Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Arin pingsan


__ADS_3

" Ooh berarti kamu mau di tempat yang tertutup ya, gimana kalau di ruangan ku saja." Goda Roni yang tau kini Arin merasa malu. Mereka kini sudah berada di sudut ruangan hingga mereka yang di luar pun tak bisa lagi melihat Arin dan Roni.


_____________________


" Rin... maaf kan aku. Aku hanya ingin bersamamu, menghabiskan waktu dengan mu, aku bisa gila kalau tidak melihatmu. Aku gak tau apa yang terjadi pada diriku. Tapi yang aku tahu ... aku tenang bisa dekat dengan mu."


Arin hanya menatap kesal sama Roni. Dan akhirnya Arin menendang bagian bawah Roni.


"Aaarrrghhh...." Jerit Roni.


Arin pun langsung lari keluar, tak menghiraukan banyak pasang mata yang melihatnya.


"Bbbrruuuuk...." Karena lari dengan tergesa-gesa membuat Arin membentur tiang. Akhirnya Arin pun tak sadarkan diri. Beberapa orang langsung mengerumuni Arin. Ketika tiga orang mau mengangkat Arin, mereka di hentikan oleh Roni.


" Biarkan aku saja...!" ucap Roni, yang berada di belakang kerumunan itu. Mereka semua pun langsung memberi jalan untuk Roni. Dia pun langsung menggendong Arin ala princess... bukannya di bawa ke klinik, Roni malah membawa Arin ke kamar yang ada di ruangan direktur. Semua orang yang melihat pun jadi heboh, bagaimana tidak sang idola mereka, telah memuja gadis yang biasa biasa saja menurut mereka.


Roni meletakkan Arin dengan pelannya ... dan tak lupa meminta dokter untuk segera datang.


" Kenapa dengan Arin?" Mira nyelonong masuk ke dalam.


" Ya ampun kenapa bisa kayak gini sih? kamu apakan Arin hhhaahh?" bentak Mira yang emosi melihat dahi arin memar dan hidungnya berdarah.


Roni bukannya menjawab malah dia terdiam syok melihat Arin yang tergulai lemas, dengan darah di hidung ta berhenti keluar.


" Maaf Rin... Maaf ini salah ku." Sesal Roni.


" Gara gara aku kamu jadi kayak gini... maaf." Tambah Roni.


Mira yang sedang membersihkan darah yang kering di sekitar hidung Arin, hanya tersenyum sinis ke Roni. Ta selang berapa lama dokter pun datang, langsung memeriksa keadaan Arin.


" Aku sudah peringatkan kamu, jangan dekati Arin. Tapi kenapa kamu masih gak mendengarkan aku Haah!" bentak Arin yang mencengkram baju Roni dan dengan tatapan tajamnya.


" Lepaskan tanganmu Mira..!!!"


" Kalau nggak kamu mau apa?"


" Jangan sampai aku kasar sama kamu Mir."


" Aku akan lepaskan kamu, asal kamu jangan dekati Arin. Mengerti kamu!!"


" Ok, aku janji."


Mira pun langsung melepaskan Roni. Bukannya Roni tidak mampu melawan Mira. Namun ia tidak mau di katakan banci karena mukul cewek. Dokter pun keluar kamar.

__ADS_1


" Gimana teman saya dok?" tanya Mira yang langsung nyamperin dokter.


" Ia dok bagaimana keadaan dia?"


" Alhamdulillah mbaknya gak apa apa, cuma memar saja, dan ini resepnya."


" Terus kenapa sampai sekarang dia belum sadar dok?" tanya Roni.


" Itu hal biasa pak. Sebentar lagi juga akan segera sadar. Bapak tenang saja."


Roni menyuruh stafnya untuk segera menebus obat itu. Sedangkan Mira dan Mia menemani Arin di kamar itu. Sekarang Roni sudah tidak bisa berkutik lagi, dia hanya bisa memandangi Arin dari jauh. Dia tidak mau bertindak gegabah lagi.


Sudah hampir 1 jam Arin ta sadarkan diri, itu semakin membuat Roni semakin khawatir. Begitu pula dengan Mira dan Mia, dan para staf yang ada di situ.


" Haloo dok, ini kenapa Arin belum sadar juga?"


" Tunggu satu jam lagi, seandainya belum sadar juga nanti langsung bawa ke rumah sakit."


" Ok terima kasih."


" Maaf kak Roni, kata dokter kalau dalam satu jam dia belum sadar maka harus di bawa ke rumah sakit." Kata staf yang barusan telfon dokter.


Mira dan Mia ijin untuk keluar dulu, dan itu kesempatan untuk Roni mendekati Arin.


" Maaf kan aku Arin, ini semua memang salah ku." Batin Roni.


Tiba tiba ada gerakan dari tangan Arin, dan itu di rasakan oleh Roni, dengan segera Roni lari keluar karena dia tidak mau jika Arin emosi lagi.


" Aaarrghhh." Keluh Arin yang merasakan sakit di kepalanya, ketika hendak bangun.


Ingin rasanya Roni membantu Arin, tapi niat itu dia urungkan dan Roni hanya bisa melihat di layar cctv. " Panggil Mira dan Mia untuk datang membantu Arin.!" Perintah Roni pada salah satu staf nya.


" Iya kak, segera."


" Mir... cepatlah datang sini, Arin sudah sadar."


" Benarkah...?" " Aku akan cepat ke sana sama Mia. Terima kasih infonya."


" Ok sama sama."


Mira dan Mia pun langsung pergi ke tempat Arin, dan ketika melewati meja Roni. Mira menatap tajam Roni dan itu membuat Roni semakin merasa bersalah. Di ruangan itu ada Mbak. Yun, staf yang di suruh untuk menemani Arin.


" Rin, gimana keadaan mu sekarang? mana yang kamu rasakan sakit?" tanya Mia.

__ADS_1


" Alhamdulillah aku baik baik aja kok, gak usah khawatir. Ok!" jawab Arin pelan yang masih merasakan lemas.


" Sebenarnya apa yang terjadi Rin?" tanya Mira.


" Aku gak mungkin bicara yang sebenarnya sama Mira, dia hanya akan semakin benci sama Roni."Gumam Arin dalam hati.


" Aku saja yang salah karena gak liat jalan, jadi akhirnya aku ke bentur." Bohong Arin.


" Kamu jangan bohong Arin!"


" Aku gak bohong Mir, itu lah yang terjadi sebenarnya.'


" Tapi kenapa mereka bilang ini gara gara Roni yang mengejar kamu." Ucap Mira.


" Mereka gak tau yang sebenarnya, sudah jangan kamu salah Roni. Kasian dia yang harus berantem terus sama kamu gara gara aku."


" Tapi benar ya kamu gak bohongi aku. Kalau memang benar dia yang membuat kamu kayak gini. Aku bikin bergedel dia, aku cincang halus dulu biar mudah buatnya!"


" Sadis amat kamu Mir." " Cowok ganteng kayak Roni mau buat bergedel, bisa banyak anak gadis yang bunuh diri Mir." Gerutu Mia.


" Bodoh amat !" jawab Mira ketus.


Terus mereka bertiga pergi dari kamar itu, Arin yang masih sedikit pusing di papah oleh Mira dan Mia. Roni menghindari mereka, dengan pergi.


Di kamar Singapure.


Banyak sebagian teman teman sekamar Arin, yang mencemaskan keadaan Arin. Mereka semua sebenarnya tau apa yang terjadi, tapi mereka lebih memilih diam karena mereka takut. Arin yang belum sembuh pun akhirnya dia tidur di tempat Mia dan Mia tidur di tempat Arin.


" Gimana tadi bikin paspornya? lancarkan?" tanya Arin pada Mia.


" Alhamdulillah lancar, dan mungkin 1 minggu lagi kami akan berangkat. Aku harap kamu segera menyusul kami." Jawab Mia.


" Aamiin." Mira dan Arin serempak.


" Istirahat lah dulu. Kami disini menemani mu." Kata Mira.


Di ruang Roni.


" Bagaimana mungkin kamu masih menutupi kesalahan ku di depan Mira, padahal engkau tau bahwa ini semua salahku. Aku semakin mengagumimu." Gumam Roni yang masih melihat rekaman cctv di kamar direktur tadi.


Tok tok tok


" Permisi Kak Ron."

__ADS_1


#Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏😘🙏 dan juga vote dan favoritkan ya 🙏😘😘🌹


__ADS_2