Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Kesiangan


__ADS_3

" Ya udah biarkan mereka berdua, sekarang lebih baik Ibu buatkan Bapak kopi saja," perintah Bapak.


"Iya Ibu buatin dulu!" kata Ibu, terus memasak air untuk kopi.


______________________


Malam tiba.


" Eh dek, da malam ni tidur yukk..!" ajak Arin pada Ana.


" Nanti aja Mbak, aku masih mau di sini ( teras rumah..) kalau pean ngantuk pergi tidur aja gak ada yang ngelarang kok." Jawab Ana santai.


" Ok. Aku tinggal masuk dulu ya," pamit Arin dan beranjak pergi dari tempat duduk nya.


" Jangan lama lama di luar cepat masuk" cetus Arin.


" Iya ..." teriak Ana.


Di ruang tamu.


" Ngapain sih Rin?" tanya Ibu.


" Eh Ibu, tu Ana aku ajak masuk, tapi masih belum mau," jawab Arin.


" Ya udah, biarin aja dia. Nanti kalau sudah ada Mbak kuntilanak lewat baru dia akan masuk..." kata ibu, dengan sengaja mengeraskan suara biar Ana mendengar.


" Ya udah kamu tidur aja dulu." Tambah Ibu.


" Iya." Jawab Arin singkat.


Arin yang sudah ngantuk berat pun langsung masuk ke dalam kamar, dan tak butuh waktu lama ia pun langsung tertidur.


Ana yang mendengar perkataan ibu.


"Kuntilanak!?" batin Ana.


Langsung masuk ke dalam rumah.


" Ih Ibu apaan sih? jangan nakutin bisa nggak?"' kesal Ana.


" Siapa yang nakut nakutin, dan siapa suruh masuk rumah, tadi katanya masih pingin di luar??!!" ledek ibu.


" Ya memang aku masih ingin di luar... tapi ibu bilang gitu, jadi kan aku ada rasa"


" Takut?? sejak kapan kamu punya rasa takut??" Ibu sedikit membuat Ana kesal.


" Siapa yang takut" bantah Ana,mencoba menutupi rasa takutnya.


Ibu yang merasa Ana ketakutan pun, hanya ketawa geli dalam hati, ta lama kemudian Ana memutuskan untuk pergi tidur juga. Ibu yang melihat itu hanya geleng geleng kepala saja.


"Kalau di takut takuti baru mau masuk dasar bocah nakal," gumam Ibu dan sambil menutup pintu rumah.


Allah Akbar Allah Akbar


Adzan subuh berkumandang....

__ADS_1


Arin menggeliat, kemudian ia duduk di tepi ranjang diam sejenak. Untuk mengumpulkan nyawanya...di rasa cukup, Arin pergi membersihkan diri.


Ibu yang mendengar suara orang langsung terbangun juga.


" Rin...!" panggil Ibu di depan kamar mandi.


" Iya Bu." Sahut Arin.


" Oh ya udah, Ibu pikir siapa tadi," terang Ibu.


Ibu pun langsung memasak air untuk membuat kopi bapak, sekalian membuat kan Arin juga.


Arin yang baru keluar dari kamar mandi.


" Arin sholat dulu Bu." Pamit Arin pada ibunya, dan di jawab dengan anggukan.


15 menit kemudian


" Minum kopi nya dulu Rin!" perintah ibu, yang melihat Arin.


Kopi adalah minuman wajib buat keluarga Arin setiap hari. Sehari terlambat minum kopi saja bisa membuat pusing, seperti sudah kecanduan.


Arin duduk di depan tungku perapian... sambil menghangatkan tubuh dan menikmati segelas kopi.


" Kamu berangkat jam berapa Rin?" tanya ibu.


" Sebentar lagi Bu," jawab Arin.


" Nanti kamu bawakan Mak ini ya!( menunjuk kan sekantong plastik sedang singkong )" pinta Ibu.


" Iya."


" Bu Arin pergi dulu ya," pamit Arin


sebelum ibu menjawab.


" Aku ikut ke terminal," teriak Ana keluar dari dalam kamar.


" Ih gak mau ah. Muka penuh air liur kayak gitu kok," tolak Arin.


" Tunggu sebentar aku mau cuci muka awas jangan tinggal!!" ancam Ana, terus berlari ke belakang.


" Dasar bocah nakal!" gerutu Ibu.


" Ya udah sana kamu pergi, nanti kesiangan hati hati di jalan!" saran Ibu.


" Rin kasi uang pas aja kalau mau bayar Bus!" kata Bapak.


" Iya." Arin mencium kedua tangan orang tua nya secara bergantian.


Melangkah keluar rumah berjalan kaki.


" Mbak mana?" tanya Ana yang baru keluar dari kamar mandi.


" Baru berangkat," sahut Bapak.

__ADS_1


Tanpa bedak tanpa sisir rambut terlebih dahulu, Ana langsung mengejar Arin.


" Punya telinga apa nggak sih?? di suruh nunggu kok malah di tinggal." Gerutu Ana dengan kesal.


" Siapa suruh lambat jadi orang, aku tau sejak tadi kamu udah bangun kan.. tapi kamu malah males malesan, iya kan. Kamu gak bisa menipu ku," kata Arin jengkel dengan menunjuk hidung Ana.


Ana hanya cengar cengir mendengar kata Arin. Mereka berdua berjalan menyusuri kampung, masih sepi karena terlalu pagi.


" Low pagi pagi kalian mau kemana?" tanya Pak De (saudara ibu).


" Mau ke rumah Mak, Pak De," jawab Arin sopan.


" Pak De mau ke sawah ya?" tanya Ana yang melihat Pak De membawa cangkul.


" Eh nggak na. Pak De mau ke kebun pak Priyo, kemarin nyuruh Pak De menyangkul di kebunnya" jawab Pak De.


" Emang mau di tanam apa?" tanya Ana lagi.


" katanya mau di tanam singkong," jawab Pak De lagi.


" Ya udah Pak De kami pergi dulu." Arin menyudahi pembicaraan mereka.


Kalau di biarkan berlanjut akan tidak ada habis nya dan akan semakin membuat Arin kesiangan.


" Ya udah hati hati di jalan" balas Pak De.


Di terminal.


" Kok tumben lama bis nya?" gumam Arin, tapi masih bisa di dengar oleh Ana.


" Sabar..." kata Ana.


" Kamu pulang aja' dulu nanti kesiangan low sekolah mu," bujuk Arin.


Ana menoleh ke arah jam dinding yang ada di terminal itu.


" Entar dulu, masih 5.30 " bantah Ana.


" Terserah!" balas Arin.


Lima menit kemudian Bus yang di tunggu pun datang.


" Ya udah aku pergi dulu, kamu langsung pulang ya!" pamit Arin dan naik ke Bus.


Ana masih menunggu bis itu berangkat,


setelah Bus berangkat baru ia melangkah pulang. Dalam diam dan keceriaan yang ia tunjukkan sebenarnya Ana tidak rela Kakaknya pergi kerja, tanpa terasa air mata nya pun meleleh, tapi langsung ia hapus.


"Cepat atau lambat Mbak pasti pergi, dan waktu kebersamaan ini pun akan hilang. Padahal aku masih ingin bersamamu Mbak. Aku masih kangen kita kumpul," jerit hati Ana, yang tidak bisa di dengar oleh orang lain.


Air mata yang terus jatuh itu membuat ia semakin merasa sesak.


Di dalam Bus.


" Ya Allah, ku serah kan semua kepadaMu, mudahkan lah langkahku untuk mencari kebahagiaan buat mereka..." doa Arin yang tulus.

__ADS_1


" Aku yakin semua pasti akan indah pada waktunya dan Allah pasti mengiringi di setiap langkahku..." gumam Arin dalam hati.


# Mohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku, jangan lupa like dan komen 🙏😘🙏


__ADS_2