Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Bingung


__ADS_3

 Arin gak bisa bicara apa apa, dia menatap satu persatu sahabatnya dengan senyum dan helaan nafas panjang.


" Terima kasih ya." Ucap Arin dengan mata penuh dengan air, kemudian mereka berempat pun berpelukan untuk saling menguatkan.


___________________


Di rumah Arin terdengar perbincangan antara Bapak dan Nenek Arin di ruang tamu. Mereka membicarakan tentang administrasi sekolah Arin, karena Nenek sudah bingung harus mencari ke mana karena beberapa hari ini tidak banyak pasien yang datang untuk pijat urut.


 


" Aku sudah bingung mencari uang kemana? apalagi uang gak sedikit 1.650.000, kalau dia belum melunasi sampai akhir bulan ini, dia gak boleh ikut ujian semester, kasian." Tutur Nenek pada bapak Arin.


" La terus aku harus gimana Mak, aku juga gak punya uang. Ya semoga saja sebelum ujian, kita udah dapat kan uang." Jawab bapak Arin dengan nada berat.


Bapak Arin bukan lah orang yang punya pekerjaan tetap, jadi punya uang cukup untuk makan pun sudah sangat bersyukur. Di banding keadaan Mak sama Arin mereka masih lebih beruntung karena gak pernah makan nasi Karak ( nasi yang sudah di jemur sampai kering, kemudian di masak lagi ) karena harga Karak jauh lebih murah dari beras. Tapi untuk orang tua Arin dan adiknya mereka sering makan nasi Karak dengan lauk seadanya. Gak jarang juga Arin selalu menyisihkan uang saku yang di beri Mak untuk di kumpulkan dan ketika Ibu atau Bapak nya datang ia pasti akan memberikan uang itu. Dan ini pun biasanya orang tua Arin ke rumah Nenek naik sepeda gunung / cari tumpangan truck yang searah. Rumah nenek ada di kota M , orang tua Arin di kota B lama perjalanan yang di tempuh dengan menggunakan angkutan umum bisa sampai 3 jam. Tapi kalau untuk Ibu nya selalu naik bus, dan ketika nanti sepulang dari rumah Nenek mereka selalu di bawakan sembako sama Nenek. Bagaimanapun nenek juga sangat mengerti keadaan anak sulungnya itu.

__ADS_1


_____________


Di sekolah Arin dan sahabat nya sedang mengemasi buku peralatan sekolah lain nya, sudah waktunya pulang.


" Sebelum pulang mari kita berdoa


berdoa menurut kepercayaan masing-masing di persilahkan." Pandu ketua kelas seketika kelas menjadi hening.


" Selesai, beri Salam "


" Assalamualaikum, selamat siang Bu." Ucap serentak siswa kelas X itu.


Arin dan teman temannya pun keluar gerbang sekolah dengan jalan santai. Karena begitu banyak siswa yang pulang.


Sekolah Arin merupakan sekolah favorit yang memiliki hampir 1000 siswa, jadi bisa bayangin kan kalau jam istirahat dan pulang pasti ramai. Apalagi banyak yang bawa motor, dan juga banyak yang masih duduk di taman sekolah tapi kebanyakan yang di taman adalah mereka yang pacaran... kadang ada iri dalam hati dua sahabat itu, ketika melewati taman tapi kemudian mereka tepis jauh pikiran mereka, bukanya apa mereka berdua ini gak pernah mau negur temen cowok mereka, jika berpapasan pun mereka hanya senyum. Tidak seperti teman teman lainnya yang sudah berani berpacaran dalam kelas. Bukannya sok alim tapi mereka ingin lebih fokus saja sama sekolah.

__ADS_1


_________


" Kok tumben Arin belum pulang biasanya jam segini sudah pulang." Gumam nenek sambil berdiri di teras rumah, dan setelah beberapa menit, bias senyum nenek di bibir yang mulai keriput karena melihat cucu kesayangan nya dari kejauhan.


" Assalamualaikum." Sapa Arin sambil meraih tangan nenek dan mencium punggung tangannya.


" Kok ada sepeda Bapak... pasti bapak ada di dalam." Sorak Arin dalam hati.


Dengan melangkah penuh semangat masuk ke dalam rumah, dan ketika sosok yang di cari ada di depannya ia langsung memeluk dan mencium tangannya.


"Jam berapa bapak sampai?" Tanya Arin.


" Tadi jam 9, da sana ganti baju, terus kita makan sama sama, nenek dari tadi da nunggu kamu." Ucap Bapak Arin sambil membelai rambut Arin.


" Ok Arin ganti baju dulu." Jawab Arin sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Setengah jam kemudian mereka berempat pun duduk di meja makan, menikmati makan siang. Di selangi Senda gurau antara Bapak dan anak yang saling merindukan. Hingga tanpa sadar semua makanan pun da habis tanpa sisa. Arin sangat merindukan kumpul bareng seperti ini, meskipun ini masih kurang lengkap, tapi Arin sudah sangat bahagia, hingga dia melupakan beban di pikirannya.


# *M**ohon dukungannya kepada semua readers, kritik dan saran selalu saya harapkan. 🙏*


__ADS_2