Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Menggoda Roni


__ADS_3

" Ini nasi apa? apa benar lauknya cuma ini? tapi tadi ketika aku lihat mereka sangat menikmatinya. Apa benar bisa di makan?" batin Roni.


" Ada apa nak Roni? apa kamu tidak makan nasi jagung? dan apa tidak suka dengan masakan sambal pindang?" tanya Bapak yang merasa heran dengan Roni yang cuma menatap nasi itu.


___________________________


" Coba saja dulu nak. Nanti kalau tidak enak bisa kamu buang saja." Kata Ibu.


Pelan pelan Roni memasukkan nasi jagung ke mulutnya, setelah masuk mulut ia mengunyah dan merasakan enaknya nasi itu. Aku, Ibu, Bapak, dan Ana memperhatikan Roni.


Dengan lahapnya Roni menghabiskan makanan di piring.


" Tadi aja kelihatan geli, sekarang piringnya udah bersih tanpa sisa. Dasar orang aneh!"


" Nasinya tambah kak?" tanya Ana.


Roni mengeluarkan jurus andalan, senyum yang di buat semanis mungkin.


" Kalau boleh..." ucap Roni tanpa rasa sungkan.


" Pasti boleh kak, lagipun nasinya masih banyak kok." Ana mengambil piring Roni, dan mengisinya dengan tiga centong nasi dan tiga sendok sambal pindang.


" Udah dek, jangan banyak banyak... jadi gak enak ni rasanya."Kata Roni malu malu. Bapak dan ibu hanya senyam senyum melihat keakraban Roni dan Ana.


" Biasanya juga malu maluin. Dasar Roni cari muka bisanya."


" Mbak... kenapa melamun saja? hayooo lagi mikirin siapa ya?" goda Ana.


" Dasar kepoh..." jawab Arin sewot dan mukanya langsung memerah malu.


" Idih yang ketahuan... mukanya langsung merah." Goda Ana.

__ADS_1


Roni yang sedang makan, curi curi pandang sama Arin.


" Kelihatannya kak Roni suka sama Mbak." Bisik Ana yang langsung di hadiahi cubitan di pinggang.


" Aaaauuuu.... Sakit tau."


" Sayang tau ganteng ganteng di anggurin." Tambah Ana, yang masih belum berhenti godain Arin.


Ana lari duluan sebelum mendapat hadiah cubitan lagi dari Arin.


" Sudah makannya?" tanya Ibu yang melihat Roni meletakkan piring dan mengambil air minum.


" Sudah Bu, terima kasih saya sudah sangat kenyang. Masakan Ibu sungguh enak, saya belum pernah makan makanan seperti ini. Tapi sungguh luar biasa nikmatnya. Tapi saya jadi sedih Bu." Ungkap Roni, dengan wajah sedih.


" Sedih kenapa nak?" ibu yang mulai khawatir.


" Sedih kalau saya rindu masakan ibu, saya harus kemana? sedangkan saya tidak tahu alamat rumah ibu." Kata Roni jujur sekalian modus.


" Gitu aja kamu gak usah sedih nak, kamu datang ke rumah saja. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk siapa saja."


" Apalagi yang kau rencanakan orang aneh? awas saja jika kau membuat ulah pada keluarga ku. Akan aku habisi kamu. Lihatlah senyuman yang ia buat untuk membius keluarga ku. Untung aku tidak tertipu dengan tipu muslihat mu tuan direktur." Decak hati Arin yang geram melihat tingkah Roni yang sok akrab.


Pertemuan Arin dan keluarganya cukup lama, begitu juga Roni yang ikut nimbrung. Roni dan keluarga Arin begitu akrab. Itu semua tidak luput dari sifat Roni yang konyol, sehingga membuat mereka cepat dekat.


" Arin ini sudah sore, ibu pulang dulu ya... jaga dirimu baik baik. Bila sampai di sana jangan lupa hubungi kami. Selalu ingat pada sholat. Selalu kuatkan hati jika majikan tidak menyukaimu atau berlaku kasar sama kamu. Mengeluhlah pada yang di Atas. Ibu tau kau pasti bisa meraih impianmu." Tutur ibu, pada Arin. Dengan seksama Arin mendengarkan. Hanya dengan anggukan ia menjawab kata kata sang Ibu.


" Bapak pulang dulu, jaga diri baik baik." Kata Bapak Arin, meskipun masih banyak yang ingin Bapak Arin katakan, namun hanya itu yang bisa terucap.


" Jangan lupa jaga kesehatan, jangan rindukan aku biar aku saja yang akan merindukan mbak." Ana menangis di pelukan Arin, yang pada awalnya Arin berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata akhirnya jatuh juga gara gara Ana.


Roni melihat drama di depannya, hanya bisa diam. Rasanya ingin sekali ia mengatakan "Rin jangan pergi, tetaplah di sini menjadi istri ku,... akan ku cukupi semua kebutuhanmu dan keluargamu. Asalkan kau selalu di sampingku."

__ADS_1


"Udah dong ah nangisnya,.... Jelek tau." Arin menghapus air mata Ana.


" Aku janji sampai di sana aku akan segera memberi kabar. Aku hanya minta doa, semoga semuanya lancar hingga aku pulang nanti... dan buat kamu, jaga bapak dan ibu dengan baik. Jangan menyusahkan mereka. Ok." Pinta Arin dengan senyum.


"Ok boss. Aku janji akan jadi anak baik dan patuh." Janji Ana untuk Arin.


Mereka bertiga akhirnya pulang, mereka berjalan menuju pintu depan PT.


" Rin apa kamu tidak mau mengantar keluargamu sampai ke depan gerbang?" tanya Roni yang melihat kesedihan di mata Arin.


Arin mengusap air matanya, dan lalu menatap Roni. Deg deg deg deg, irama jantung Roni yang tidak kuat melihat mata sendu milik Arin.


" Terima kasih, tapi lebih baik seperti ini. Jika aku tidak bisa menguasai perasaanku saat ini, bagaimana aku bisa mengatasi rinduku di. sana. Bukankah begitu kak Roni?" tanya Arin yang memang sengaja ingin menggoda Roni.


Roni terpanah dengan omongan Arin ia jadi bingung harus menjawab apa. Saat Arin mengajak tubuhnya untuk pergi Roni menahan tangan Arin.


" Kau harus bertanggung jawab dengan ucapanmu Rin!" Roni menarik tangan Arin hingga membuat Arin berada di pelukannya. Arin berusaha setenang mungkin, menghadapi Roni. Akhirnya dia punya ide untuk mengerjai Roni. Bukannya mencoba melepas pelukan Roni, Arin malah menggoda nafsu Roni. " Orang aneh ini percuma jika harus di lawan dengan kata kata, dengan cara ini aku yakin dia akan melepaskan aku."


" Katakan apa yang ingin kak Roni ucapkan, aku akan mendengar." Bisik Arin tepat di telinga Roni, dan Arin sengaja meniup daun telinganya. Seketika perlakuan Arin yang di luar dugaan itu membuat Roni bergetar seluruh tubuh, seperti ada sengatan listrik yang menjalar. Roni melepas pelukannya pada Arin, ia menyentuh dadanya yang ingin lompat keluar. Tapi kedua manik mata Roni menatap intens ke Arin.


" Aku pergi dulu kak..." bisik Arin lagi di telinga Roni yang satunya. Dan itu berhasil membuat Roni jadi patung.


Arin bersorak gembira di dalam hatinya karena bisa membalas dendam pada Roni. Dia tidak sadar, bahwa tindakannya itu membuat Roni akan semakin gila cinta..hahaha


" Pak Ron.... Pak Ron, hai sadar... bos." Guncangan dari satpam bisa membuat Roni tersadar dari hipnotis cinta Arin.


Dengan jalan cepat Arin sekarang sudah sampai kamar. Ia sangat senang dapat kado dari Mak, dengan semangat ia membuka kado itu. Air mata berlinang di pipi Arin kala ia tau isi dari kado Mak.


# **Terima kasih masih setia dengan Arin. Dukung terus ya agar aku semangat update.


Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋 dan jangan lupa mampir ke cerita ku

__ADS_1


- Misteri di balik arwah


- Perjuangan Cinta Seorang Chef 🙏🙏**


__ADS_2