
" Terima kasih untuk kalian sayang?" kata Pak Prapto dengan senyum bahagia.
-----------
Di rumah Arin.
Semua sudah selesai sarapan dan sekarang sedang menunggu jemputan pak Prapto.
" Ya Allah sesungguhnya aku hanya berlindung kepada Mu, mudahkan lah langkahku ini ya Allah, tenangkan hati hamba ini yang mulai gusar dan mulai ragu. Sesungguhnya Engkau zat yang maha mengetahui." Sepenggal Doa Arin ketika selesai sholat Dhuha.
Di rapikan nya perlengkapan sholat yang baru ia gunakan, di susun kembali pada tempatnya, setelah itu dia duduk di tepi ranjang dia mulai membayangkan sesuatu yang akan dia hadapi nanti.
" Aku percaya dengan rencana Mu ya Allah." Tersenyum melihat atas.
" Rin..." panggil Ibu.
" Iya Bu ..." keluar kamar.
" Sudah selesai sholat nya?" tanya Ibu.
" Ya ..." jawab Arin singkat.
" Tadi sebelum Ana berangkat sekolah apa ada ngomong sama kamu...?" tanya Ibu.
" Nggak ada Bu, cuma dia bilang hati hati saja," jawab Arin.
Sebuah mobil masuk pekarangan rumah.
Dan keluar lah Pak Prapto dari dalam mobil itu.
Ibu, Arin dan Bapak yang melihat itu berdiri di depan pintu rumah.
" Assalamualaikum!" sapa Pak Prapto.
" Waalaikumsalam..." jawab kami serempak.
" Mari masuk dulu Pak" ajak Bapak pada tamunya.
Pak Prapto pun mengikuti.
" Gimana Arin kamu dah siap?" tanya Pak Prapto memastikan.
" Insya Allah!" jawab Arin tegas dan penuh percaya diri.
" Minum dulu kopinya Pak." Kata ibu, yang memberikan secangkir kopi.
" Terima kasih." Pak Prapto.
Segera menghabiskan minumannya dan meminta Arin segera siap siap.
" Ok Arin yuk kita berangkat sekarang," ajak Pak Prapto.
" Iya Pak." Jawab Arin, dan langsung memeluk Ibu dan Bapak.
" Hati hati, jaga diri baik-baik, ingat selalu pesan Bapak dan Ibu semalam," kata Bapak.
Arin mengangguk, setelah berpamitan Arin berjalan keluar rumah, Arin memasuki mobil itu.
" Saya pamit dulu ya Pak permisi. Assalamualaikum," ucap Pak Prapto.
" Waalaikumsalam..." jawab Bapak dan Ibu.
Arin yang berada dalam mobil terus memperhatikan rumah yang hanya berdinding kan dari bambu dan kedua orang tuanya.
" Ini adalah awal, aku harus bisa membuat rumah ini layak untuk mereka... " janji Arin dalam hati.
__ADS_1
Ketika mobil sudah mulai jalan Arin melambaikan tangan pada Bapak dan Ibu, hingga jauh tak terlihat.
Pak Prapto yang beberapa kali memperhatikan Arin akhirnya bertanya.
" Kenapa Rin?" tanya Pak Prapto, tapi masih tetap fokus pada jalanan.
" Eh tidak ada apa apa pak." Jawab Arin tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
" Lalu kenapa kelihatan sedih gitu? apa kamu berubah pikiran?" ucap pak Prapto, memancing emosi Arin.
" Sekali saya membuat keputusan Pak, saya tidak akan mundur sebelum menyelesaikan nya, pantang buat saya!" tegas Arin yang mulai terpancing emosi.
" Bagus lah kalau begitu, perjalanan nya agak jauh, jadi kamu bisa tidur dulu." Ucap Pak Prapto.
" Iya pak..." balas Arin.
" Boro boro mau tidur hati aja gugup kayak gini. Tapi ok lah aku coba saja pejamkan mata ini siapa tau nanti akan sedikit tenang gugup ku..." batin Arin.
Akhirnya selama perjalanan pun Arin hanya pura pura tidur dan wajahnya pun sengaja ia hadapkan ke jendela dan itu berhasil membuat Pak Prapto tertipu... hahahahhah dasar Arin.
Akhirnya... setelah perjalanan hampir 2 jam sekarang mereka sampai.
Di parkiran mobil mereka berdua turun dari mobil, tidak lupa Arin membawa tas ransel nya.
" Besar banget tempat ini, seperti sekolahan saja!" gumam Arin dalam hati.
" Ayo Arin ikuti saya," ajak Pak Prapto, yang berjalan duluan di depan Arin.
Tanpa berfikir panjang pun Arin mengikuti langkah kaki Pak Prapto.
Di dalam kantor PJTKI itu, tidak terlalu istimewa hanya seperti kantor pada umumnya... meja staf yang tersusun rapi dan beberapa staf yang sibuk dengan kerjaan. Dan hanya ada satu staf yang kelihatan sangat nyantai tanpa ada beban pekerjaan dia adalah Roni.
" Hai Ron..." sapa Pak Prapto sambil berjabat tangan.
" Silahkan Pak saya kira tadi gak jadi datang, ini Arin ya?" menjabat tangan Arin dan di jawab dengan anggukan oleh si empunya nama mereka berdua duduk.
" Ini Rin tolong kamu isi dan tanda tangan."
Menyerahkan 2 lembar kertas.
Arin mengambil dan mulai mengisi selama Arin menulis Pak Prapto dan Roni saling berbicara tentang pekerjaan.
" Jadi kamu sudah paham kan dengan peraturan yang ada di PT ini?" tanya Roni saat menerima lembaran kertas itu dari Arin.
"Dan itu wajib di patuhi!" jelas Roni.
" Iya saya paham..." jawab Arin tanpa memandang lawan bicaranya.
" Kenapa Arin di lihat secara dekat dan terus seperti ini membuat jantungku berdebar seperti ini?? ah mungkin aku perlu cek up ke dokter ni, seperti nya kambuh lagi penyakit ku " kata Hati Roni yang menuntun otak Roni untuk mesum.
" Ron ... hai ... sadar Ron." Pak Prapto yang sedari tadi berusaha menyadarkan Roni, hingga akhirnya memukul pipi Roni.
Plaaak...
" Arrrggghh .... " Roni kembali pada tingkat kesadaran nya, masih memegangi pipinya yang terasa panas.
" Bbbbaaahhahahhaha...." Tawa semua staf yang ada dan tentu saja itu membuat muka Roni merah.
" Makannya... jangan suka ngelamun aja... kan jadi kena gampar." Kata satu temannya.
" Kebiasaan kalau lihat yang bening langsung deh kayak gitu... " temen satunya lagi menimpali.
Roni hanya memberi tatapan membunuh pada mereka.
" Ih apaan si Pak, kok pakai nampar segala, sakit tau..!" gerutu Roni.
__ADS_1
" Siapa suruh ngelamun," jawab Pak Prapto tanpa merasa bersalah.
Arin pun hanya tersenyum canggung selama kejadian itu.
Ok kalau gitu sekarang kamu ikut Lia untuk foto biodata.
" Lia, tolong ya," pinta Roni.
" Ok ganteng..." jawab Lia genit, dengan mencolek dagu Roni.
Arin yang melihat itu pun mengernyitkan dahi.
" Ya Allah kok ada cewek ganjen seperti ini..." batin Arin.
Ia pun mengikuti Lia ke sebuah ruangan khusus pengambilan foto. Hanya 5 menit saja sudah selesai.
Arin yang sudah kembali ke meja Roni, tapi di buat bingung dengan ketiadaan Pak Prapto. Arin menoleh ke kanan dan kiri tapi ta menemukan sosok itu.
Melihat tingkah Arin, Roni ketawa dalam hati.
" Ada apa Arin?" tanya Roni.
" Kamu cari Pak Prapto?" lanjut Roni.
Arin hanya mengangguk.
" Pak Prapto sudah pergi, selamat ya.
Kamu sudah resmi terdaftar di PJTKI ini jadi TKW, semoga kami dapat membantu mu meraih kesuksesan." Roni mengulurkan tangannya, dan tanpa ragu pun Arin menjabat tangan tersebut.
" Terima kasih." Ucap Arin dengan di tambah senyum sedikit, memberi kemanisan orang yang memandang.
" Haduh, bibir tu jangan pakek senyum bisa nggak! kan jadi pingin ******* tu bibir."
( Geram dan kesel Roni yang sudah mulai tidak bisa mengendalikan hasrat nya untuk bercinta... efek bujang lapok)
" Tunggu sebentar," menelfon seseorang.
" Hello Mira tolong kamu ke tempat saya! sekarang gak pakek lama!" perintah Roni, sebelum mendapat jawaban dari lawan bicaranya langsung menutup telepon itu.
" Cowok aneh!" batin Arin dengan melirik Roni.
" Ok Rin tunggu sebentar ya, semoga kamu betah di sini."
" Idih gak mau, semoga saja aku cepat pergi dari sini!" batin Arin yang menolak.
" Terima kasih." Hanya itu yang bisa di katakan Arin.
10 menit kemudian.
" Siang kak...." Sapa seorang cewek dengan penampilan agak tomboy.
Arin memperhatikan dari atas ke bawah hanya heran dalam hati Arin.
" Hai Mir, ini perkenalkan Arin. Arin ini Mira dia ketua kelompok Singapura." Roni memperkenalkan.
" Mira." Senyum.
" Arin," membalas senyuman juga.
"Arin mulai saat ini kamu harus ikuti semua petunjuk yang di berikan oleh Mira,ya dan satu hal lagi," sengaja menghentikan ucapannya.
" Aku suka senyum kamu, tersenyum lah terus maka bunga di hati ku akan selalu mekar." Lanjut Roni yang mulai merayu, dengan wajah di buat se imut mungkin.
Arin sedikit kaget mendengar rayuan Roni hanya bisa melengos membuang muka.
__ADS_1
" Ayo Rin ikuti aku, lama lama di sini kamu bisa ikut stress kayak dia," kata Mira dengan menarik satu tangan Arin.
# *M**ohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏😘🙏 di tunggu*.