
" Banyak sepeda motor di depan rumah, berarti banyak tamu. Low tapi kan Nenek masih gak enak badan." Gumam nya dalam hati.
_______________________
" Rin, aku pulang dulu ya ini udah malem, lagian ini PR nya kan udah selesai. Besok kita jumpa lagi ok muuuaaaachh...." Pamit Tanti pada sahabatnya sambil memberikan ciuman jauh.
"Hahahaha dasar kebiasaan yang gak bisa di rubah, belum di jawab pamitnya da lari duluan...." Gerutu Arin.
Arin langsung berdiri mendekati neneknya yang sedang asik melihat tv di ruang keluarga. Setelah berada di tengah-tengah antara ruang tamu dan ruang keluarga, dia terus memperhatikan neneknya. Dia tau betul neneknya sangat letih... tak terasa air matanya menetes dengan cepat dia menghapus air matanya.
" Mak, gak makan?" tanya Arin pada sang nenek, sambil mendekap tubuh neneknya.
" Mak wes maem ndok jek tas iku mau.( Mak sudah makan nak baru saja tadi)." Jawab nenek tanpa menoleh ke Arin, karena masih serius melihat tv.
Kemudian Arin pun beranjak menuju kamar tidurnya, dia membuka tas sekolah nya. Mengeluarkan amplop putih yang tadi pagi dia dapat dari pak Samsul. Ia keluar kamar mendekati neneknya, dan memberikan amplop itu.
"Mak tadi ada surat buat Mak." Ucap Arin dengan sedikit ragu.
__ADS_1
" Tolong bacakan intinya surat itu...!" seru nenek sambil mengecilkan volume TV, kemudian menatap Arin.
" Pelunasan uang gedung, seragam, dan buka paket yang harus segera di lunasi sebelum ujian semester. Dan banyak nya biaya adalah 1.650.000" tutur Arin dengan pelan.
Karena ada rasa takut dan cemas, di raut wajahnya. Nenek memerhatikan wajah cucunya itu, dan kemudian mengeluarkan nafas beratnya.
"Uang kah sebanyak itu???? ya doakan aja Mak banyak rezeki jadi bisa bayar sebelum ujian." Jawab nenek, dengan wajah sayu nya.
Kemudian nenek pun berlalu menunaikan shalat.
" Pak apakah bisa bantu Arin? Arin kasian ama Mak." Suara hati Arin, dan di teman air mata yang sudah membasahi pipinya.
Suara sepeda motor masuk ke halaman rumah, Arin beranjak mencari tau siapa yang datang ternyata om nya pulang entah dari mana karena Om nya seorang pengacara ( pengangguran banyak acara) hahahaha.
" Kebiasaan kalau masuk rumah gak pernah salam." Gumam Arin tapi masih bisa di dengar oleh Om nya.
Seketika Om nya berhenti sambil menatap tajam, dan memajukan telunjuk nya tepat di hidung Arin.
__ADS_1
" Terserah aku, jadi anak jangan bawel !!! cukup rajin sekolah ngerti kamu, jangan sok mengajari orang tua, gak sopan."
"Rin buatkan kopi cepat! itu aku udah rebus air." Perintah Om kepada Arin,
dengan patuh Arin berjalan ke dapur untuk membuat kopi.
" Kamu dari mana aja semalaman gak pulang ????? keluyuran gak jelas,mending sana cari kerja biar bisa bantu bayar sekolah Arin! bisa nya cuma minta duit terus gak pulang. Kamu tu da umur pikir masa depan mu bagaimana nanti kamu menafkahi anak istri mu? kalau kamu sendiri gak pernah mau merubah diri kamu." Tegur Nenek yang sudah merasa bosan dengan kelakuan anak bungsunya.
" Nanti kalau sudah waktunya berubah ya pasti berubah, gak usah di suruh pasti berubah." Jawab Om tanpa merasa bersalah, dan sambil melangkah kan kaki ke kamarnya.
" Duh Gusti sampek kapan anak ku siji iku koyok ngono gak tau gelem nyambut gawe.(ya Allah sampai kapan anakku satu itu, seperti itu gak pernah mau bekerja)" Keluh Nenek sambil menatap ke langit langit rumah, dan tanpa mereka berdua sadari dari awal pembicaraan mereka Arin mendengarkan.
Arin semakin merasa kasian sama nenek nya, dia bingung harus gimana, dia gak mau terus menjadi beban neneknya.
" Ya Allah berikanlah hamba petunjuk Mu, Engkau Maha mengetahui segalanya, tanpa hamba bercerita Engkau tau apa yang ada dalam hati hamba, berikanlah hamba kemudahan, aamiin." Doa lirih Arin setelah sholat nya, dan pastinya dengan air mata yang telah membasahi pipinya. Dia trus menangis tersedu-sedu, hingga kelelahan dan akhirnya lelap dalam tidurnya.
# *M**ohon dukungannya ya para readers....di kolom komentar... dan terimakasih sudah mampir ke novel saya*... 🙏🙏😘
__ADS_1