Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Membujuk Ibu


__ADS_3

" Ihhh dah sore gini kok tidur sih! emmmm mungkin masih capek kali ya. Ya aku biarkan tidur nyenyak kali ini, tapi jangan harap." Gumam Ana tapi masih bisa di dengar Arin dan Ibu yang ada di sini kamar sebelah.


Sedikit terhibur Arin pun tersenyum ketika Ana sudah keluar kamar, ia pun melanjutkan pura pura tidurnya.


_____________


Malam terlewat begitu saja. Ibu pun masih diam ta bersuara. Keadaan seperti itu membuat Arin merasa sangat sedih, Bapak dan Ana pun hanya bisa diam.


Udara dingin menyapa, adzan subuh berkumandang membuat Arin terbangun dari tidurnya. Dia berjalan keluar kamar memerhatikan sekeliling sepi sunyi.


Segera ia membersihkan diri dan kemudian melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Setelah selesai sholat ia beres beres rumah, dan tak lama Bapak serta Ana pun bangun, tapi Ibu masih tetap di dalam kamar.


Matahari pun sudah mulai tinggi, Ana berusaha membujuk Ibu agar keluar dari kamar, tapi tetap saja gak berhasil. Hari ini hari Minggu jadi Ana tidak sekolah.


" Mbak, sana cepat temui Ibu. Agar Ibu mau makan dan kembali seperti biasa nya." Bujuk Ana.


Arin diam ta bergeming, dia hanya bermain dengan fikirannya. Setelah lama Ana merasa bosan akhirnya ia meninggalkan Arin yang duduk di ruang tamu sendiri.


" Lebih baik aku keluar saja dari pada liat situasi yang gak enak kayak gini." Gumam Ana dalam hati, sambil berlalu pergi.


Walaupun sedikit rasa ragu akhirnya Arin melangkah pelan ke arah kamar Ibu.


tok


tok


tok


" Bu aku masuk ya." Tapi gak ada sautan dari dalam kamar, dan Arin pun mendorong pelan pun itu,ia melihat ibu sedang baring membelakangi Arin.


" Bu aku minta maaf." Ucap Arin dengan suara bergetar karena mencoba menahan air mata nya.

__ADS_1


" Aku salah aku minta maaf, tapi tolong jangan seperti ini, aku mau Ibu yang seperti biasa Bu maaf." Air mata itu pun sudah mengalir deras.


Ibu bangun dari baringnya, terus menghadap anak sulungnya itu, ia menatap Arin yang kini tengah berlutut menghadap dirinya dengan kepala yang tertunduk.


" Ibu sudah maafkan Arin, tapi bangunlah jangan seperti itu, nanti lututmu sakit karena tanah itu." ( rumah itu ta memiliki alas jadi langsung bersentuhan dengan tanah yang setiap pagi harus di siram dulu agar ta berdebu).


Arin terus mengangkat kepalanya, sungguh sangat sakit rasanya melihat pipi Ibu yang telah basah. Ia pun langsung memeluk ibu.


" Ibu sayang sama kamu, Ibu nggak mau kamu merasakan apa yang Ibu pernah alami, hidup di luar negeri itu gak mudah nak, kita harus belajar hidup dengan orang orang yang asing buat kita, kalau terjadi apa apa sama kita pun, kita gak bisa kemana mana kerena kita ada kontrak kerja. Ibu mana yang gak ingin melihat anaknya sukses, tapi jadi TKW itu gak seindah apa yang mereka bilang nak. Ibu mohon sama kamu jangan punya niatan untuk pergi jadi TKW lagi ya." Nasehat Ibu sambil memegang tangan Arin.


Arin hanya terdiam dengan terus memandangi wajah Ibunya.


" Aku ingin merubah keadaan kita, aku yakin Bu, pasti ada jalannya." kata hati Arin, tapi ia tak mampu bersuara takut nanti ibu akan marah lagi.


Arin pun mengajak Ibu nya untuk segera sarapan. Karena dia gak mau kalau sampai Ibunya sakit.


" Ehh kayaknya udah adem ni suasana masuk ah." Suara hati ana, yang tengah memperhatikan keadaan di rumah dari balik jendela luar dan iapun melihat kakak dan ibu kini sudah mulai ketawa.


" Gitu kan lebih enak di lihat lebih adem." Ucap Ana dalam hati, yang masih mengintip di jendela.


" Ehh kamu tu da besar, gak malu apa masih minta di suapin, malu dong sama ayam." Ledek Arin yang sengaja ingin menggoda Ana.


" Ihh bilang aja kalau iri..! ya Bu." Jawab Ana dengan wajah santuy.


" Kamu dari mana tadi, kok baru pulang?" Tanya Ibu pada Ana, dengan masih menyuapi Ana.


" Bosen di rumah liat orang diem dieman, ya ke sawah aja, kan di sana ramai sama suara burung."


Akhirnya mereka bertiga bersenda gurau seperti biasa nya.


_____________

__ADS_1


Di rumah nenek Arin.


Hari Minggu seperti biasanya, orang antri untuk pijet sama nenek banyak, ya pasti lebih dari orang 3, dan hari ini ada 4 orang antri.


Sudah hampir 1 bulan Arin tidak pulang, dan terkadang itu membuat nenek merasa sedih, dan merasa kesepian.


" Gimana kabar mu ndok? ... apa kamu sudah dapat kerjaan." Gumam nenek, yang sedang istirahat di ruang keluarga sebelum melanjutkan kembali mijet pasiennya.


" Lo Mak, kemana cucu Mak yang biasa membuat kan minum?" tanya seorang tamu langganan Mak.


" Dia ke rumah orang tua nya, kangen gitu katanya." Jawab nenek.


" Mumpung hari Minggu ya Mak, jadi dia bisa pulang kesana, kan kalau tidak hari Minggu sekolah." Kata tamu itu lagi.


Nenek menghentikan tangannya yang sedang memijat badan tamu itu. Ta terasa air mata nenek mengalir begitu saja.


" Low Mak, kenapa? maaf bila saya salah bicara Mak." Kata tamu itu yang melihat Nenek menghapus air matanya.


" Arin sudah gak sekolah lagi,dia memilih berhenti, karena dia gak mau membebani aku lagi.


Jadi dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Ya aku hanya tergantung pada Arin sendiri, walaupun di paksakan nanti percuma. Kalau yang ngejalani aja gak mau malah nanti jadi masalah." Tutur Mak.


" Sayang ya Mak, padahal seperti nya dia anaknya pinter, tapi ya semua balik pada yang ngejalani." Kata tamu itu.


Nenek pun hanya mengangguk, meng iya kan kata itu.


" Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan nak." Doa nenek dalam hati.


_________


" Rin, kamu gak coba hubungi Mak dulu?? kasian Mak pasti mikirin kamu." Kata Ibu.

__ADS_1


" Ia nanti aku hubungi Mak, kalau jam segini kan Om gak ada di rumah, sedangkan ibu tau sendiri kan yang pegang hp hanya Om."


## *M**ohon dukungannya ya.. terima kasih* 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku saya harapkan like dan komen nya 🙏


__ADS_2