dan Celvin.
"Kamu tau ga, kamu itu norak!"
Axel mengangkat wajahnya menatap bintang yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Ribet banget jadi cewek."
"Stop memaksaku untuk melakukan apa yang kamu mau." Ungkap Bintang.
"Terus lo mau apa, Putus? Ga bisa!"
"Aku selama ini diam karena aku benci berdebat, tapi hati ga bisa di tebak. Aku pernah bertahan dan di kecewakan."
Setelah bicara seperti itu, Bintang balik badan dan melangkahkan kakinya.
"Gue ngerti rasanya di buang!" Seru Axel.
Bintang balik badan, menatap ke arah Axel.
"Itu sebabnya kamu jadi pemilih dan berbuat sesuka hati!" Sahut Bintang.
Axel menarik napas dalam, baru kali ini menghadapi cewek sekeras Bintang.
"Gila keren, Bintang berani ngatain lo." Kata Bryan.
Axel berjalan mendekati Bintang dan mencengkram tangannya kuat.
"Diam lo!" Bentak Axel.
"Lo punya trauma, itu urusan lo. Yang gue tau, lo pacar gue sekarang, paham!"
"Kamu cinta sama aku?" Bintang tersenyum sinis. "Ga, kamu nggak cinta."
Setelah bicara seperti itu, Bintang menghempaskan tangan Axel dan berlari keluar dari kelas.
"Liat saja nanti, lo ga akan bisa lepas dari gue. Bintang." Gumam Axel.
Bryan dan Celvin termangu dan saling pandang. Antara percaya dan tidak, mereka melihat Axel yang sekarang bukanlah Axel yang dulu.
"Lo percaya cinta?" Tanya Bryan pada Celvin.
Celvin menggeleng cepat.
__ADS_1
"Gue ga percaya cinta, cinta itu bulshit!"
"Cabut yuk!" Axel bergegas keluar dari kelas di ikuti Bryan dan Celvin.
***
Siang ini cuaca sangat terik. Axel dan dua sahabatnya baru saja keluar dari pintu gerbang sekolah. Tiba tiba mamanya Bryan memanggil dan menjemputnya pulang.
Bryan tidak dapat menolak, akhirnya ia pulang ikut dengan mamanya. Sementara Celvin dan Axel pergi latihan basket.
Sesampainya di rumah.
Mamanya Bryan mengungkapkan niatnya untuk menjual rumah peninggalkan almarhum papa nya Bryan.
"Rumah ini ga akan di jual, mama dengar tidak!" Seru Bryan.
"Bryan, rumah ini atas nama mama. Dan mama akan menjual rumah ini. Kau harus tinggal di rumah baru bersama papa barumu." Jelas Claudia.
"Rumah ini satu satunya tempat di mana aku pernah ngerasain punya keluarga, peninggalan papa!" Jawab Bryan nyolot.
"Terserah, tapi mama tetap akan jual rumah ini." Kata Claudia.
"Tapi aku tidak mau tinggal sama mama yang selalu gonta ganti laki laki dan membuat papa tiada!" Sahut Bryan.
"Yang menyebabkan papamu tiada bukan mama, tapi kamu!" Claudia tak kalah nyolot pada Bryan.
"Ingat, kita semua pernah kacau. Sekarang saatnya kita menata ulang." Ucapnya lagi.
"Masa depanku sudah hancur sejak mama sibuk gonta ganti laki laki!"
"Kalau kamu tidak mau nurut keluar dari rumah ini!" Usir Claudia.
"Kebetulan aku tidak punya alasan untuk tetap tinggal di rumah ini, aku pergi dari rumah ini sekarang juga."
"Keluar!" Bentak Claudia.
Bryan berlari ke kamarnya dan mengemasi pakaian. Sementara Claudia hanya bisa menangis melihat putranya tidak mau menurut padanya lagi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bryan keluar dengan membawa tas ransel di punggungnya. Tanpa berkata apa apa lagi, Bryan meninggalkan rumah lalu menghubungi Axel lewat pesan singkat.
Axel jemput gue, malam ini gue butuh tumpangan menginap.