
" Iya semoga saja orangnya udah pulang, kenapa?" tanya Bapak yang melihat wajah anak sulungnya yang penuh tanda tanya.
" Penasaran aja."
------------
Malam itu selepas sholat isya Arin dan Bapak pergi ke rumah pak Prapto.
Mereka berjalan kaki, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di rumahnya.
tok tok tok
" Assalamualaikum...."
Tok tok tok
Seorang perempuan yang masih muda membukakan pintu.
" Waalaikumsalam.
Iya, cari siapa ya?" tanya gadis itu.
" Maaf, Bapak nya ada?" tanya Bapak.
" Ada mari masuk," ajak gadis itu.
" Yah, ada tamu," panggil anak itu sambil berlalu pergi ke dalam.
" Siapa kak?" tanya seorang wanita yang sudah berumur.
Lama menunggu, Arin memandangi foto foto yang terpajang di dinding, sungguh terlihat seperti keluarga yang sempurna.
Dan tak lama kemudian...
" Eh, ada Arin dan Bapak. Maaf menunggu lama," sapa Pak Prapto dengan menghampiri mereka berdua dan juga bersalaman.
" Ada apa ini pak kok malam malam datang ke sini?" tanya Pak Prapto basa basi, karena pastinya dia tau tujuan Arin datang.
" Begini Pak, saya mau mengantar Arin, dia ingin dan tertarik pada yang waktu itu Bapak tawarkan," jelas Bapak.
Tiba tiba datang gadis yang membukakan pintu tadi dengan membawa 3 cangkir gelas.
__ADS_1
" Silahkan di minum," kata gadis itu. Dan terus pergi dari ruangan itu.
" Terima kasih," jawab Arin dan Bapak.
" Begini Pak kalau boleh, saya ingin tanya langsung pada Arin."
" Silahkan."
" Begini Arin, sebelum kamu memutuskan untuk pergi ke luar negeri apakah kamu tau kerjaan di sana itu apa saja?"
" Saya tau sebagai asisten rumah tangga,dan mungkin juga jaga anak kecil atau jaga orang jompo," jawab Arin.
" Apakah kamu tau kalau di PT nanti kamu harus mengikuti aturan yang berlaku, dan biasanya tinggal di satu tempat tidur dengan banyak orang."
Arin sedikit kaget, tapi dia berusaha menutupi rasa yang di dalam hatinya. Kali ini ia hanya menjawab dengan anggukan.
Kemudian Pak Prapto bangkit dan mengambil beberapa kertas yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk mereka.
" Ini ada daftar negara dan juga dengan daftar gaji yang diterima, kamu baca dulu!" kata Pak Prapto sambil menyodorkan kertas kertas itu.
Arin membaca dengan seksama.
" Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan," batin Arin.
" Gimana Rin? apa keputusan mu?" tanya Pak Prapto.
Arin memandang wajah bapaknya mencari jawaban, tapi Bapak seperti mengerti apa maksud Arin, hanya mengangkat bahunya.
" Kamu yang jalani semua keputusan ada di tangan mu" gumam Bapak dalam hati.
" Maaf kan saya Pak, kalau menurut Bapak mana yang terbaik buat saya yang pemula ini," tanya Arin dengan wajah polosnya.
" Kalau menurut saya, lebih baik kamu ke Singapura aja sebagai batu loncatan buat kamu. Karena kalau kamu masih punya keinginan pergi ke luar negeri lagi, dengan kamu EX Singapura pasti gajinya lebih tinggi dari ex negara lain." Penjelasan yang panjang dari Pak Prapto.
" Kalau gitu saya pilih ke Singapura saja Pak."
" Ya udah kalau gitu. Ini data data dan surat surat yang harus kamu isi dulu," pinta Pak Prapto.
" Yang umurnya jangan di isi dulu ya, nanti soalnya harus di sesuaikan dengan berkas berkas yang lain, kamu kosongkan saja ya."
" Terus masalah biaya gimana Pak?" tanya Bapak Arin.
__ADS_1
" Kalau masalah itu jangan di fikirkan, itu nanti kan sudah termasuk dengan potong gaji yang 8 bulan itu Pak, jadi tenang saja," jelas Pak Prapto.
Arin pun mengambil berkas berkas itu, dan mulai mengisi, tanpa Arin sadari ternyata Bapak yang berada di samping nya menetes kan air mata. Karena terharu dan bangga dengan semangat dan keteguhan Arin, Pak Prapto yang melihat itu pun hanya tersenyum kepada Bapak seolah memberi jawaban.
"Semua akan baik-baik saja."
Bapak pun ikut tersenyum dan cepat cepat menghapus air mata itu.
Lama Arin mengisi berkas berkas yang jumlahnya hanya ada Lima lembar. Setelah selesai, ia memberikan pada Pak Prapto lagi.
" Pak mohon tanda tangan nya di sini," tunjuk Pak Prapto pada bapak Arin.
Bapak pun langsung tanda tangan.
" Dan yang ini tolong besok pagi bapak minta tanda tangan nya pak RT dan pak RW, baru nanti bapak bawa ke sini lagi," kata Pak Prapto.
" Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu dan terima kasih," pamit mereka berdua.
Setelah sampai di rumah jam sudah menunjukkan pukul 9, tapi Ibu dan Ana masih belum tidur seperti nya masih menunggu kedatangan Bapak dan Arin.
" Gimana pak tadi?" tanya Ibu yang penasaran.
" Ya gitu Bu, semua akan di urus pak Prapto.
Cuma kita minta tanda tangan dari Pak RT dan RW saja, yang lainya sudah ada yang ngurus."
" Trus masalah umur gimana pak?" tanya Ibu lagi.
" Dekarang Ibu tenang ya gak usah mikir itu, kan tadi Bapak dah bilang kalau semua sudah di urus pak Prapto. Sekarang lebih baik kita tidur, sudah malam," ajak Bapak pada Ibu ke kamar untuk istirahat.
Arin dan Ana pun masuk kamar mereka.
" Jadi giman mbak? apa benar mbk mau kerja ke luar negeri?" tanya Ana dengan mimik muka sedih.
" Iya, doakan aku ya. Ini semua juga demi kamu dan keluarga kita," jawab Arin sambil memeluk Ana dengan erat... keduanya pun akhirnya terbuai dalam mimpi, dengan posisi berpelukan.
Bila ada yang melihat itu pasti akan tahu jalinan persaudaraan yang kuat meskipun sejak kecil tak hidup bersama. hidup bersama.
Sepi menemani di malam yang semakin larut, hanya suara lolongan anjing dan jangkrik yang terdengar di setiap sudut kampung, karena semua penduduk berada di alam mimpi.
Suara kicau burung di atas pohon saling bersautan, sang Mentari pagi pun telah menampakkan diri... sungguh indah ciptaan Allah.
__ADS_1
#*M**ohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏 sudah mampir ke cerita ku, mohon dukungannya ya dengan like dan komen 🙏😘🙏*