Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Roni


__ADS_3

" Ya sudah aku pergi mandi dulu ya, dan tolong tunggu aku sebentar saja, Oke." Kata Arin yang lari ke kamar mandi.


" GPL ...!" jawab Mira.


"Mira..... Tolong." Teriak seseorang dari depan kamar.


_________________


Mia yang ketakutan melihat kecoak di pintu kamar. Mira yang terkejut pun langsung lari ke pintu.


" Kamu itu kecoak aja teriak nya seperti orang mau di bunuh." Kesal Mira yang tau Mia teriak hanya karena kecoak. Mira pun langsung membuang kecoak yang sudah di injak oleh Mira.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan biar Arin ke sini ya? kenapa aku sangat merindukanmu? ok aku akan pergi mencari mu. I'm coming honey." seru Roni yang keluar dari ruangan direktur.


Tapi baru beberapa langkah...


" Kak Ron.... Ada call dari Agency di Hongkong." Kata salah satu staf.


" Ya kamu jawab dong, itu kan tugas kamu." Ucap Roni.


" Masalahnya Agency itu ingin bicara langsung sama pimpinan PT." Seru Meri.


" Oh begitu." Jawab Roni datar.


Roni berjalan menuju meja Meri. Tanpa dosa ia pun langsung duduk di atas meja, dan mengambil gagang telpon yang tergeletak. Panjang lebar yang di bicarakan antara Agency itu sama Roni. Tapi ta lupa Roni mencatat setiap poin poin penting. Semua staf yang ada di ruangan itu hanya bisa diam, ta berani menimbulkan suara selama Roni telpon. Roni menutup telpon.


" Ok PERHATIKAN semua," seru Roni , yang masih dengan santai duduk di meja.


Ta butuh waktu lama semua staf mendekati Roni. Boleh di katakan meeting dadakan, atau boleh juga meeting santai.


" Maaf jika mengganggu aktivitas kalian. Ini dari Hongkong bahwa 2 TKW kita akan di pulangkan ke Indonesia. Dan ada beberapa masalah lagi yang mengharuskan untuk menjemput langsung TKW itu ke Hongkong. Jadi saya mau kalian siapkan 2 TKW untuk jadi pengganti mereka. Saya mau lusa siap berangkat." Tutur Roni.


" Maaf kak bos, boleh tau masalah TKW itu apa?" tanya Meri.

__ADS_1


" Pertanyaan bagus!"


" Tolong kamu buka email yang di kirim Mr. Chong. Di situ nanti kamu tau jawabannya" kata Roni, yang terus turun dari duduknya.


" Kak Ron, mau kemana?" tanya Doni.


" Mau jumpa para penggemar ku." Jawab Roni pede.


Roni menelusuri setiap kelas yang ada, semua yang ngefans sama Roni pun langsung cari perhatian Roni. Mata Roni yang terus mengedarkan pandangan mencari sosok yang mengusik ketenangan hatinya. Dan mata itu berhenti pada satu titik yang agak jauh dari posisinya sekarang.


" oh sekarang kamu lagi belajar bahasa." Gumam Roni dalam hati.


" Maaf ya sayang sayang ku semuanya. Aku mau pergi dulu ya ... bye." Centil Roni pada semua fans yang berada di kelas Praktek itu.


Semua TKW yang ada pun terkesima dengan Roni yang ramah menurut mereka. Arin sangat serius mendengarkan Cece Ani menerangkan. Semua TKW yang ada di kelas itu pun fokus pada apa yang mereka pelajari. Tapi akhirnya menjadi riuh setelah terlihat Roni di pintu. Arin ta menghiraukan, dia tetep fokus pada buku yang ia pegang.


" Pak Roni ada apa?" tanya Cece Ani. Yang kaget melihat bosnya ada di pintu memperhatikan seisi kelas.


Arin mulai merasa curiga dengan Roni, tapi dia tetep menatap bukunya. Tanpa berniat untuk melihat Roni. Satu kelas pun di buat bingung, mereka semua memperhatikan gerak gerik Roni.


" Cece Ani... silahkan lanjutkan masih ada 40 menit low jam belajarnya." Tutur Roni dengan sopan yang risih di perhatikan satu kelas.


" Oh iya Pak, maaf. Ayo kawan kawan perhatian, kita kembali lagi pada pelajaran." Seru Cece.


Semua TKW pun langsung kembali fokus pada Cece Ani, kecuali Arin. Roni menghadapkan kursinya ke Arin, ia pun terus duduk, membiarkan satu tangannya sebagai tumpuan pipi. Arin bener bener salah tingkah di buatnya. Arin terus berusaha untuk fokus pada Cece Ani, namun ia tetep gagal.


" Sabar Arin, anggap aja dia itu penampakan." Ucap Arin dalam hati. Tapi beda dengan Roni yang senyam-senyum terus memandangi wajah Arin.


" Di bibir itu ada apa ya? kenapa setiap kali aku melihatnya aku pingin melu*** tu bibir, rasanya seperti apa ya? andai saja aku bisa cium kamu, memelukmu, membelai setiap inci wajah mu, dan kita sama sama jatuh di taman cinta indahnya ...." Gumam Roni dalam hati.


" Ya ampun kenapa lah makhluk satu ini gak pergi pergi, ingin rasanya aku congkel tu mata. Dasar mesum. Sabar Arin sabar, dia itu gak waras sama dengan mereka yang menggilai makhluk astral Roni." Gerutu Arin dalam hati yang merasa sangat kesal dengan tatapan Roni, yang sama sekali ta memalingkan pandangannya ke yang lain.


" Hai sang waktu cepatlah berlalu. Biar makhluk astral yang menyebalkan ini pun berhembus keduniaannya." Kesal Arin yang semakin memuncak.

__ADS_1


Tett... tett... tett


" Huuuff akhirnya... berakhir juga." Ucap Arin yang merasa senang. Dia pun bergegas keluar kelas, namun Roni menghentikan dengan langsung menarik tangan Arin.


"Mau kemana?" tanya Roni yang kini berdiri di belakang Arin.


" Lepaskan, dan aku mau kemana pun Itu bukanlah urusan kamu!" kata Arin dengan menatap tajam ke Roni.


" Semakin kamu jutek sama aku, jangan salah kan aku jika nanti kamu akan jatuh cinta sama aku." Pede Roni, dan semakin mengurangi jarak di antara mereka.


" Kak Roni yang terhormat, tolong lepaskan tanganku." Pinta Arin, yang sedikit menggoda Roni dengan nada bicara yang lembut, dan senyum manis ( terpaksa ).


" Kalau aku melepaskan kamu apa imbalannya?" tanya Roni berbisik ke telinga Arin. Seketika bulu kuduk Arin berdiri, sampai ia memejamkan mata. Tapi dengan cepat dia tersadar.


" Aku akan memberikan apa yang kak Roni mau, gimana?" ucap Arin. Roni pun menatap ragu dengan jawaban Arin.


" Kamu serius akan memberikan apa yang aku mau?" tanya Roni dengan gaya coolnya.


Arin bingung harus gimana lagi membujuk Roni yang tak tau malu itu. Bahkan sekarang mereka jadi pusat perhatian para TKW yang ada di luar kelas.


" Bagaimana pun juga aku harus segera mengakhiri pertunjukan ini." Gumam Arin dalam hati.


" Kenapa kok diam? apa kamu mau terus aku pegang seperti ini? atau kamu ingin aku menggandeng kamu ke pelaminan? tapi kenapa kamu takut sama aku?" tanya Roni yang terus menggiring Arin ke sudut ruangan.


"Siapa yang takut?"


" Kalau gak takut kenapa jalan mundur? setiap aku melangkah maju?" tanya Roni lagi.


" Aku mohon lepaskan kak, gak enak di lihat banyak orang." Arin merasa malu, kepada mereka yang di luar.


" Ooh berarti kamu mau di tempat yang tertutup ya, gimana kalau di ruangan ku saja." Goda Roni yang tau kini Arin merasa malu. Mereka kini sudah berada di sudut ruangan hingga mereka yang di luar pun ta bisa lagi melihat Arin dan Roni.


# Terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🙏🙏🤗😘🌹

__ADS_1


__ADS_2