Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Ruangan


__ADS_3

" Ibu kalau mau nangis, nangis lah jangan di pendam nanti Ibu sakit." Kata Bapak.


" Gimana Arin sekarang ya pak? Apakah dia sudah makan? Apa kah dia betah di sana?" Tanya Ibu dan keluar lah air bening dari kelopak mata itu.


" Arin pasti baik baik saja, kita doakan saja." Jawab bapak singkat.


____________


Di PT.


Waktu sudah menunjukkan Maghrib,setelah semua melakukan kewajiban, mereka kembali pada tempat masing masing.


"Kruuukk kruuuk." Suara perut Arin.


Mia yang ta sengaja mendengar pun langsung mendekati Arin.


" Kamu lapar ya?" tanya Mia.


Arin hanya tersenyum kepada Mia.


" Sabar makan malam jam 7, jadi tunggu sebentar lagi." Kata Mia.


" Emang kamu gak makan siang tadi?" tanya Mia lagi.


Spontan Arin menggelengkan kepala. Mia kemudian turun dari tempat tidur Arin, mengambil mari Roma yang ia punya.


" Nie makan ini saja dulu, lumayan bisa buat ganjel perut..." memberi 5 keping Roma.


Di terima nya dengan senyum.


" Terima kasih Mia kamu baik banget sama aku." Ucap Arin.


" Sama sama." Balas Mia.


" Mia kamu sudah lama di sini?" tanya Arin.


" Aku?" menunjuk diri.


Arin mengangguk.


"Aku sudah 1 bulan di sini, tapi belum juga berangkat."Jawab Mia.


" Aku apa akan lama juga ya??" gumam Arin.


" Rejeki dan takdir kita nggak tau Rin ada yang lama dan ada yang cuma beberapa minggu saja... langsung terbang. Kamu tau gak Mira itu denger denger yang paling lama lo di sini."


" Emang berapa lama?" tanya Arin penasaran.


" 8 bulan lebih hampir 9 bulan," jelas Mia.


" Ya Allah kasian ya, pantesan dia tadi waktu aku tanya kenapa gak ikut kelas, dia menjawab tapi mukanya sangat sedih." Arin.


" Padahal Mira itu orangnya baik lo rajin dan pinter semua bahasa, ya pada mulanya dia cuma mendalami Bahasa Inggris saja, tapi lama lama bosan ia pun belajar Mandarin dan juga kantonis, tapi sejak aku masuk sini dia sudah jarang ikut kelas Hongkong ataupun Taiwan," cerita Mia.


Tapi tanpa mereka sadari tiba tiba Mira nongol.


" Hai lagi ngomongin aku ya..." langsung ikut duduk di kasur Arin.


" Iya ketauan deh..." jawab Mia dengan wajah di buat imut tanda minta maaf.


" Kebiasaan."

__ADS_1


" Pletakk," menjentik dahi Mia.


" Sakit tau..!" Mia cemberut.


" Maka dari itu jangan kebiasaan ngomongin orang..." kesal Mira.


Kini Mira melihat ke Arin.


" Rin aku boleh tanya nggak sama kamu?" Mira.


" Ya boleh." Arin.


" Berapa usiamu?" tanya Mira.


" Iya Rin berapa usiamu? kita janji gak bakalan ngomong sama yang lain?" kata Mia dengan nada berbisik.


" Aku bilang jujur gak ya? tapi tadi Mira berpesan ' jangan percaya pada siapapun' tapi ini kan Mira sendiri yang tanya, jujur apa bohong ya?" gumam Arin dalam hati.


" Rin... hello." Mira yang mencoba menyadarkan Arin dari lamunan.


" Iy a ap pa ?" tanya Arin terbata bata, karena kaget.


" Kamu ini kenapa Rin...? jangan banyak ngelamun low kalau di sini, nanti kerasukan lo," lanjut Mia.


" Kami tadi tanya umur kamu berapa Rin?" kini Mira yang mengulangi pertanyaannya.


" 23 "


" Bohong." Mira.


" Iya 23"


" Gak percaya ya sudah itu hak kalian," jawab Arin santai menutupi rasa gugupnya.


" Kamu tau gak Rin aku umur berapa?" tanya Mia.


" Mana aku tahu, aku bukan orang tua kamu dan juga bukan keluarga mu..!" jawab Arin.


" 18 tahun..." jawab Mira santai.


" Ih salah tau..! yang benar tu 20 tahun, kalau kamu Mir umur berapa?" kata Mia.


"' 22" jawab Mira.


" Ih tua amat sih," kata Mia.


" Tua an juga Arin, iya kan Rin?" kini Mira yang bertanya.


" Betul tu kata Mira, lebih tua aku setahun" jawab Arin.


' padahal usia sebenarnya jauh lebih muda dari kalian ' batin Arin.


Mira mengajak Mia dan Arin pergi ambil makan. Tempat dapur di PT itu ada di belakang jadi agak lumayan jalannya... Arin hanya mengikuti langkah mereka.


" Rin setelah makan nanti aku akan ajak kamu keliling, seperti janji ku tadi sore.


Dapur.


Dan di sisi sampingnya ruang makan.


" Lo kok sepi gak ada orang?" Tanya Arin yang penasaran.

__ADS_1



" Semua sudah pada makan, Rin tinggal kita aja," jawab Mia.


" Oh gitu." Mengikuti Mira yang mengambil makanan yang sudah di siapkan untuk setiap TKW, mereka semua di beri makan dengan adil dan sama. Meskipun mereka makan terlambat, tapi jatah untuk mereka tidak akan ada yang mengambil, karena itu salah satu aturan yang wajib di patuhi.


" Ini untuk kamu." Mira memberi paket makan yang sama pada Arin.


" Yuk kita makan di situ." Ajak Mia. ( menunjuk tempat yang ta jauh dari mereka.)


Arin memperhatikan makanan yang ada di hadapannya itu, nasi semangkok kecil, tempe goreng, oseng kecambah dan juga sambal. Suapan pertama membuat Arin terdiam


' Hambar ' itu lah yang di rasakan oleh Arin. Tanpa terasa air mata nya jatuh dan itu di sadari Mia dan Mira yang memang sedari tadi memperhatikan Arin, Kejadian itu sudah mereka duga sebelumnya. Maka dari itu Mira dan Mia sengaja makan terlambat sedikit, agar yang lain tidak mengetahui. Mira membelai punggung Arin, meskipun ta bersuara, tapi Arin mengerti jika teman barunya itu berusaha memberi semangat.


" Jangan sedih Rin, kita dulu juga kayak kamu, pertama masuk sini dan merasakan masakan di sini membuat ingatan kita pada keluarga semakin kuat, tapi aku mohon sama kamu untuk tetap makan agar kamu gak sampai jatuh sakit, untuk pertama kalinya itu memang sulit, tapi kita harus terbiasa dengan ini. Aku yakin kamu pasti bisa." Mia memberi nasehat.


" Itu betul Rin, Aku dulu juga seperti kamu. Pertama makan di sini aku tidak bisa menelan makanan itu, dan ingatan pada keluarga langsung melintas di depan ku dan pada akhirnya air mata ini tidak bisa di bendung lagi. Tapi sekarang lihatlah aku yang malah jadi maskot di sini." Kata Mira yang sedikit bisa membuat Arin bersemangat lagi.


Akhirnya mereka bertiga menyelesaikan makan malam mereka. Setelah selesai membersihkan tempat makan masing masing... mereka pun keluar dapur dan tidak lupa menutup pintunya.


Ayo sekarang kita jalan mengelilingi tempat ini. Mereka bertiga mulai menyusuri PT.


Dengan semangat Mira menjelaskan satu persatu kepada Arin.


" Ini Aula, kalau kita sedang ada tamu dari luar negeri maka kita akan di kumpulkan menjadi satu di sini."


" Dan ini adalah ruang praktek untuk kelas Hongkong."


" Ini ruang praktek untuk Taiwan."


" Dan yang ini ruang praktek untuk Singapore, Brunai dan Malaysia."


" Kenapa yang lain ruang praktek nya terpisah sedangkan untuk 3 negara' ini harus menjadi satu?" tanya Arin yang penasaran.


" Karena 3 negara ini menggunakan bahasa yang sama yaitu Melayu dan Bahasa Inggris, dan tempat ini lebih besar 2 kali lipat dari 2 ruang praktek tersebut." Ucap Mia yang bantu menerangkan pada Arin.


" Ayo kita lanjut lagi." Ajak Mira.


Mereka bertiga pun berjalan lagi, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, namun mereka cuek.


" Ok ini adalah ruangan para guru yang mengajar, di buat senyaman mungkin, karena setiap harinya akan ada 5 guru piket yang di wajibkan tidur di sini, sesuai kelas yang mereka ajar."


" Ini kelas Hongkong, dan sebelah nya lagi itu kelas Taiwan."


Berjalan lagi


" Ini kelas Singapura, Malaysia, dan juga Brunai."


Berjalan lagi


" Dan ini ruang olahraga, biasanya sih buat senam, sebelahnya itu adalah tempat penyimpanan peralatan yang digunakan untuk piket setiap hari nya, dan tentunya kantor dan ruang foto tadi kan kamu sudah tau!


Ok... aku sudah menepati janji ku, sekarang kita segera kembali ke kamar saja karena ini sudah malam." Lanjut Mira.


" Terima kasih Mia, Mira untuk hari ini yang banyak menuntunkundan mengajariku." Ucap Arin sebelum melanjutkan kembali langkahnya.


Mereka bertiga pun berjalan menuju kamar.


'sungguh melelahkan ' batin Arin yang merebahkan tubuhnya.


# *M**ohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like,komen dan share ... di tunggu ya jangan lupa...🙏🙏😘*

__ADS_1


__ADS_2