
" Bohong." Kilah Ana dengan mata tajam memandang kakaknya. Ia tahu walaupun yang punya hati belum bercerita, tapi mata Arin sudah mengatakan kesedihan yang ada di dalam hatinya.
________________
Sudah 2 Minggu Arin di rumah ibu nya.
Dia pergi berbelanja ke pasar dengan Ana. Mereka berdua berjalan menyusuri pasar yang begitu ramai, kemudian Arin berhenti ketika tepat berada di depan kios yang menjual koran. Arin membeli 1 koran.
" Ini satu mas." Kata Arin ,sambil memegang koran .
" 5000 " Mengeluarkan uang lembaran 10.000 dan menyerahkan ke pedagang tersebut.
" Ini kembaliannya, terima kasih."
" Sama sama." Mereka berlalu pergi.
" Buat apa mbak beli koran? kayak orang penting aja." Ledek ana pada Kakaknya.
"Aku mau cari kerja." Jawab Arin tanpa memandang ana.
Mereka berdua terus berjalan, sambil sesekali bergurau. Hingga ta terasa sampai di rumah.
Setelah selesai membersihkan rumah dan membantu ibunya masak Arin langsung pergi ke belakang rumah dengan membawa koran yang ia beli tadi di pasar.
Di belakang rumah ada sebuah taman lengkap dengan tempat duduknya, meskipun tempat duduk itu terbuat dari kayu, dan ada ayunan yang terbuat dari ban bekas yang talinya di ikatkan di ranting pohon rambutan.
Arin duduk di ayunan itu, sambil serius membaca kolom lowongan kerja, dia mencari kerja yang sekiranya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Bukannya selama 2 minggu ini dia diam tak mencari pekerjaan, namun belum ada tempat yang bersedia menerima pekerja baru tanpa pengalaman, apalagi hanya setakat lulusan SMP.
" Rin sarapan dulu nanti keburu dingin." Teriak ibu dari dalam rumah.
" Ia." Jawab Arin singkat dengan berjalan masuk ke dalam rumah
__ADS_1
Mereka sekeluarga kumpul di meja untuk makan, meja yang banyak fungsinya, kerena posisi meja itu tepat di ruang tamu, dan mereka hanya punya 1 meja besar. Meja itu di gunakan untuk makan dan juga terima tamu.
" Pak.. Bu.. Arin mau cari kerja ke Surabaya, di sini ada lowongan, mereka ta mempermasalahkan tamatan sekolah." Kata Arin sambil menunjukkan kolom koran tersebut yang telah beri tanda bulatan.
" Kamu yakin mau cari kerja kesana? sedangkan kamu sendiri gak pernah menginjakkan kaki di kota itu?" tanya Bapak Arin dengan memasang wajah tenang.
" Kalau kamu masih mau tetep pergi, biar di antar sama ibu, lagipun alamatnya kayak gak jauh dari tempat kerja Om Yoyon."
" Lagi pula kamu nanti di sana kamu bisa istirahat, sebelum pagi kamu ke kantor tersebut." Imbuh Bapak Arin.
Arin hanya diam mencoba mencerna setiap kata bapaknya dan sesekali memandang ibu.
Dan akhirnya ia menyetujui saran dari bapak.
Pagi hari Ibu dan anak itu pun berangkat ke Surabaya, perjalanan yang cukup lama dan menguras tenaga. 6 jam lebih perjalanan mereka, hingga sampai di bengkel tempat kerja Om Yoyon. Sambutan hangat di berikan kepada mereka berdua.
Om Yoyon, mendirikan bengkel tempat mencari uang untuk keluarga nya. Di sini Om Yoyon bekerja dengan anak sulungnya.
Tempat yang tidak terlalu luas namun lengkap dengan kamar mandi dan 2 kamar tidur, yang satu ada di atas dan yang satu ada di bawah.
Ibu Arin senantiasa mendampingi putri nya, ia tanpa henti memberi dukungan dan semangat.
Setelah tiba tepat di alamat yang tertera, Arin nampak ragu karena yang di hadapan Arin hanyalah sebuah ruko kecil. Tapi ia tidak mau patah semangat ia terus melangkah maju,dan sesekali melihat ke belakang tempat ibunya menunggu. Ibu Arin menunggu di depan sebuah warkop yang tak jauh dari ruko tersebut.
" Permisi." Ucap Arin dengan sopan ketika membuka pintu.
" Masuk." Jawab salah satu orang yang ada di dalam ruangan itu.
" Perkenalkan nama saya Arintika, yang menghubungi HRD Bu indah hari Jumat kemarin. Dan saya di suruh datang hati ini untuk interview." Kata Arin memberikan penjelasan maksud kedatangan nya, dan dengan menyerahkan amplop besar berisi lamaran kerja.
" Mohon tunggu sebentar, saya akan serahkan ke Bu indah." Kata Staf tersebut sambil berlalu pergi menuju lantai 2,
Arin melihat sekeliling tempat itu seperti ada yang aneh menurut Arin.
__ADS_1
" Kok kantor tempat nya kayak gini ya..? terus di mana pabrik nya? jangan jangan ini." Belum selesai ia bergumam, Staf yang tadi datang,menuju kursinya.
" Ia mbak. Tadi Bu indah bilang kalau mbk nya akan di terima kerja di sini asalkan mbak mau memenuhi syarat nya." Kata staf.
" Syaratnya apa?" tanya Arin dengan wajah bingung.
" Gini ya mbak, sebenarnya kami tidak bisa menerima lulusan SMP, karena minimal standard nya adalah lulusan SMA. Jadi kalau mbak nya mau membayar 2 juta, kami akan menerima mbak di sini." Jelas Staf tersebut.
" Maafkan saya mbak, saya gak punya uang sebanyak itu. Saya hanya punya uang 300 ribu saja." Tutur Arin dengan wajah kecewanya.
" Kalau guy saya tanya kan dulu kamu tunggu sebentar." Kata Staf sambil berlalu pergi ke atas. Tidak lama kemudian staf itu turun.
" Kata Bu indah ia gak papa sisanya bisa di potong dengan gaji kamu. Selamat kamu di terima dan kamu dapat bekerja Minggu depan. Di cabang kantor kami yang ada di malang, ini alamatnya." Ucap Staf tersebut dengan memberikan sebuah kertas dan amplop yang bertuliskan surat rekomendasi.
Arin pun langsung beranjak keluar ruko itu.
Di warkop tempat ibunya menunggu, ia langsung duduk di sebelah Ibu.
" Mbak sebelum mbak ke sini apa mbak gak menyelidiki dulu perusahaan itu di internet." Tanya Ibu warung.
" Maaf maksud nya apa ya?" tanya Arin bingung, dengan melihat wajah ibunya.
" Coba aja kamu cek di internet dulu." Seru Ibu pada Arin.
Betapa terkejutnya Arin ketika membaca artikel atas nama perusahaan tersebut.
Dia kemudian berlari menuju ruko itu, tapi setibanya di sana ia tidak menemukan siapapun. Bahkan ruko itu terkunci, dia terus berbalik arah menuju Ibunya. Wajah kecewa sangat terlihat, tanpa terasa ia menangis, Ibu mencoba untuk menenangkan Arin.
" Lain kali mbak selidiki dulu sebelum pergi mbak, disini gak sedikit penipuan seperti itu. Setelah mendapatkan uang mereka langsung menghilang kan diri, sebelum korbannya sadar di tipu."
" Kenapa mbaknya tadi gak tanya saya dulu mbak, kan uang mbak gak akan hilang gitu aja apalagi cari uang sekarang susah. Ya ini jadikan pengalaman saja mbak biar ke depannya lebih hati hati." Arin mendengarkan terus apa yang di katakan oleh pemilik warung itu, dengan kesedihan yang ia rasakan dan air mata yang terus mengalir.
Mungkin sebagian orang uang 300 itu tak banyak, tapi beda buat Arin itu adalah uang simpanannya selama masih sekolah.
__ADS_1
# *M**ohon dukungannya ya dengan like dan komen 🙏😘🙏 dan lupa untuk vote dan tulis komentar agar saya lebih semangat lagi untuk menulis 🙏🙏🙏*