Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Jumpa


__ADS_3

Suara kicau burung di atas pohon saling bersautan, sang Mentari pagi pun telah menampakkan diri... sungguh indah ciptaan Allah.


______________________


"Pak Arin mau pulang dulu ke rumah Mak sekalian mau ambil baju, biar nanti berangkat nya dari sini aja." Arin bersuara ketika mereka berempat sedang sarapan.


" Aku ikut dong. Da lama gak jumpa ama Mak," rengek Ana.


" Dek, kamu kan sekolah," sahut Bapak.


" Iya Ana tau, tapi Ana kangen Mak," desis Ana lesu.


" Lain kali aja, kalau liburan kamu bisa ke sana," tutur Bapak.


" Betul itu apa yang di katakan Bapak mu," sahut Ibu.


Arin hanya diam memperhatikan raut wajah Ana.


Ana melirik Arin seperti minta bantuan untuk membujuk Ibu sama Bapak.


Sebenarnya Arin ingin ketawa melihat tingkah Ana tapi ia tahan saja, sambil menutup mulutnya dengan rambut.


Lama gak mendapat dukungan Ana jadi kesal.


" Kapan kamu pulang?" tanya Bapak.


" Besok pagi aja selesai subuh."


" Ya udah nanti yang di sini Bapak yang urus, dan jangan lupa memberi tahu Mak, rencana mu," kata Bapak.


" Iya Pak, Arin tau apa yang harus aku lakukan," jawab Arin.


Setelah selesai makan semua, Arin dan Ana membersihkan piring piring yang kotor dan mengembalikan lauk pauk dan nasi yang masih ada pada tempatnya.


Ana masih kesal jadi dia cemberut terus, sambil sesekali mencari perhatian pada Arin, dengan wajah memelas. Tapi itu semua hanya membuat Arin ketawa.


" Ih... jahat banget sih. Gak tau apa gimana sih? ayolah mbak, aku ikut ke rumah Mak. Please please bantu aku sekali saja, aku sudah memasang wajah imut ku. Liat lah aku mbak," jerit batin Ana.


---------


Di sebuah PT khusus tenaga kerja.


" Pagi Pak Prapto, ada yang bisa kami bantu? atau kah Bapak ingin melakukan pencarian?" tanya roni.

__ADS_1


Meneger di PJTKI tersebut, namun ta banyak orang yang tahu, akan status Roni yang sebenarnya.


" Pagi Ron," sambut Pak Prapto.


Pak. Prapto jalan mendekati kursi yang ada di depan Roni dan duduk.


" Begini Ron, langsung saja ya. Soalnya aku gak bisa lama lama, aku ada 2 alasan datang kemari.


Pertama, saya mau ambil pencairan 2 bulan ini.


Kedua, ini ada calon TKW tapi cuma 1, ini datanya, sedangkan umur nya masih 16 tahun. Gimana kira kira bisa atau tidak?" tutur Pak Prapto sambil menyodorkan berkas Arin.


Roni pun mengambil dan membuka. Serta mulai membaca dan memperhatikan foto biodata Arin.


" Tapi kalau dari wajah saya perhatikan kayaknya anak ini dewasa dan tidak terlihat anak di bawah umur," kata Roni yang sudah lama bergelut dalam bidang seleksi calon TKW. Ia memang dia seorang Meneger, tapi masalah seleksi masuk PT, murni Roni yang melakukan nya. Karena ia tidak ingin ada masalah dengan TKW yang di kirim ke luar negeri.


" Baiklah saya akan coba untuk mengubah datanya, Pak Prapto tunggu saja kabar dari saya. Nanti seandainya sudah deal, Bapak tinggal bawa anak nya kemari" tambah Roni.


" Ok lakukan yang terbaik. Kasian Arin ini dari keluarga yang tidak mampu, aku hanya ingin membantu, dan saya liat tekad yang kuat dari anak itu membuat aku salut dan iri." Jelas Pak Prapto.


" Iri maksud nya?" Roni penasaran.


" Anak seusia Arin punya keinginan untuk membahagiakan keluarga, dan rela putus sekolah, dia tau konsekuensi nya jika dia memilih jadi TKW, tapi tanpa rasa ragu, ia tetap dengan pendirian nya. Sedangkan anakku sudah lulus sekolah malah gak mau kerja, dia masih ingin kebebasan dan jika minta uang dia tidak mau dengar kata tidak. Itulah yang membuat aku iri," ungkap Pak Prapto panjang lebar.


" Seperti nya saya akan berusaha untuk membantu nya juga." Kata Roni.


" Ia pak silahkan," jawab dengan memberikan senyuman.


----------


" Jika aku sudah di sana, pasti akan indah. Setiap bulan aku bisa mengirim uang buat mereka, dan Bapak Ibu bisa memperbaiki rumah jadi Mak bisa menetap di sini gak usah lagi kontrak rumah, tentu Mak pun akan merasa lebih bahagia, pasti di saat itu tiba semua akan lebih baik." Gumam Arin dalam hati dengan tetap mengayunkan bandulan membayangkan jika dia sudah kerja.


Di sisi lain, di dapur.


Ana membuat teh anget.


" Tara, sudah selesai," kata Ana pada dirinya sendiri.


Berjalan ke tempat Arin.


Arin yang merasa aneh dengan sikap Ana menatap dengan penuh selidik.


" Mau gak teh anget hemmm?" tanya Ana yang kini sudah duduk di sebelah Arin.

__ADS_1


" Gak mau ah, minum aja sendiri" kata Arin.


" Beneran nih nggak mau? enak low! jangan nyesel low kalau dah habis."


"Gak bakalan," kata Arin pasti.


Bingung( Ana ).


" Pasti nanti kalau sudah kerja jangan lupa ya untuk hubungi." Pinta Ana dengan wajah mulai sedih.


" Iya gak bakalan aku melupakan mu.


Adikku, kesayanganku, yang selalu bisa membuat aku bahagia." Jelas Arin sambil memeluk Ana.


Tanpa terasa air mata Ana mengalir dengan derasnya. Ana pun semakin mempererat pelukannya.


Tanpa sadar Arin pun ikut sedih.


" Terus kalau aku kangen Ama Mbak gimana?" tanya Ana serius.


" Kan aku bisa telfon kamu, insya Allah nanti Mbak usahakan biar semua akan baik baik saja. Dan gak akan memberi kamu kesempatan untuk mengeluh lagi sama aku," balas Arin.


Tanpa mereka sadari bahwa Ibu memperhatikan mereka berdua.


" Semoga kalian selalu bahagia nak, dan selalu tersenyum..." doa ibu dalam hati.


" kita jarang kumpul bareng tapi sekarang Mbak malah mau ninggalin aku di sini... lalu nanti liburan sekolah aku harus ke mana kalau Mbak gak di rumah Mak?" tanya Ana.


" Kan kamu bisa nemenin Mak,


Mak pasti akan terhibur jika kamu ada di sana. Jadi kamu jangan terlalu sedih ok.


Lagipun nanti kalau aku kerja di sana lancar pasti akan bisa membeli dan memberi apa yang kamu mau, iya kan. Coba kamu pikir" ucap Arin.


Ana pun mulai menghayal sesuatu yang indah menurut nya,dan dia hanya mengangguk dan mulai mengerti.


" Ada apa Bu, kok Ibu di sini? dan ini apa?(menghapus air mata ibu)" tanya Bapak yang baru datang.


" Lihatlah mereka berdua Pak." Menunjuk ke arah Arin dan Ana.


Akhirnya bapak jadi paham maksudnya dan mengerti kenapa istrinya bisa sampai menangis.


" Ya udah biarkan mereka berdua sekarang lebih baik Ibu buat kan Bapak kopi saja," perintah Bapak.

__ADS_1


" Iya Ibu buatin dulu!" kata Ibu,terus memasak air untuk kopi.


# *M**ohon dukungannya ya dan terima kasih atas kunjungan ke cerita ku.. jangan lupa like dan komen di tunggu ya 🙏🙏😘😘*


__ADS_2