Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Restu


__ADS_3

" Ia nanti aku hubungi Mak, kalau jam segini kan om gak ada. Sedangkan ibu tau sendiri kan yang pegang hp hanya om."


--------


Di dalam kamar ibu


" Ijinkan saja dia pergi, aku kasian melihat dia termenung beberapa hari ini.


Cobalah Ibu lihat dia sekarang, lebih banyak diem... apakah ini yang Ibu inginkan? cobalah mengerti dengan hatinya. Bukannya Bapak tidak berusaha membantu mencari pekerjaan, tapi memang di sini gak ada lowongan sama sekali. Bapak yakin kalau Arin bisa bahagia dengan Ibu ngijini dia untuk pergi. Untuk sekali saja tolong pikirkan hati Arin."


Ibu tak bergeming sama sekali, hanya diam mendengarkan sang suami berbicara. Bapak menghela nafas panjang,di saat merasa tak ada respon dari wanita yang sudah di nikahi 17 ini...


Lama tak ada suara di kamar itu, dan.


" Jika menurut Bapak itu adalah hal yang baik, dan Arin sendiri bisa menjalani, Ibu ikhlas dan ridho. Tapi apakah bapak gak mikir kalau Arin itu terlalu kecil pak? apakah dia mampu menghadapi lingkungan baru dan orang orang baru?" tanya Ibu pada Bapak yang tengah bersandar di dinding bambu.


" Apakah Ibu meragukan anakmu sendiri???? hmmm. Arin itu jalan pemikiran nya gak sama dengan anak yang sebaya nya. Apa Ibu slama ini tak menyadari hal itu????" tanya balik bapak secara bertubi tubi. Tanpa menjawab pertanyaan ibu terlebih dahulu.


Ibu memutar memori nya kembali.


Dimana Arin kecil hingga kini, selalu mementingkan Orang tua dan Ana terlebih dahulu. Arin selalu menyimpan sebagian uang jajan yang di beri dari nenek. Dan ia mau bantu bantu tetangga untuk memasukkan kelereng ke dalam kantong plastik untuk undian setiap hari mulai pulang sekolah hingga malam, hanya untuk mendapat upah yang tak begitu besar. Itu semua ia lakukan hanya ingin membantu keuangan orang tua nya, uang itu akan di berikan oleh Arin ketika salah satu dari orang tua nya yang datang ke rumah nenek. Itu pun ia lakukan tanpa nenek sadari.


Air mata Ibu pun meluncur sempurna membasahi pipi Ibu, kini Ibu tau apa yang harus dilakukan.


Berjalan keluar kamar, ingin mencari keberadaan sang anak.


" Mbak mana Dek??" tanya Ibu pada Ana yang ada di ruang itu.


" Kayaknya di depan Bu, ada apa?"


" Makasih sayang."


" ok."


Ibu pun terus ke depan rumah, pandangannya terus mencari sosok itu, tapi belum juga Ibu temukan. Ibu pun langsung berjalan ke samping rumah, dan akhirnya dia lihat sosok Arin yang sedang duduk di ayunan ban bekas di bawah pohon rambutan.


Dengan langkah pelan,ibu mendekat.


" Kok ngelamun sendiri si? kenapa gak masuk ke dalam...hmmm?" tanya ibu.


Arin yang dari tadi memang sedang melamun, jadi kaget setelah mendengar suara ibu.


Dag


Dig

__ADS_1


dug


Irama jantung Arin cepat karena kaget.


" Ibu, bikin kaget aja sih...???" kata Arin dengan cemberut.


" Kamu itu loh ngapain di sini?"


" Lagi pingin aja, di sini adem."


" Ibu mau tanya sama kamu? apa kamu tidak bahagia tinggal sama kami di rumah ini??" tanya Ibu yang kini sudah duduk dengan arin.


" Ibu ngomong apaan sih? dari dulu lagi aku ingin tinggal bersama kalian, bukannya Arin tidak bahagia tinggal sama Mak dan Om, tapi Arin ingin seperti teman teman Arin yang selalu barengan sama orang tua dan adiknya. Arin bahagia tinggal bersama Mak, karena Mak selalu memberikan yang terbaik buat Arin, tapi sungguh Arin malah ingin tinggal di sini." Ungkap Arin dengan wajah yang bahagia.


" Kalau kamu bahagia di sini, berikan alasan pada ibu kenapa kamu ingin pergi kerja."


"Ibu tau kan alasan nya apa? aku hanya ingin mencari pengalaman yang berbeda, dan sekaligus ingin merubah keadaan kita, tapi kalau sebuah impian itu merupakan sebuah kesalahan, Arin minta maaf." Terang Arin dengan wajah sayunya.


" Tidak salah, bahkan ada sebuah sajak yang berbunyi ' Raih lah mimpi setinggi mungkin'


jadi." Sejenak Ibu terdiam dengan memandangi wajah anak sulungnya itu.


" Jadi apa Bu...?" tanya Arin polos.


Seketika membuat Arin bangkit dari ayunan, dengan mata yang bulat sempurna.


" Benarkah Bu, ini Ibu gak lagi bercandakan??" Arin yang masih ingin memastikan dengan apa yang ia dengar.


" Ia pergilah." Jawab Ibu singkat dengan senyuman.


"Aaaarrghkkkk." Teriak Arin kesenangan dia pun langsung memeluk sang ibu, dengan erat nya.


" Makasih Bu." Bisik Arin dengan air mata yang menemani dan pelukan yang belum ia lepaskan.


Tanpa mereka berdua sadari bahwa ada dua pasang mata yang melihat mereka. Dua pasang mata itupun ikut bahagia melihat kehangatan pelukan itu. Tanpa ragu Bapak dan Ana mendekati dan ikut berpelukan.


Bapak lega rasanya bisa melihat keluarga nya seperti sekarang ini.


-------


" Hallo, Assalamualaikum Mak."


" Hallo waalaikumsalam Rin." Jawab Mak dengan bahagia, karena dapat mendengar suara Arin yang beberapa Minggu ini ia rindukan.


" Ia Mak ini Arin. Mak gimana sehat?"

__ADS_1


" Sehat, kamu gak pulang ta?"


" Nanti Mak, kalau Arin sudah mengurus yang di sini. Mak sehat sehat Ya, doakan Arin aja Mak."


" Ia pasti Mak doakan, tapi cepat pulang ya! di rumah sepi gak ada kamu, apalagi teman teman mu sering cari kamu kesini."


" Kirim salam ya Mak kalau mereka ke rumah lagi tolong sampaikan maaf ku pada mereka."


" Dasar bocah nakal, di suruh pulang malah titip salam, ya udah kamu hati hati, oh ya gimana kamu dah dapat kerjaan a?"


" Insya Allah Mak ini masih ngurus dokumen dulu."


" La ngapain kok pakek dokumen? emang kamu mau kerja apa to ndok?" penasaran Mak.


" Pokoke halal Mak."


" Ya udah kalau gitu, gimana Ibu, Bapak mu sehat a?"


" Alhamdulillah sehat Mak."


" Ya udah ya Mak, lain kali lagi aku telfon, assalamualaikum."


" Iya hati hati, waalaikumsalam."


Tut


Tut


Tut


Tut


Panggilan telepon di matikan sama Arin, kemudian dia mendekati Bapak.


" Pak apa nanti malem jadi ke rumah Pak Prapto?" tanya Arin.


" Iya, semoga saja orangnya udah pulang.


Kenapa?"


tanya bapak yang melihat wajah anak yang penuh dengan tanda tanya.


" Penasaran aja."


# *M**ohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku mohon dukungannya dengan like dan komen 🙏*😘🙏

__ADS_1


__ADS_2