
Arin sedikit kaget mendengar rayuan Roni hanya bisa melengos membuang muka.
" Ayo Rin ikuti aku, lama lama di sini kamu bisa ikut stress kayak dia," kata Mira dengan menarik satu tangan Arin.
______________
Arin mengikuti langkah Mira dan juga berusaha menghafal setiap jalan yang ia lalui.
" Gila besar banget tempat ini, nyasar baru tau," gumam Arin... tapi masih bisa di dengar oleh Mira.
" Jangan heran Rin, nanti aku akan ajak kamu mengelilingi tempat ini setelah jam kantor tutup."
" Apa nggak di marah nanti?? sedangkan tadi kan aku baca tidak boleh keluar dari tempat yang sudah di tentukan." Bingung Arin.
" Maksudnya keluar PT." Kata Mira. Arin hanya mengangguk tanda mengerti.
" Setelah jam kantor semua boleh saling membaur dengan teman yang lain disini kita sudah seperti saudara, cuma ya gitu harus pandai pandai dalam memilih teman. Ok kita sampai." Berhenti di depan sebuah ruangan lumayan besar, yang di atas pintunya tertulis kan ' Singapore '.
Di dalam ruangan itu terdapat ranjang tidur susun yang berbaris rapi mungkin sekitar ada 30 ranjang, di kali dengan susunan nya 60 kasur.
Tapi sepi... tidak ada penghuni.
" Rin di sini loker mu, tas mu bisa kamu letakkan di sini atau mungkin jika kamu punya gembok ya kamu gembok saja, kita tidak bisa percaya pada semua orang dan ranjang no 27 itu adalah ranjang mu sama dengan nomer loker." Terang Mira, Arin hanya mengangguk.
" Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" kata Mira yang melihat wajah Arin penuh dengan kebingungan.
" Disini kok gak ada orang nya kak?" tanya Arin.
Setelah selesai memasukkan tas ke loker.
" Mereka semua ada di kelas, setiap hari kita ada 2 kelas, tapi bergantian , dibagi 2 kelompok. 1 kelompok ikut kelas Bahasa dan 1 kelompok lagi itu kelas Praktek." Mira yang menjelaskan pada Arin.
" Oo berarti kayak sekolah ya kak," kata Arin.
" Jangan panggil aku kakak, panggil nama aja,'' kata Mira.
" Ok, kamu sendiri emang gak ada kelas ya?" tanya Arin.
Setelah sadar bahwa dari tadi Mira bersama nya.
Mira ketawa kecil.
" Kalau Aku terserah Rin, gak ada yang memaksaku untuk ikut kelas," jawab Mira.
" Lo la emang kenapa?" tanya Arin penasaran.
" Karena aku calon TKW terlama di sini gak terbang terbang."
" Menyedihkan diriku ini iya kan rin," lanjut Mira dengan muka yang sedih dan mulai tertunduk menutupi air mata nya dari Arin.
__ADS_1
Arin mendekat dan memegang pundak Mira.
" Yang sabar ya." Kata Arin yang mencoba memberi semangat, Arin pun merasakan sedih juga.
Seketika suasana menjadi sepi karena mereka berdua terdiam dengan pikiran masing masing.
Tepat pukul 4 sore.
tet
tet
tet
Bel berbunyi, tanda kelas berakhir semua calon TKW keluar dari kelas masing-masing dan memasuki kamar, semakin banyak semakin banyak yang datang. Arin menyapa dengan senyum setiap melihat orang yang masuk ke ruangan itu, tidak sedikit pula yang tidak membalas senyuman Arin alias cuek dan ada beberapa pula yang mendekat dan bertanya, tapi sama Mira tangan Arin di tahan, supaya tidak menjawab dulu. Setelah di rasa semua berkumpul. Mira tiba tiba naik ke atas ranjang yang paling ujung hingga terlihat oleh semua penghuni di kamar Singapure itu.
" Mohon perhatian... sebentar saja teman teman," mereka diam sejenak.
" Hari ini kita akan ketambahan seorang teman baru, mari kita saling membantu dia selama di sini," kata Mira dan melambai pada Arin.
Arin pun mendekat tapi tidak ikut naik atas ranjang.
" Perkenalkan dirimu." Perintah Mira.
" Kenalkan nama saya Arintika panggil saja Arin, mohon bimbingannya selama di sini," ucap Arin yang mencoba memberanikan diri untuk melihat mereka satu persatu, walaupun sebenarnya dia takut.
" Selamat datang di penjara kita Arin," seru salah seorang di antara mereka.
" Apa aku salah? aku mengatakan benar, kita di sini tu seperti di penjara, banyak aturan dan tidak di ijini keluar PT meskipun hanya sebentar." Gerutu anak tadi yang tak lain bernama Santi.
" Santi mau kah nanti kamu keluar sama aku," tanya Mira.
" Mau, kemana?" tanya Santi antusias.
" Ke kamar mandi," jawab Mira santai, terus berjalan pergi ke toilet.
" Sialan kau Mira" geram Santi sambil melempar bantal ke arah Mira, tapi bisa di tangkis oleh Mira dan lempar balik ke Santi.
Buugg.
Tepat mendarat di muka Santi.
" Miraaaaaaaaaa ...." Teriak Santi yang kesal.
Semua yang ada di situ pun hanya ketawa dan memperhatikan.
" Hai Arin..." sapa seseorang.
" Hai."
__ADS_1
" Kenalkan nama ku Mia" mengulurkan tangan.
Arin pun menerima uluran tangan Mia.
" Kamu pasti ke bagian ranjang no 27 ya?"
" Kok kamu tau ???!?" heran Arin.
" Iya tau karena semua ranjang sudah terisi, tinggal ranjang yang ada di atas ku saja yang kosong ... " jelas Mia.
" O berarti kita satu tempat tidur ya."
" Betul yuk, kita istirahat dulu menunggu yang lain selesai mandi," mengajak Arin keranjang mereka.
" Aku terbiasa tidur di bawah, jadi kamu bisa kan tidur di ranjang atas?" Mia.
" Ia gak apa apa di mana tempatnya sama saja kok," jawab Arin trus naik ke tangga yang menghubungkan ranjang.
Suasana di ruang itu memang sangat bising, mereka pada sibuk dengan teman masing-masing. Di sini bercampur baur dengan beda beda usia.
Beberapa ada yang di bawah 20,terlihat dengan wajah imut mereka, dan tak sedikit pula yang berumur di atas 30 sampai 40 tahun, jadi tidak heran mereka kebanyakan mencari teman yang usianya ta jauh beda dengan mereka, tapi tak sedikit pula yang berusaha membaur dengan yang masih di bawah umur, alias ' ngemong.'
Banyak aturan yang belum di pahami oleh Arin, dan itu membuat ia lebih hati hati lagi.
Arin merebahkan badannya di kasur tipis yang ada. Tidak ada niat dia untuk tidur, hanya ingin mengurangi lelah, di perhatikan nya setiap sudut ruangan, karena tempat tidur tepat berada pada ujung ruangan hingga dia mudah melihat semua aktivitas yang ada.
Ada yang lagi ngerumpi, ada yang berdandan, ada yang lagi ngemil, ada yang tidur tiduran, ada yang jail pada temannya, ada yang melamun sedih, dan juga ada yang telponan.
" Huh, seandainya aku punya hp... pasti aku bisa menghubungi keluarga ku, pasti sekarang mereka lagi mencemaskan aku." Gumam hati Arin.
____________
Di rumah Arin.
Ana murung di dalam kamar karena masih sedih gak sempet ketemu sama Arin, padahal tadi dia berusaha pulang pagi, pastinya dengan memberi alasan palsu pada guru piket.
Tapi sesampainya di rumah Ana sudah tidak menemukan Arin. Dia bener benar merasa kecewa karena terlambat menemui Arin.
" Jahat benget sih kamu... ninggalin aku tanpa pamitan dulu sama aku, awas ya aku gak akan pernah maafin kamu... aku benciiiii." Gerutu Ana menumpahkan kekecewaan nya sambil memukul boneka beruang yang satu satunya ia miliki... dan menitik kan air mata yang membasahi pipi Ana.
" Kau tau nggak sih, aku sampek bohong sama guru piket supaya bisa ngejar kamu, dan aku berlarian pulang sampai aku terjatuh, tapi kamu jahat gak nunggu aku, liat aja kalau sampai kamu pulang aku gak akan mau ngomong sama kamu...!!!" memeluk dan membenamkan wajahnya ke boneka itu, dan terus menangis.
Ibu yang sedari tadi mendengar rintihan Ana hanya bisa diam, karena Ibu tau, Ana butuh waktu untuk meluapkan emosi nya.
Bapak pun sama hanya bisa diam, karena sebenarnya Bapak pun sedih dengan kepergian Arin. Dia merasa gagal menjadi Orang tua karena membiarkan Arin untuk bekerja. Bapak melihat Ibu yang berusaha tegar dan menutupi kesedihannya.
" Ibu kalau mau nangis, nangis lah jangan di pendam nanti Ibu sakit." Kata Bapak.
" Gimana Arin sekarang ya pak? Apakah dia sudah makan? Apa kah dia betah di sana?." Tanya Ibu dan keluar lah air bening dari kelopak mata itu.
__ADS_1
" Arin pasti baik baik saja kita doakan saja." Jawab bapak singkat.
# *M**ohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏😘🙏*