
Bunyi bel berdering tanda pelajaran telah usai. Friska merentangkan kedua tangannya dan mulai membereskan buku bukunya ke dalam tas. Nala dan Melody saling pandang dan memasang raut wajah bingung melihat perubahan sikap Friska.
Sementara Bintang bergegas keluar dari kelas dengan terburu buru, karena ia harus bekerja setelah pulang sekolah. Di ikuti Gema yang selalu mengikuti langkah Bintang untuk memastikannya baik baik saja.
Sementara Axel mulai gerah dengan sikap Gema yang selalu memberikan perhatian lebih untuk Bintang. Di sisi lain, Friska terus berusaha keras mengambil simpati Axel.
Bryan dan Celvin yang selalu nampak ceria dan tak sepi dengan prilakunya yang selalu membuat onar di kelas. Tanpa Axel sadari, mereka berdua sedang mengalami tekanan mental.
Bryan menyikut lengan Celvin. Menunjuk ke arah Axel menggunakan dagunya.
"Axel sedang jatuh cinta." Kata Celvin datar.
Bryan mengangguk.
"Lo benar, mungkin kita harus memberikannya ruang dan waktu buat mendekati Bintang?" Usul Bryan.
Celvin mengangguk.
"Gue cabut ya, ada urusan yang harus gue kerjakan di rumah. Lo tau kan, kalau gue bantah. Imbasnya mama gue yang kena maki."
"Gue ga masalah, yang penting lo baik baik saja." Timpal Bryan khawatir.
"Lo tenang aja, gue gak bakalan mati cuma gara gara di pukulin bokap tiri gue." Sahut Celvin sembari melangkahkam kakinya keluar dari kelas.
Bryan menghela napas panjang, diam sesaat lalu beranjak pergi keluar dari kelas.
Langkahnya terhenti saat melihat punggung Friska bergetar.
"Bisa nangis juga ni cewek." Batin Bryan.
__ADS_1
"Bisa nangis lo?" Tanya Bryan mengejutkan Friska. Buru buru gadis itu menyeka pipinya yang basah lalu balik badan menghadap Bryan.
Bryan memperhatikan sekitar halaman. Tatapannya tertuju pada Axel yang tengah membujuk Bintang supaya mau naik ke motornya.
"Oh itu.." ucap Bryan tersenyum miring.
"Diem lo!" Kata Friska lalu melangkahkan kakinya. Namun Bryan menahan tangan Friska.
"Kalau lo ga mau sakit hati, buang jauh jauh perasaan lo." Ucap Bryan. "Gue rasa lo salah mencintai orang."
Friska menoleh ke arah Bryan.
"Cinta ga pernah salah. Yang salah cinta datang bukan di waktu yang tepat." Ujar Friska seraya menepis tangan Bryan.
"Gue ga bakal nyerah, apapun akan gue lakuin buat dapetin Axel." Setelah bicara seperti itu, Friska berlalu dari tempat itu.
Bryan tersenyum sinis dengan raut wajah julidnya.
Bryan melangkahkan kakinya menuju area parkiran. Lalu duduk di atas motor dan menghidupkannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, pikiran Bryan mengembara jauh ke masa lalu. Andai orang tuanya masih lengkap, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Namun takdir berkata lain, papanya lebih dulu meninggalkannya karena sebuah kecelakaan.
Bryan merasa tidak memiliki tujuan dan masa depan. Hidupnya selalu sepi dan merindukan sebuah kehangatan keluarga.
Tak terasa, ia telah sampai di rumah kakeknya. Saat turun dari atas motor, ia melihat Claudia sudah berdiri di teras rumah kakeknya.
"Mama?" Sapa Bryan.
Claudia menundukkan kepalanya sesaat.
__ADS_1
"Mama mau jemput kamu pulang." Kata Claudia.
"Aku tidak mau." Tolak Bryan tanpa basa basi.
"Mama sudah cerai, ternyata dia sudah selingkuh dan hanya menginginkan hartaku saja." Ungkap Claudia.
Bryan tersenyum miring.
"Cerai, baguslah!" Sahutnya.
"Tapi mama sudah dapat yang baru dan mau menikah lagi." Jelas Claudia.
"Astaga ma, istigfar ma!" Pekik Bryan.
"Mau sampai kapan mama kaya gini, cerai nikah, cerai lagi nikah lagi. Aku capek ma, capek!"
"Kamu pikir mama ga capek? Nyari yang tulus itu susah," dengan entengnya Claudia menjawab tanpa memikirkan perasaan putranya.
"Tapi ga kaya gini juga ma!" Pekik Bryan kecewa.
"Aku malu ma, malu.." Bryan melangkahkan kakinya dan duduk dengan lesu di kursi.
"Harusnya mama intropeksi diri. Apa yang salah pada diri mama, bukannya kawin cerai terus!"
"Mama tidak minta kamu ceramah, kamu mau ikut mama pulang atau jangan pulang sekalian!" Bentak Claudia sambil menggebrak meja.
"Ga, aku tidak mau pulang!" Pekik Bryan.
"Oke, jangan salahin mama dan jangan bilang kalau mama tidak merawatmu!"
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu, Claudia bsranjak pergi dari hadapan Bryan.
"Ya Rabb, kenapa aku harus terlahir dari rahim mama Claudia..." keluh Bryan, bulir bening menetes di pipinya.