Garis Hidup Arin

Garis Hidup Arin
Kisah


__ADS_3

" Huuhh selamat... bukannya apa aku gak mau nanti dia banyak tanya lagi, dan pasti ujung ujungnya bahas masalah sekolah," gumam Arin dalam hati sambil terus berjalan pulang.


--------------


Melakukan aktivitas seperti biasa,


menyiapkan 2 gelas besar air minum, yang satu kopi dan yang satu teh.


Kemudian memasak nasi.


Sambil menunggu nasi matang, bersih bersih rumah. Karena Nenek tidak suka jika dia bangun rumah masih dalam keadaan berantakan.


Setelah selesai semua, baru dia bisa berbelanja sayuran yang akan di masak, tanpa minta untuk membeli sayur, sudah menjadi kebiasaan Nenek akan meletakkan sejumlah uang di atas TV sebelum tidur.


Pulang dari pasar.


Segera membersihkan belanjaan dan mulai memasak, tanpa menunggu waktu lama, beberapa lauk pauk sudah siap di atas meja makan.


Sebenarnya hal seperti ini lah yang selalu di rindukan sama Nenek. Ketika bangun tanpa susah payah lagi semua sudah beres.


Jam menunjukkan pukul 6.30


" Huuhh, akhirnya selesai juga," gumam nya.


" Sekarang tinggal nyantai menunggu Big Bos bangun. ckckckck…." Arin ketawa kecil.


Tiba tiba terdengar suara salam.


" Assalamualaikum...."


tok


tok


tok


" Waalaikumsalam." Jawab Arin dan terus melangkah ke luar.


Arin membukakan pintu.


" Maaf dek, Mak ada?" tanya tamu tersebut, seperti sudah sering bertamu.


" Iya ada, silahkan masuk dulu!" mempersilahkan tamu.


" Maaf sebelumnya ini Ibu dan Bapak ke sini mau pijet ya?"tanya Arin.


" Iya kami berdua mau pijet, maafkan kami yang datang terlalu pagi. Karena rumah kami jauh, jadi kami berangkat subuh tadi dari rumah." Jelas tamu itu.


" Baiklah tunggu sebentar, karena Mak masih tidur, saya bangun kan dulu," pergi membangunkan Nenek.


Arin menepuk badan nenek pelan.


" Mak bangun, ada tamu!" sedikit menggoyangkan badan nenek.


Nenek terbangun dan berusaha membuka matanya.

__ADS_1


" Ada tamu." Ucap Arin ulang.


" Iya." Jawab Mak dengan nyawa yang belum kembali utuh. Setelah mendapat jawaban, Arin pun berjalan ke dapur untuk membuat kan minum tamu.


Nenek sudah sadar sepenuhnya.


Arin yang mau mengantarkan minuman ke depan, di halangi oleh Nenek.


" Apa Mak..?"


" Bilang sama mereka suruh tunggu sebentar, nenek mau mandi dulu!" perintah Mak.


Tanpa menjawab Arin pun hanya mengangguk, dan terus ke ruang tamu.


" Silahkan di minum, maaf Mak masih mau mandi dulu..." kata Arin.


" iya... terima kasih."


30 menit kemudian


" Mak aku sudah siap kan semua, lebih baik Mak makan saja dulu!" pinta Arin.


" Ia ... tolong ambilkan nasi sedikit saja." Pinta Mak.


Arin pun pergi mengambilkan makanan.


" Arin mau pergi ke rumah Tanti ya Mak, sebentar saja kok," pinta Arin.


" Iya, tapi cepat pulang."


Ketika Nenek sudah selesai sarapan, Arin membawa piring kotor ke dapur dan membersihkan. Setelah selesai dia pun pergi ke rumah Tanti yang tak jauh dari rumah nya.


Tiba di rumah Tanti.


" Tan...Tanti ... assalamualaikum..." ucap Arin.


" Kok sepi?" tanya Arin dalam hati.


" Tan...Tanti."


Masih belum ada jawaban.


Dan tiba-tiba ada yang memanggil.


" Kamu cari siapa dek..."tanya seorang Ibu Ibu.


" Saya mencari Tanti ... lek."


" Oooo Tanti, ia pergi sama semua keluarga nya ke Batu, sudah sejak kemarin perginya ..." terang orang itu.


" Maaf kalau boleh tau, kira kira kapan ya pulangnya??" tanya Arin.


" Dengar dengar sih katanya 1 mingguan gitu."


" Ya udah kalau gitu terima kasih" Arin mengakhiri pembicaraan, kemudian ia pamit undur diri.

__ADS_1


" Tan Tan, padahal aku mau curhat sama kamu dan sekalian mu pamit, eeehhh malah kamu nya gak ada. Kita bakal lama gak ketemu, kamu adalah satu satunya sahabat ku yang tersisa saat ini," gumam dalam hati menghela nafas dalam.


----------


Di rumah Ibu.


Ana yang merasa kesepian mulai jail pada Ibu.


Ibu yang sedang memasak tiba tiba bingung mencari garam.


" Padahal tadi kan ada di sini kok gak ada," gumam Ibu.


Dan sambil terus mencari garamnya.


" Ehh tak kan lah hilang begitu saja."


Ana yang berada di belakang pintu penghubung antara ruang tamu dan dapur ketawa kecil hanya dia sendiri yang mendengar.


Hampir frustasi ibu mencari akhirnya Ibu memutuskan untuk membeli. Tapi belum sampai Ibu melangkah masuk ke dalam. Ibu merasa curiga dengan pintu yang bergerak gerak sendiri. Ibu pun akhirnya mengintip ke cela pintu dan.


" Oh, ternyata maling garam ibu ada di sini, hemm" membuka pintu tersebut dan langsung menjewer telinga Ana.


" Ampun... sakit Bu!" rengek Ana.


" Siapa suruh ngambil garam Ibu... haaah?" Ibu sedikit kesal.


" Ibu kan cantik jangan marah ya! nanti keriputnya cepat ada low, jadi gak cantik kan kalau banyak keriputnya." Rayu Ana.


Ibu yang geram pun langsung kembali melanjutkan masakannya.


" Bu bosan tau, kapan Mbak pulang?" tanya Ana yang sudah duduk di depan perapian.


" Mbak gak bilang kapan balik sini... toh Mbak cuma ambil baju dan pamitan sama Mak."


" Eehh kok tumben kamu punya kangen sama Mbak? biasa kan kalian hidup berjauhan, tapi sekarang kok malah melo kayak gini?" tanya Ibu.


" Hampir 2 bulan kan aku dah biasa ada Mbak tapi sekarang tiba tiba kangen." Ana mulai sedih.


" Setelah ini Mbak malah pergi gak sebentar, jadi sekarang itung itung belajar jauh..." nasehat Ibu.


Dan tanpa terasa Ana sudah mulai menangis, Ibu yang melihat itu langsung mendekati. Mengusap lembut kepala Ana.


" Ini sudah jadi pilihan Mbak, jadi kamu harus memberikan semangat buat dia, bukan malah nangis kayak gini..." nasehat Ibu.


" Tapi aku sayang mbak Bu ... sejak dulu lagi aku ingin kita hidup bersama nggak terpisah. Sekarang impian itu sudah terwujud, tapi kenapa hanya sekejap??" keluh Ana.


" Ibu pun ingin kita seperti ini, bisa hidup bersama, tapi apalah daya Ibu, semua Itu karena Mak," kata ibu.


" Emang kenapa Bu?" tanya Ana penasaran.


" Dulu ketika kamu masih bayi, dan ketika itu sekitar umur 2 tahun dan Mbak umur 4 tahun. Mak mengajak Mbak untuk bermalam di rumah Mak, dia bilang akan mengajak Mbak selama 3 hari saja.


Tapi selama 2 Minggu lamanya, Mak gak kunjung mengantar Mbak pulang, akhirnya Ibu dan Bapak memutuskan untuk menjemput pulang. Tapi malah Mak marah marah dan hampir mau bunuh diri, karena gak rela Mbak di ambil. Dengan terpaksa Bapak akhirnya membiarkan Mbak ikut Mak, sampai sekarang." Cerita ibu.


" Jadi seperti itu Bu ceritanya...dulu aku berfikir karena Ibu gak sayang sama Mbak, maka dari itu Ibu menitipkan Mbak pada Mak." Ana, yang menduga duga.

__ADS_1


# mohon dukungannya ya dan terima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku, jangan lupa like dan komen 🙏😘🙏 di tunggu ya..


__ADS_2