Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Tamu


__ADS_3

"Maafkan aku Arin, waktu mu di sini tinggal beberapa hari lagi. Dan aku ingin bermain main dulu sama kamu. Menciptakan kenangan manis sebelum kamu pergi." Kata batin Roni.


_______________________


Arin pun langsung mengambil barang barang yang kotor dan diapun berjalan keluar tanpa melihat jalan akhirnya.


Bbuuuuk


Arin menabrak dada bidang milik Roni.


"Aaaahhh." Keluh Arin yang merasa agak sakit di kepalanya. Tapi ketika dia melihat siapa yang ia tabrak, matanya membulat sempurna. Dia sedikit terkejut, Arin mulai bergerak mundur. Sedangkan Roni masih tidak bergeming di depan pintu.


Deg deg deg deg deg deg.


Sentuhan dari Arin tadi membuat jantung Roni menari nari dan bersorak gembira. Tapi Roni masih berusaha menutupi rasa yang ada di hatinya. Tapi wajah merah nya siapa saja pasti bisa mengerti kalau sang direktur sedang salah tingkah dan bahagia. Kedua manik mata Roni masih intens menatap Arin.


" Maaf kak, saya permisi dulu." Ucap Arin yang merasa risih di perhatikan Roni.


" Kenapa terburu buru Rin? lama tidak ketemu apa kabar kamu?" tanya Roni menutupi rasa gugup yang menguasai hatinya.


" Alhamdulillah seperti yang kak Roni lihat." Jawab Arin singkat.


" Oh ya aku melihatnya, dan aku juga melihat bahwa mutiara itu semakin cantik."


" Maksudnya?'' tanya Arin yang tidak mengerti maksud kata kata Roni.


" Kamu semakin cantik." Kata Roni jujur. Wajah Arin seperti kepiting rebus, diapun langsung berlalu pergi dari ruang direktur itu.


Roni merasa senang membuat Arin merasa malu. Dia memegang dada miliknya yang tersentuh kepala Arin tadi.


" Kenapa dalam sekejap tadi aku merasa sesuatu yang indah, sesuatu yang tak pernah ku rasakan... seperti ini kah rasanya jika kita saling bersentuhan dengan orang yang kita cintai. Pasti hidupku akan terasa indah jika setiap saat, sepanjang umurku. Oh Arin... tapi kenapa terasa sangat jauh jika ku gapai dirimu. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku." Suara hati Roni.


Di kantor.


Arin masih malu karena kata kata gombal dari Roni tadi masih terngiang ngiang di telinga. Beberapa staf yang tidak sengaja tadi mendengar gombalan Roni, hanya bisa senyum terus melihat Arin. Arin risih dengan itu semua, ia pun secepat mungkin menyelesaikan tugasnya. Dan tanpa sengaja ia melihat papan pengumuman.


Mulut Arin membuka lebar, dia menutupi dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Ya di pengumuman itu nama Arin tercantum paling atas keberangkatannya. Dia masih belum percaya, Arin mendatangi mbak Susi.


" Mbak... yang tertulis di papan itu benar?" tanya Arin serius.


" Iya Rin, tanggal dua empat kamu terbang, berarti tinggal tiga hari lagi." Tutur mbak Susi yang ikut senang melihat ekspresi dari Arin.


Mendengar jawaban dari Susi, refleks Arin langsung memeluk dan menangis tentunya tangis bahagia.


Roni yang sedari tadi melihat Arin, ikut merasa bahagia melihat tawa tangis di wajah Arin. Orang yang telah memporak porandakan ketenangan hati seorang Roni. Tapi bohong jika dia tidak sedih dengan kepergian Arin, tapi apalah daya Roni dia bukan siapa siapa yang bisa mencegah Arin. Tanpa terasa Roni pun ikut meneteskan air matanya. Ingin rasanya ia pergi memeluk Arin, dan mengatakan ' jangan pergi'. Kakinya berat untuk melangkah mendekati Arin. Dia hanya bisa melihat di kejauhan.


" Terima kasih ya mbak... sekali lagi terima kasih. Aku kembali dulu ke kamar." Pamit Arin. Susi menjawab dengan anggukan. Arin jalan dengan penuh senyum dan puji syukur, tanpa ia ketahui Roni membuntuti sejak ia keluar dari kantor tadi.


" Kebahagiaanmu terlihat jelas Rin, tunggu lah sebentar lagi kejutan akan segera datang." Gumam Roni.


Di jalan.


Keluarga Arin dan Pak Prapto sudah satu jam berada dalam perjalanan. Tak butuh lama lagi mereka akan sampai di PT. Ana terus menebar senyum, dia benar benar merasa bahagia.


Dan saat sudah sampai, beberapa protokol kesehatan di lalui oleh mereka terlebih dahulu. Hingga mereka di arahkan ke ruang kunjungan. Pegawai yang di sana langsung memberitahu petugas dalam untuk memanggil Arin.


Arin yang saat itu sedang ada di kelas bahasa .


" Tapi ini kan masih jam kelas, tidak boleh menerima kunjungan?" tanya Cece Ani.


" Ini kunjungan bagi yang mau terbang ce."


" Oh begitu ya, tunggu sebentar di sini saya panggil dia dulu." Ucap Cece Ani.


Arin pun mengikuti petugas itu, tanpa di ketahui ada apa. Karena tadi Cece Ani cuma bilang suruh ikut petugas.


Arin heran kenapa petugas itu mengajak dia pergi ke arah kunjungan. Dan setelah petugas itu membuka pintu penghubung, Arin pun ikut masuk dan ia baru sadar..


Di depannya kini ada orang orang yang ia sayangi dan rindukan. Ana langsung lari dan memeluk Arin. Ibu dan bapak Arin juga mendekat pada putri yang ia rindukan beberapa bulan ini. Suasana haru terasa dan itu juga di rasakan oleh seseorang yang sedang menatap layar cctv.


" Kalian kenapa bisa sampai sini?" tanya Arin yang penasaran.


" Apa kamu tidak bahagia dengan kedatangan kami?" tanya Ibu.

__ADS_1


" Tentu saja aku sangat bahagia dan bersyukur kalian semua datang sebelum aku pergi." Ucap Arin dengan memeluk sang Ibu.


" Oh ya gimana kabar Mak?" tanya Arin.


" Alhamdulillah Mak dan Om sehat mereka menitipkan ini buat kamu." Kata Bapak dengan menyerahkan sebuah bungkusan.


" Apa ini?" tanya Arin penasaran menerima bungkusan itu.


" Aku gak tau apa isinya, karena tadi Mak ngasihnya sudah seperti itu." Sahut Ana.


Mereka saling mencurahkan rindu masing masing dengan bercengkrama dan senda gurau. Sedangkan Pak Prapto yang sejak awal tidak ikut masuk ke dalam ruang kunjungan, beliau lebih memilih ke kantor mencairkan bonus.


Sudah hampir tiga jam mereka bertemu, dan tiba tiba.


" Permisi ..." ucap seorang laki laki.


Semua pun langsung menoleh ke sumber suara.


" Iya... ada apa?" tanya Bapak.


" Uhukk uhuuk huukk." Arin tersedak ketika mengetahui siapa yang datang. Roni pun langsung memberi minum. Mata Arin dan Roni bertemu mereka terdiam sesaat. Detak jantung Roni terdengar Arin, seketika mereka berdua menjadi salah tingkah.


" Maaf kak Roni, ada apa kakak kesini?" tanya Arin basa basi menghilangkan rasa canggung di antara mereka.


" Eemm tadi aku sedang lewat saja, dan penasaran siapa yang mendapat kunjungan, makannya aku ke sini." Jawab Roni yang merasa bingung mencari alasan.


" Kalau begitu mari ikut makan saja... lagi pula makanan yang di bawa juga masih banyak. Mari nak Ron, gabung dengan kami tapi maaf lauk seadanya." Ajak Bapak Arin pada sang direktur.


" Kebetulan sekali Pak, saya juga belum makan siang tadi." Kata Roni tanpa merasa malu.


Ibu Arin langsung mengambilkan nasi dan lauk nya. Roni pun menerima.


" Kenapa sih dengan orang aneh ini? mana mungkin dia mau makan lauk dan nasi seperti ini." Batin Arin.


Roni memandangi nasi yang ada di tangannya saat ini.


" Ini nasi apa? apa benar lauknya cuma ini? tapi tadi ketika aku lihat mereka sangat menikmatinya. Apa benar bisa di makan?" batin Roni.

__ADS_1


" Ada apa nak Roni? apa kamu tidak makan nasi jagung? dan apa tidak suka dengan masakan sambal pindang?" tanya bapak yang merasa heran dengan Roni yang cuma menatap nasi itu.


# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋


__ADS_2