Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
SMA 2


__ADS_3

Hari hari telah berlalu begitu cepat sehingga tanpa sadar 4 bulan arin menjadi siswa SMA.


Pagi itu semua siswa sudah masuk kelas, tinggal menunggu guru pengajar. Derap langkah kaki mengarah ke kelas, Bu Eni masuk dengan setumpuk buku paket.


" Assalamualaikum ... selamat pagi semua." Sapa lembut Bu Eni kepada semua siswa.


"Waalaikumsalam, pagi Bu .... " Jawab serentak semua murid...


" Ar, tolong kamu pergi ke TU, pak Samsul ada perlu sama kamu." Pinta Bu Eni kepada ku.


Hanya dengan anggukan, dan lantas arin langsung pergi keluar menuju TU.


" Pasti gara gara belum bayar uang gedung sama seragam ...." Gerutu Arin dalam hati.


Dengan langkah berat, akhirnya tiba di depan ruang TU.


" He Arin ... kenapa diam di situ? masuklah, sini duduk." Kata Pak Samsul ke Arin. dengan langkah pelan Arin pun duduk di depan kursi Pak Samsul.


" Maaf Pak ... ada apa bapak manggil saya ke sini?" tanya Arin pada Pak Samsul dengan nada cemas.

__ADS_1


" Bapak cuma ingin memberikan ini pada kamu, tolong nanti kamu kasih kan ke nenek, agar beliau segera melunasi, dan di situ juga ada rincian administrasi yang belum di lunasi sama nenek kamu...dan tolong segera lunasi sebelum ujian semester." Tutur Pak Samsul, sambil menyerahkan sebuah amplop putih kepada Arin.


Di terima nya amplop putih itu, kemudian ia pun minta undur diri, kepada Pak Samsul.


" Bagaimana cara Mak bayar semua ini. Sedangkan Mak gak mijet beberapa hari ini. Apalagi sebanyak ini 1.650.000." Gumam Arin dalam hati,sambil menggigit bibir bawahnya.


Mak atau nenek Arin hanya seorang tukang pijat urut, nenek nya bisa menyembuhkan berbagai penyakit,tapi tentunya hanya dengan se ijin Allah. Setiap harinya banyak pasien yang datang dengan berbagai masalah penyakit mereka. Tapi beda dengan beberapa hari terakhir gak ada orang yang pijet, karena nenek Arin sedang sakit.


Sesampainya di dalam kelas Arin lebih banyak melamun, memikirkan bagaimana cara melunasi administrasi tersebut.


" Kalau minta bapak gak mungkin,karena keadaan bapak lebih susah dari Aku sama nenek. Tapi membebankan sama nenek pun ... kasian ..Ya Allah ... tunjukkan jalan Mu." Suara hati Arin.


" Iya iya bawel." Jawab Arin dengan mengembangkan senyumannya kepada sahabat karibnya tu.


Lonceng pulang pun berbunyi.Semua siswa pun langsung berkemas.


" Anak anak jangan lupa besok ulangan ya, selamat siang." Kata Bu guru sambil melangkah keluar kelas.


Arin dan Tanti pun berjalan keluar sekolah,

__ADS_1


dan setibanya di depan gerbang sekolah


" Rin... kamu mau jalan atau naik ojek?" tanya Tanti sambil memegangi tangan Arin.


" Aku mau jalan aja." Jawab Arin singkat,tapi tetap dengan senyum.


" Ya udah kalau gitu aku mau naik ojek aja, kaki pegel kalau ikut jalan setiap hari sama kamu. Apa kamu barengan aku aja biar gak capek???" tanya Tanti dengan wajah mengharap.


" Gak usah biar aku jalan aja nanti sore kita ketemu lagi!" Jawab Arin pada Tanti.


Tanti mengamati wajah sahabat itu, sambil meletakkan salah satu tangannya di dagu? seperti orang dengan penuh tanda tanya.


" Kamu kenapa liatin aku kayak gitu? da pergi sana, tu ojek da ada di depan kamu!" seru Arin pada Tanti sambil menunjuk salah satu ojek langgananya.


Akhirnya Tanti pun pergi. Arin terus berjalan menyusuri jalan yang ramai, karena banyak siswa yang masih berdiri di pinggir jalan dengan aktivitas mereka masing-masing,


jalan yang di lewati Arin setiap harinya antara sekolah dan rumah, ia harus melewati terminal, pasar, dan baru jalan kampung yang juga gak begitu sepi, masih banyak kendaraan yang melintas. Sepanjang perjalanan dia selalu kepikiran mengenai biaya administrasi sekolah. Tak terasa sudah hampir dekat dengan rumah,mungkin tinggal 10 langkah. Arin terhenti.


" Banyak sepeda motor di depan rumah, berarti banyak tamu, low tapi kan nenek masih gak enak badan." Gumam nya dalam hati.

__ADS_1


# *M**aaf ya para readers.... saya pendatang* baru... mohon dukungannya, dan jangan segan memberikan kritik dan sarannya. ... terima kasih.


__ADS_2