Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Kebersamaan


__ADS_3

Dengan telaten Ibu menerangkan dan membantu Arin mengemasi beberapa barang yang akan di bawa. Ibu merasa sedikit bahagia melihat senyum yang ada di wajah putrinya tersebut, walaupun ada secuil rasa sedih akan di tinggal pergi.


------------


" Ibu apakah ada lagi yang perlu di bawa," tanya Arin serius.


Ibu mendekati dan mengecek barang yang ada di dalam tas Ransel Arin.


Dengan mengamati dan mengecek lagi.


" Seperti nya semua sudah oh ya jangan lupa nanti beli pembalut." Ibu berusaha mengingat kan.


Karena biasanya awal di rumah majikan akan sulit untuk membeli pembalut, karena setiap majikan berbeda beda karakter, ada yang baik, ada yang bawel, ada pula yang tidak punya rasa kasih sayang, alias kejam.. hahahaha itu adalah realita hidup jadi seorang TKW betul gakkk.


Malam harinya.


" Ibu aku pergi ke mini market dulu ya, beli yang tadi( pembalut )" ijin Arin.


" Iya hati hati cepat pulang jangan kemalaman," pesan Ibu.


" Siap bos," kata Ana.


Mereka pun akhirnya pergi.


Setiba di mini market, segera ia mengambil pembalut yang besar , berisikan 50 lembar pembalut.


" Mungkin ini cukup untuk 6 bulan." Batin Arin ( meletakkan di dalam keranjang ).


Ana yang melihat pembalut itu membulatkan matanya.


" Apa gak salah tu?" bertanya dalam hati.


Lalu pergi menghampiri kakaknya hendak menegur.


" Apa gak kebesaran ni Mbak?" tanya Ana dan mengambil pembalut itu dengan niat menukar yang lebih kecil lagi.


" Hhheeei, itu da bener lah" mengambil kembali pembalut yang sudah ada di rak.


" Terserah deh." Ana berlalu cuek.


Setelah di rasa sudah cukup, mereka pun lanjut pergi kasir dan pulang.


Di rumah.


"Pak, besok kan Arin pergi ke PT, apa Bapak punya simpanan uang buat di berikan pada Arin? di sana nanti ia sangat membutuhkan," tanya Ibu.


" Bapak punya uang 150 ribu saja Bu..." mengeluarkan uang dalam saku celananya.


" Ini Ibu kasih kan pada Arin ya?" mengambil uang itu dari Bapak.

__ADS_1


Bapak hanya mengangguk.


Beberapa menit kemudian


Arin dan Ana sampai ruma, dan tidak lupa salam dulu sebelum memasuki rumah.


" Bu... Bu... Bu... Ibu." Teriak Ana yang mencari keberadaan sang Ibu.


" Apa sih An..." tanya Ibu tiba tiba yang muncul dari balik pintu kamar, kesal dengan Ana yang teriak teriak.


" Nggak papa cuma ngetes doang!" kata Ana dengan muka nyebelin.


Semua orang rumah berkumpul di ruang tamu, bercanda tawa saling jail satu sama lain.


Waktu da hampir tengah malam, namun mereka masih belum mengakhiri.


" Rin, mulai besok kamu sudah gak tinggal lagi bersama keluarga, di PT berbagai macam jenis sifat orang, kamu harus pandai pandai dalam menilai dan memilih teman.


Kalau gak salah PT yang akan kamu tempati itu mempunyai calon TKW kurang lebih 300 orang. Jadi kamu bisa bayangkan gimana nanti di sana. Tapi Bapak mohon sama kamu tetap lah pada pendirian mu jangan mudah goyah, karena kebanyakan dari mereka hanya ingin saling menjatuhkan agar mereka yang terpilih untuk terbang dulu. Serahkan semua pada Allah," nasehat Bapak panjang lebar.


Itu di lakukan karena tidak ingin melihat anaknya drop.


Arin mendengarkan dengan seksama, memahami setiap kata.


" Dan ingat Rin simpan lah dengan betul uang mu dan barang penting lainnya, kalau bisa kamu masukkan pada tas ransel mu lalu kamu gembok( memberi gembok mini pada Arin ) jangan sampai kamu lupa membawa kunci kemanapun kamu pergi." Perintah Ibu.


'" Dan ini buat kamu di sana, cuma sedikit terima lah." Ibu memberikan uang saku buat Arin.


" Terima kasih, maaf Arin hanya bisa merepotkan kalian, Arin mohon doanya selalu dari kalian, terutama darimu Bu." Ucap Arin dan memohon.


" Tanpa kamu minta pun Ibu akan selalu doakan kamu dan Ana.


Semoga kamu dapat majikan yang baik bisa menerima mu apa adanya tanpa membeda bedakan status." Doa Ibu dengan membelai rambut Arin.


Ana yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dan mendengarkan setiap apa yang di katakan oleh Bapak dan Ibu, entah apa yang ada dalam pikiran nya, tidak ada yang bisa menebak karena wajah datarnya.


" Ya udah sekarang sudah malam lebih baik kamu segera istirahat!" perintah Bapak.


" Iya pak..." jawab Arin sambil menarik tangan Ana mengajaknya tidur.


Di dalam kamar mereka berdua tidak juga terlelap, menatap langit langit rumah, mereka diam dan asik dengan pikiran masing masing, padahal sudah hampir 30 menit setelah mereka masuk kamar.


" Apa yang membuat kamu gak tidur?" tanya Arin yang kini posisinya menghadap Ana.


Ana dengan posisi awal.


" Mbak sendiri kenapa gak tidur?" Ana tanya balik.


" Entahlah aku sendiri juga nggak tau kenapa mata ini tidak ingin terpejam," jawab Arin, sambil membalikkan posisinya seperti awal.

__ADS_1


" Aku takut, pagi segera datang!" kata Ana tiba tiba.


" Kenapa harus takut?" tanya Arin dengan penasaran.


" Kerana Mbak pergi nya kan pagi," desis Ana lirih dan sedikit lesu.


" Kamu sedih?"


" Nggak."


" Trus...?"


Ana diam gak menjawab.


" Lebih baik kita tidur yuk, aku lelah..." kata Arin yang mulai memejamkan mata.


Ana melirik Arin dia pun langsung membalikkan badannya menghadap Arin, di perhatikan setiap inci wajah Arin, entah apa yang ada dalam kepalanya, setelah puas memandangi, akhirnya Ana pun terlelap, hingga menemui Arin dalam alam mimpi.


Pagi harinya di kediaman keluarga Prapto.


Semua orang berada di meja makan untuk sarapan.


" Pa, jadi hari ini Arin pergi?" tanya istri Pak Prapto.


" Iya ma..nanti jam 9"


" Apa papa yakin Arin bisa pa? soalnya anak itu masih di bawah umur lo pa, apakah nanti nggak menjadi masalah buat papa?" keluh Bu Sari.


" Arin itu beda ma dengan anak yang seusia Arin, papa kalau seandainya punya anak seperti dia pasti papa bangga ma..." kata pak Prapto sedikit menyindir kedua anak manjanya.


Kedua anak itu pun menghentikan aktivitas makannya, memandang sang papa. Papa yang merasa di perhatikan pun memandang mereka balik..


" Ada apa? kok berhenti makannya? apa papa salah ngomong ya?" pura pura tidak bersalah.


" Apa papa tidak pernah bangga punya anak seperti kami?" tanya si bungsu dengan wajah cemberut.


" Loh siapa bilang papa gak bangga sama kalian..hmm? papa sangat bangga punya anak yang pinter dan rajin seperti kalian."


Menghentikan ucapannya sejenak dan melihat ekspresi wajah kedua anak itu berubah dari cemberut ke wajah yang sombong dan angkuh, kemudian Pak Prapto melanjutkan lagi kata katanya.


" Pinter habisin uang , pinter bohong dan rajin bangun siang, rajin buang makanan dan gak suka membantu mama, dan gak pernah mau bersyukur. Itulah kehebatan anak papa yang patut papa banggakan..." kata pak Prapto sambil menghabiskan sisa makanannya.


Kedua anak itu pun mulai sadar dengan kesalahan yang selama ini mereka lakukan. Wajah yang mulai malu itu pun saling pandang satu sama lain. Mama mereka yang sejak tadi melihat dan mendengar pun hanya bisa meng ' Iya ' semua yang di katakan oleh suaminya, karena semua itu benar adanya.


" Mama Papa... kami minta maaf.. kami salalu membuat kalian kecewa... kami akan berusaha menjadi anak yang baik." Kata si Sulung dan si Bungsu hanya mengangguk kan kepala tanda menyetujui apa yang di katakan oleh si Sulung.


" Terima kasih untuk kalian sayang." Kata pak Prapto dengan senyum bahagia.


# *M**ohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku, jangan lupa like dan komen 🙏😘🙏*

__ADS_1


__ADS_2