Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Ruang direktur.


__ADS_3

Maaf ya para readers, karena lama gak up. Dan terima kasih 🙏 karena masih setia dengan kisah Arin. Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT.


_____________


" Kamu tetap di sini Rin!" perintah Mira yang masih menatap tajam Roni.


Roni semakin geram di buatnya, diapun langsung berlalu pergi dengan emosi yang meluap.


Arin, Mira tak menghiraukan hal itu, beda dengan Mia yang sejak awal terkesima dengan Roni. Mia mengejar Roni, tapi sayang Roni terlalu cepat berjalan hingga Mia tidak bisa menyamai. Dan akhirnya kehilangan jejak Roni.


Semua orang sedang sibuk mengikuti lomba. Mereka yang pada awalnya tidak begitu tertarik, sekarang mereka sangat antusias mengikuti karena iming iming dari Roni tadi.


Lomba masak pun ramai yang mengikuti.



Juri menentukan untuk bergilir, yaitu 5 peserta di setiap group.



Lomba kekompakan pun ramai yang mengikuti. Lihatlah mereka yang semangat menggoyangkan tubuh. Ini sebuah hal yang sangat menghibur.



Dan ini para Ibu ibu tapi memiliki jiwa muda, semangat mengikuti lomba Voli.


" Semangat semangat go go go." sorak semua teman yang sedang menyaksikan.


Di rumah Arin.

__ADS_1


Pak Prapto datang berkunjung ke rumah Arin, bersama istrinya. Kedua orang tua Arin pun menyambutnya dengan ramah. Kedatangan Pak Prapto ke rumah Arin, tak lain hanya ingin menyampaikan kabar Arin. Pak Prapto sangat paham, jika saat ini orang tua Arin, pasti menghawatirkan keadaan Arin di sana yang belum ada kabar.


" Jangan khawatir Pak, Bu, di sana Arin baik baik saja. Dia pun sekarang sudah mendapatkan teman akrab, jadi di sana dia tidak akan merasa kesepian." Ucap Pak Prapto.


" Syukurlah Pak kalau begitu, saya dan keluarga menjadi tenang, terutama Ibunya." Jawab Bapak Arin.


Ibu dan Ana yang mendengar pun turut ikut senang. Mereka pun terus berbincang hingga menjelang Maghrib.


" Maaf ya Bu, Pak, sudah mau Maghrib kami pamit undur diri dulu. Lain kali saya akan main kesini lagi." Pamit istri Pak Prapto.


" Saya berterima kasih sekali atas bantuan Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda." Ucap Ibu Arin.


" Sama sama Bu... jangan sungkan begitu, saya permisi dulu." Seru Bu Prapto.


Mereka pun akhirnya pergi, di sana tinggallah mereka bertiga.


" Ibu berharap yang di katakan oleh pak Prapto, itu semua benar."


" Bukan ragu, tapi bimbang. Ibu tau mbak pasti mudah mendapatkan teman ... tidaklah sulit untuk dia berbaur dengan lingkungan baru. Tapi ... entahlah! perasaan Ibu tidak enak. Semoga saja mbak di sana akan di beri kemudahan, dalam meraih impiannya." Ungkap Ibu, dengan wajah cemas.


Tapi tak ada yang tau, apa yang sebenarnya wanita yang sudah tak lagi muda itu rasakan. Bapak dan Ana pun hanya diam mendengar Ibu berbicara.


" Mbak ... semoga Allah mempermudah langkahmu dalam menggapai impian. Aamiin" batin Ana berdoa.


Di PT.


Adzan Maghrib berkumandang, semua kegiatan sudah di hentikan sejak tiga puluh menit yang lalu. Semua yang beragama Islam sedang melaksanakan sholat jama'ah di masjid yang ada di dalam PT tersebut. Imam yang melantunkan ayat-ayat Alquran itu sangat khusyuk, hingga jama'ah pun ikut khusyuk dalam beribadah.


Selesai sholat jama'ah mereka tidak langsung membubarkan diri, mereka mendengarkan tausiyah terlebih dahulu.

__ADS_1


Arin, Mira dan Mia pun segera kembali ke kamar setelah selesai tausiyahnya.


" Eh Rin tunggu dulu!" Mira menarik tangan Arin yang melangkah ke dalam kamar.


" Ada apa?" tanya Arin yang berdiri di samping Mira, depan pintu kamar.


Mira menunjukkan daftar piket baru yang terpasang di pintu. Sebenarnya jadwal baru yang di pasang itu tak beda jauh dengan yang lama. Namun nama Arin yang mencolok di jadwal yang sekarang.


Mira merasa ada yang aneh, sebab dia tau betul, jadwal yang sebelumnya baru saja di ganti semenjak hari pertama Arin masuk. Itu baru 3 hari yang lalu, sedangkan biasanya jadwal akan di ganti lagi setelah ada TKW yang terbang ataupun ada TKW baru. Tapi dalam 3 hari ini belum ada yang terbang ataupun ada yang baru.


" Emang kenapa dengan jadwalnya Mir?" tanya Arin yang belum membacanya.


" Lihatlah mulai besok kamu akan membersihkan kantor, terutama ruang direktur." Jelas Mira sambil menunjuk jadwal.


Arin yang penasaran langsung membaca. Dan buat Arin itu biasa biasa saja, dimana pun dia di piket kan, tak ada pengaruh buat dia. Arin pun langsung mengajak Mira masuk untuk istirahat. Tapi tiba tiba Arin dan Mira tersadar sesuatu.


" Ruang direktur dimana?" tanya mereka bersamaan. Mereka berdua mengerutkan kening.


" Sejak aku di sini aku tidak pernah tau di mana ruang direktur. Tapi sekarang tiba tiba ada?!! kok seperti ada yang aneh."


" Tapi sudahlah Mir, gak usah di pikirkan. Mungkin ruangan itu memang ada, tapi kamu saja yay nggak tau. Yuk kita tidur, malem Mira, malam Mia." Ucap Arin dan terus naik ke ranjangnya.


" Malam juga Arin." Jawab Mia.


" Malam Rin." Jawab Mira.


Di satu sisi Mira masih kepikiran ruang direktur." Apa mungkin ruangan yang di dalam kantor itu? tapi setau aku ruangan itu gak pernah di gunakan. Trus kenapa sekarang tiba tiba ... Ahh terserahlah. Orang kaya memang bebas." Batin Mira.


Mira pun akhirnya terlelap, mengejar Mia dan Arin ke alam mimpi.

__ADS_1


# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku, jangan lupa like, komen, vote, dan favoritkan ya. Ditunggu lo, salam sayang buat kalian. 😘🌹💋


__ADS_2