
Di satu sisi Mira masih kepikiran ruang direktur. "Apa mungkin ruangan yang di dalam kantor itu? tapi setau aku ruangan itu gak pernah di gunakan. Trus kenapa sekarang tiba tiba ... Ahh terserahlah. Orang kaya memang bebas." Batin Mira.
Mira pun akhirnya terlelap, mengejar Mia dan Arin ke alam mimpi.
____________
Pagi hari menjelang...
Tepat pukul 6 Arin bergegas pergi ke kantor, dia membawa sapu, mop dan juga lap. Dengan cekatan Arin membersihkan ruangan itu, hingga benar benar rapi. Sekarang tinggal ruang Direktur, tapi Arin kebingungan. Lantas ia pergi bertanya pada salah seorang senior di situ. Tapi diapun bingung menjawabnya.
" Arin..." seseorang memanggilnya Arin.
Merasa dirinya di panggil pun menoleh.
" Di sini ruangannya," lanjut Roni dengan melangkah membuka sebuah ruangan. Arin pun mengikuti Roni memasuki ruangan.
"Berantakan sekali, kira kira pasti akan membutuhkan waktu lebih dari 1 jam, ya ampun." Batin Arin yang melihat ke dalam ruangan yang begitu berantakan.
Roni yang sedari tadi memperhatikan Arin, dia seperti tau apa yang sedang di pikirkan Arin.
" Kenapa?" tanya Roni, menyadarkan Arin dari khayalan nya.
" Ngga apa apa kak." Jawab Arin yang tak melihat wajah Roni.
Arin pun segera memulai tugasnya, meskipun Roni ta beranjak keluar. Tanpa segan dan ragu Arin yang memang sejak awal tidak suka dengan Roni, tetap melakukan kerjanya tak mempedulikan Roni yang memandangi nya terus.
" Kenapa aku selalu tidak bisa menahan gairah ku setiap kali melihat dia, bisa stress aku kayak gini terus." Batin Roni yang sedikit menahan gejolak yang ada di hatinya.
" Maaf kak, bisa kah kak Roni pergi! biar aku menyelesaikan tugas ku dengan segera." Pinta Arin yang mulai merasa risih, dengan mata Roni yang tak bisa di kondisikan.
Roni pun hanya mengangguk dan langsung pergi. Tapi tentunya ta pergi menjauh, karena dia hanya ada di depan pintu saja, dan tentunya masih memandang Arin. Bagi Arin ta mengapa asal jangan terlalu dekat. Hampir satu jam setengah Arin membersihkan, namun belum juga selesai.
__ADS_1
" Ya ampun tinggi amat sih ni jendela, kan jadi agak susah membersihkannya." Gumam Arin. Roni yang berada di belakang Arin pun langsung membantu Arin, yang sedang kesusahan dan hampir jatuh.
" Aaarrggh ...."
Arin terjatuh tapi dengan sigap Roni yang berada di belakang Arin langsung menangkapnya.
Seketika Arin dan Roni saling pandang, kini Arin berada dalam gendongan Roni.
" Bibir itu ... Ron sabar Ron ujian Ron." Hati Roni bersuara.
" Lepaskan kak!" kata Arin yang sedikit merasa malu. Roni pun menurunkan Arin.
" Berat juga ya kamu." Goda Roni.
" Siapa suruh nolongin aku, tapi apa pun. Terima kasih." Ucap Arin yang memberanikan diri untuk melihat Roni.
" Ahh, mimpi apa aku semalam. Tetapan itu membuat aku semakin ingin menerkam mu." Lagi lagi Roni bergumam di hati. Yang semakin ya kuasa menahan hasrat nya.
Tanpa mereka berdua sadari, Mira memperhatikan mereka berdua semenjak Arin mencoba membersihkan jendela.
" Jadi ini rencana mu Ron! bagus juga langkahmu." Seloroh Mira yang menghampiri Roni di ruangan direktur tersebut.
" Kamu jangan ikut campur Mira. Lebih baik kamu persiapkan dirimu!" tegas Roni.
" Aku gak pernah mau ikut campur urusanmu. Hanya perlu kamu ingat, Arin tidak sama seperti gadis gadis yang pernah kau Miliki. Dia terlalu sempurna buat kamu, cowok brengsek yang gak pernah puas dengan perempuan. Ingat jangan pernah mencoba untuk menjadikan Arin mangsa mu!" ancam Mira.
Setelah kepergian Mira, Roni duduk terdiam di kursi direktur. Dia terngiang ngiang di telinga nya, kata kata Mira tadi.
" Apakah aku separah itu?" tanya Roni pada diri nya sendiri. Dia terus mengingat kembali apa yang telah sudah ia lakukan, sama gadis gadis yang dekat dengan dirinya.
" Apa salah ku mereka yang menggodaku, dan lagipun selama ini aku gak pernah melakukan hal di luar batas."
__ADS_1
" Aku hanya menyikapi mereka dengan sewajarnya saja, apa itu salah? karena aku gak mau mereka terluka. Lagipun sebagai pimpinan di sini jadi wajar dong aku berusaha sikap baik sama mereka."
" Tapi rasa ini benar benar beda, setiap kali aku dekat dengan Arin, rasanya jantungku berdetak kencang, hingga rasanya ingin lompat keluar. Dan aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya." Suara hati Roni.
Di Kamar.
Arin pergi mengambil perlengkapan mandinya. Ia merasa badannya lengket karena terlalu banyak mengeluarkan keringat.
Ia berjalan ke kamar mandi.
" Arin." Panggil Mira.
" Ia Mir. Ada apa?" Arin yang berhenti mendengar Mira memanggilnya.
" Aku dengar tadi dari orang kantor kamu habis jatuh." Bohong Mira.
" Ishh, nggak lah, ni lihatlah aku juga ngga apa apa, kan."
" Rin, aku hanya minta kamu hati hati sama Roni! " pinta Mira.
" Terima kasih kamu sudah menghawatirkan aku. Masalah Roni, kamu tenang saja. Arin gak semudah itu untuk jatuh dalam perangkap buaya." Jawab Arin, dengan mengernyitkan matanya sebelah.
Mira yang mendengar kata Arin pun merasa sedikit lega. Bukan karena ia cemburu, tapi karena Mira sudah menganggap Arin saudara. Dengan lamanya ia tinggal di PT, membuat Mira mengetahui tingkah laku Roni. Yang selalu tebar pesona dengan gadis gadis yang ada di PT tersebut. Bukannya Mira tidak tau bahwa Roni adalah pemilik PT tersebut. Namun, dia lebih memilih bersikap biasa tanpa memandang status Roni.
" Ya sudah aku pergi mandi dulu ya, dan tolong tunggu aku sebentar saja, Ok." Kata Arin yang lari ke kamar mandi.
" GPL ...!"Jawab Mira.
" Mira..... Tolonggg!" teriak seseorang dari depan kamar.
# Terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen, jangan lupa vote dan favoritkan ya 🙏🙏🙏🤗
__ADS_1