Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Siapa


__ADS_3

" Jadi seperti itu Bu ceritanya... dulu aku berfikir karena Ibu gak sayang sama Mbak, maka dari itu Ibu menitipkan Mbak pada Mak." Kata Ana yang menduga duga.


-------------


Hari ini Arin kembali ke rumah orang tua nya. Sebelum ia berangkat tadi ia sudah minta Restu untuk meraih impian nya.


" Mbak," panggil Ana.


" Hhmm." Arin.


" Gak jadi deh." Ana.


" Aneh." Arin.


" Mbak, aku mau tanya, boleh nggak?" ucap Ana dengan muka serius.


Arin yang merasa ada keanehan, langsung menutup buku yang sedang ia baca. Menatap manik Ana.


" Ada apa?" Arin.


" Pernah nggak di satu ketika merasakan titik jenuh, bosan, kesepian?" serius Ana.


Arin yang merasa aneh mengangkat satu alisnya, merasa heran.


" Kenapa tiba tiba kamu tanya seperti itu? apakah kamu sedang jatuh cinta?" cetus Arin.


" Idih mbak apaan sih? aku serius tau !" sebel Ana ( sebel, sebel ,sebel ) batin Ana.


" Begini..." menghela nafas pelan, melihat raut wajah Ana yang penasaran. Arin tersenyum.


" Bohong kalau aku bilang gak pernah merasakan itu, setiap kali aku sendiri, aku selalu merasakan kehampaan, kesunyian. Tapi tak tau harus berbuat apa, kadang ingin rasanya aku pergi main ke rumah teman tapi kau tau sendiri Mak gak pernah ngijini aku untuk main ke rumah teman Mbak dengan alasan tidak ada yang bantu Mak. Dan kamu tau sendiri jika Mak orang nya gak bisa di bantah. Jadi mbak selalu mencari aman saja."


" Apa Mbak gak pernah ke pikiran untuk pulang ke sini?" Ana.


" Siapa dek yang gak mau ngumpul sama orang tua. ( diam sejenak )


Aku sering iri pada kamu dan juga pada temen temen yang selalu bersama orang tua nya. Aku melihat perbedaan kebebasan. Kalau hidup sama Mak, aku nggak memungkiri semua yang aku mau pasti Mak belikan, tapi kebebasan untuk memilih, peraturan yang ketat, terkadang membuat aku lelah. Dan bagi mereka yang hidup bersama orang tua nya, mereka bebas bermanja, bebas memilih, bebas mengeluarkan pendapatnya.


Tapi apapun, semua itu aku syukuri sekarang karena dengan didikan itu, aku menjadi diri ku yang sekarang," jelas panjang lebar Arin.


Ana hanya mendengar meresapi setiap kata yang di ucapakan Arin.


" Trus sekarang apa yang Mbak rasakan?" tanya Ana lagi.


" Sekarang??? entahlah ada bahagia ada sedih, ada bimbang, campur jadi satu. Seperti es campur." Kata Arin yang serius tapi sambil menggoda Ana.


" Kalau es campur enak kali!" cemberut Ana.


" kenapa ada bimbang dan sedih??" lanjut Ana lagi.

__ADS_1


Arin terdiam menatap langit langit kamar yang tidak tertutup apapun,langsung melihat susunan genteng yang rapi.


" Sedih, karena sebentar lagi kita akan pisah untuk waktu yang lama, dan juga aku tidak terbiasa meninggalkan Mak lama, apakah semua akan baik baik saja. Bimbang karena aku gak tau apa kah aku mampu menjalaninya??" terang Arin.


" Coba Mbak liat aku!" pinta Ana sambil memegang wajah Arin dan meluruskan dengan pandangan nya.


" Setelah keputusan yang sudah di ambil, trus kenapa sekarang ragu? dimana Arin yang aku kenal...hmmm. Aku yakin Mbak pasti bisa! percayalah." Ana berusaha memberi semangat untuk Arin.


Hati Arin tersentuh dengan semangat yang di kobar kan oleh Ana untuk nya kemudian ia langsung memeluk Ana.


" Terima kasih ya," bisik Arin lembut di telinga Ana.


--------


Sore hari nya.


tok


tok


tok


" Assalamualaikum... " ucap tamu dari luar.


" Waalaikumsalam," jawab Ibu.


ceklek..


" Eh Pak Prapto mari silahkan masuk!" sambut Ana.


Dan mempersilahkan untuk masuk.


" Dari mana Pak?" basa basi Ana.


" Dari rumah Na. Oh ya Bapak mana?" belum sempat menjawab.


Ibu yang keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi.


" Wah ada tamu Agung dari mana tadi?" tanya Ibu...sambil meletakkan kopi di depan Pak Prapto.


" Dari rumah Bu, ini Bapak kemana Bu??" tanya Pak Prapto.


" Tadi keluar sama temennya..." jawab Ibu.


" Ini mana Arin nya Bu?" Pak Prapto.


" Dek panggil Mbk!" perintah Ibu.


Ana berlalu pergi memanggil Arin dan ta butuh waktu lama Arin ikut bergabung di ruang tamu. Arin bersalaman pada Pak Prapto..

__ADS_1


" Begini ya Bu saya langsung saja dengan tujuan saya kemari tadi.


Arin, semua berkas sudah siap, dan aku minta nanti kalau di PT tolong jangan kamu kasih tau siapa pun umur kamu berapa ya, soalnya berkas yang di ajukan di situ tertera kamu berusia 23 tahun."


Ana dan Arin kaget sampai membuka mulutnya lebar, sadar terus menutupnya.


" Tua amat si Pak," celetuk Ana spontan.


Membuat Arin memukul lengan Ana.


" Ya memang standar kerja ke luar negeri ya segitu umurnya, jadi saya mohon kerja samanya ya...Rin." Pinta Pak Prapto.


" Iya Pak..." jawab Arin.


Tapi dalam pikiran nya masih belum percaya kalau sekarang ia mempunyai umur jauh lebih tua dari yang aslinya. Arin hanya ketawa geli dalam hati.


" Oh ya Pak, Kalau masalah identitas yang lain masih sama kan Pak?" tanya Arin ingin memastikan.


" Kalau yang lain masih sama, cuma umur saja yang di ubah. Jadi gimana apa kamu siap berangkat besok ke PT?" tanya Pak Prapto serius.


" Besokkkk?!!" serempak Ana dan Arin kaget.


"Yang bener pak jangan bercanda dong Pak!" kata Ana.


" Iya besok pagi, kenapa?" tanya Pak Prapto.


" Beneran pak?" tanya Arin memastikan.


Pak Prapto menjawab dengan anggukan dan senyum tipis.


" Gimana Rin?" tanya Ibu.


" Ini pilihan dan impian Arin Bu, jadi Arin sudah siap," jawab Arin dengan pasti.


Dan tidak lupa senyuman yang memancarkan semangat.


Tapi di sisi lain Ana memandang kakak perempuan nya itu, dengan penuh arti yang tidak bisa di jabarkan. Ta terasa air mata nya menitik, secepat mungkin ia menghapus agar kakak dan Ibunya ta menyadari secepatnya ia segera memeluk kakaknya itu. Arin pun membalas pelukan dengan erat.


" Ok lah kalau begitu, saya ijin pamit dulu. Dan jangan lupa Arin siapkan semua yang kamu butuhkan! besok jam 9 pagi saya akan jemput kamu" titah pak Prapto.


" Baiklah Pak ... terima kasih!" ucap Arin dengan sungguh sungguh.


Pak Prapto pun segera meninggalkan rumah Arin.


Dengan penuh rasa bahagia dan juga bingung, Arin meminta bantuan dan saran kepada Ibu... tentang apa saja barang yang patut di bawa.


Dengan telaten Ibu menerangkan dan membantu Arin mengemasi beberapa barang yang akan di bawa. Ibu merasa sedikit bahagia melihat senyum yang ada di wajah putrinya tersebut, walaupun ada secuil rasa sedih akan di tinggal pergi.


# *M**ohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku. Jangan lupa like dan komen 🙏😘🙏*

__ADS_1


__ADS_2