
" Baiklah pak, sampai bertemu lagi."
" Iya ... sekali lagi terima kasih."
Pak Prapto yang sedang di pasar pun langsung mengambil kunci motornya, pergi ke rumah Arin.
________________________
Istri pak Prapto yang heran melihat suaminya, yang sejak pulang dari pasar senyam senyum terus.
" Pa... ada apa? kok dari tadi mama perhatikan kelihatan nya lagi seneng."
" Arin empat hari lagi akan terbang ma, aku sangat merasa senang dengan kabar ini. Sekarang aku mau mandi dulu dan setelah mandi aku mau ke rumah Arin memberitahu mereka kabar baik ini."
" Ya udah, kalau gitu mama siapkan baju ganti buat Papa." Pak Prapto pun segera mandi.
Di rumah orang tua Arin.
Ana yang baru saja pulang dari sekolah, dia duduk santai di teras rumah. Cuma sepatu yang baru ia lepas, tapi dia malah sedang asyik berdiam diri menikmati hijaunya pepohonan yang rindang. Dan beberapa jenis tanaman bunga mawar yang indah di depan mata.
" Mbak... aku kangen." Suara hati Ana yang sedikit terusik dengan rindu pada Arin. Air matanya mengalir begitu saja.
Ibu Ana, yang baru menyadari kepulangannya langsung mendekati Ana.
" Ada apa?" tanya ibu yang kini duduk di depan Ana.
" Nggak ada apa apa." Dalil Ana.
" Terus kenapa kok gak segera ganti baju? malah duduk di sini."
" Lagi malas aja Bu, besok juga nggak pakai baju ini kan. Bu..." Ana langsung memeluk ibunya.
" Beneran nggak ada apa apa?" tanya ibu yang masih merasa ada yang aneh.
" Aku cuma kangen sama Mbak... sedang apa ya di sana? kira kira kapan terbang?" gumam Ana.
" Bukan kamu saja yang kangen, Ibu juga kangen sama Mbak. Dan kita di sini harus tetap mendoakannya agar cepat berangkat." Ucap Ibu memberi nasehat.
" Itu pasti Bu."
" Ya udah... sekarang kamu cepat ganti baju dulu, biar gak bau keringat. Sana..." perintah Ibu.
__ADS_1
" Ok... Bu laksanakan." Kata Ana yang langsung pergi ke kamarnya.
Ttiin tinn tinn
Bunyi klakson motor Pak Prapto yang memasuki pekarangan rumah. Ibu Arin yang masih duduk di luar pun langsung menoleh ke sumber suara. Ibu Arin menjadi was was dan hatinya menjadi tidak tenang.
" Wah... tumben Pak Prapto ke sini. Ada kabar apa Pak?" tanya Ibu Arin tanpa basa basi.
" Ibu, semangat ya. Apa bapaknya juga ada Bu?"
" Iya ada silahkan masuk dulu Pak."
Mereka pun masuk rumah, Ana yang mengetahui ada tamu langsung membuatkan minuman. Sebelum itu dia memanggil bapak.
" Pak ada tamu." Kata Ana.
" Siapa?" tanya bapak yang sedang mencangkul tanah di belakang rumah.
" Pak Prapto." Jawab Ana.
Bapak Arin langsung membersihkan diri dan langsung menemui tamunya.
" Iya Pak, gak lama baru saja kok. Lagi mau tanam apa Pak?" tanya Pak Prapto.
" Mau nanam durian Pak, kemarin ada teman yang ngasih bibit durian jadi sayang kalau gak segera di tanam." Jelas bapak Arin.
" Iya iya... betul sekali." Pak Prapto diam sejenak.
" Begini ya pak, tadi pagi saya di telfon oleh Roni, yaitu pegawai yang ada di PT. Roni memberi kabar kalau empat hari lagi Arin akan flight alias tebang." Sambung Pak Prapto.
" Alhamdulillah..." ucap serentak Ana dan kedua orang tuanya.
" Dan satu kabar baik lagi yaitu besok atau lusa kalian boleh menjenguk Arin di sana."
" Yang benar Pak?" tanya Ana, antusias.
" Iya." Jawabnya dan juga dengan anggukan.
Ana merasa begitu bahagia, tapi rasa itu seketika hilang waktunya melihat wajah kedua orang tuanya. Mereka seperti tidak bahagia.
" Lebih baik tidak usah pergi ke sana Pak, nanti di sana kami semakin sedih dan merasa kehilangan. Tolong bapak sampaikan saja pada Arin agar selalu hati hati. Dan sampai maaf karena kami tidak bisa datang." Wajah muram dan kecewa langsung terlihat di kedua wanita beda usia itu setelah mendengar kata kata Bapak.
__ADS_1
Ana langsung pergi ke kamar karena tidak kuasa membendung air matanya.
" Maaf sebelumnya. Memang nya ada apa Pak? ini kesempatan kalian untuk bertemu sebelum Arin pergi. Kalian tidak usah khawatir masalah ongkos naik kendaraan ke sana. Besok bisa ikut bersama saya." Tutur Pak Prapto, yang mencoba membantu dan memahami sebaik mungkin keadaan keluarga Arin.
Kedua orang tua Arin saling pandang, bohong jika mereka tidak ingin ketemu sama Arin. Ya benar semua karena ongkos, yang membuat mereka mengurungkan niat menjenguk Arin.
" Tidak usah sungkan Pak, ini sudah kewajiban saya untuk mengantar kalian menemui Arin." Celetuk Pak Prapto yang memahami sorot mata Ibu Arin.
" Kami tidak enak hati jika terus terusan merepotkan Pak Prapto." Ucap Ibu.
" Jangan begitu Bu, nggak perlu punya rasa seperti itu. Saya juga mendapat bayaran dari PT itu, dan salah satu tugasnya ya seperti ini. Jadi saya mohon hilangkan rasa tidak enak itu. Mari besok saya antar, lebih baik kita agak pagi saja ke sana. Biar cukup banyak waktu bersama Arin." Tutur Pak Prapto.
Ana yang tadi pergi ke kamar langsung keluar lagi... menatap Pak Prapto dengan senyum. Seperti isyarat mengucapkan terima kasih. Tapi yang terjadi kata kata itu hanya tersekat di tenggorokan. Pak Prapto pun mengangguk dan tersenyum membalas senyuman Ana.
Bapak dan Ibu tidak bisa lagi mengatakan apa apa. Kalau boleh jujur mereka pun sangat bahagia, karena kebaikan Pak Prapto.
" Baiklah... saya rasa sudah cukup informasi dari saya. Dan saatnya saya mau pulang dulu. Jangan lupa besok pagi saya jemput." Pamit Pak Prapto.
" Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Dan tidak bisa membalas dengan yang lain."
" Tidak usah bilang begitu Pak. Saya permisi dulu. Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam..."
Setelah kepulangan Pak Prapto. Ibu Arin dan Ana langsung berpelukan. Mereka pun langsung membuatkan masakan kesukaan Arin. Yaitu sambel pindang, masakan itu akan cukup membuat Arin senang. Itulah gambaran di hati Ibu dan anak itu.
" Cepatlah tidur Ana... supaya besok gak kesiangan." Perintah Ibu.
" Iya Bu, aku tidur dulu." Ana langsung pergi ke kamar nya.
Di PT keesokan harinya.
Seperti biasa kegiatan Arin di pagi hari, yaitu bertugas untuk membersihkan ruangan direktur. Sudah lama Roni tidak menampakkan diri di hadapan Arin. Setiap kali Arin membersihkan ruangan direktur, sebelum itu Roni akan pergi ke ruang cctv. Karena beberapa minggu ini Roni tidak pernah pulang ke rumah. Dia tinggal di kamar yang ada di ruang direktur itu. Semua itu ia lakukan hanya untuk melihat Arin, gadis yang sukses mengobrak ngabrik hati Roni.
Arin mulai membersihkan kamar, bau maskulin di ruangan yang bernuansa gray itu sangat kuat.
" Sebenarnya siapa sih yang tidur di sini? setiap pagi pasti sudah berantakan." Gumam Arin yang masih bisa di dengar oleh Roni melalui layar cctv. Senyum tipis di wajah Roni mendengar gumaman Arin. Hampir setengah jam Arin membersihkan seluruh ruangan itu.
" Maafkan aku Arin, waktu mu di sini tinggal beberapa hari lagi. Dan aku ingin bermain main dulu sama kamu. Menciptakan kenangan manis sebelum kamu pergi." Kata batin Roni.
# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋
__ADS_1