
"Kenapa mbaknya tadi gak tanya saya dulu mbak, kan uang mbak gak akan hilang gitu aja apalagi cari uang sekarang susah. Ya ini jadikan pengalaman saja mbak biar ke depannya lebih hati hati." Arin mendengarkan terus apa yang di katakan oleh pemilik warung itu. Dengan kesedihan yang ia rasakan dan air mata yang terus mengalir.
Mungkin sebagian orang uang 300 itu tak banyak, tapi beda buat Arin itu adalah uang simpanannya selama masih sekolah.
_____________
Pandangannya lurus ke depan, entah apa yang ada di dalam hatinya, di dalam angkutan umum itu Arin diam ta bersuara selama perjalanan.
Ibunya pun hanya beberapa kali memerhatikan wajah anaknya, hati Ibu pasti tau apa yang sekarang di rasakan oleh anaknya. Mereka telah sampai di bengkel om Arin, berjalan memasuki tempat tersebut di sambut dengan senyuman oleh omnya.
" Gimana interview nya ? lancarkan?" tanya om ke kakak iparnya. Om sebenarnya mau menanyakan kepada Arin langsung, karena melihat ekspresi muka ponakannya sudah membuat om mengurungkan niat nya.
" Kami di tipu, tapi biarlah semua ini jadikan pelajaran hidup buat arin, agar kelak dia lebih berhati-hati lagi. Oh, iya sekalian kami mau pamit pulang sore ini, terima kasih karena mengijinkan kami menginap di sini. Nanti kalau pulang jangan lupa mampir ke rumah ya."
" Kenapa gak besok pagi aja, biar kalian istirahat dulu, jangan sungkan begitu kita kan bersaudara." Ucap Om.
" Arin ingin pulang hari ini, kami pun tadi udah pesen tiket." Kata ibu.
Dari tangga terdengar suara langkah kaki,ibu dan Om pun melihat ke asal suara tersebut,.
Arin turun dengan membawa tas nya dan sekalian membawakan tas milik ibunya.
" Om aku pamit pulang ya ... terima kasih untuk 2 hari ini." Kata Arin sambil memeluk Om nya.
" Ya udah hati hati kirim salam ya buat yang di rumah kuat kan hatimu, Om yakin kamu pasti bisa." Saran om sambil puncak kepala Arin.
Arin hanya menjawab dengan anggukan.
Hari ini di stasiun sangat ramai, masih ada 1 jam untuk istirahat sebelum jadwal kereta nya berangkat.
Arin dan ibu duduk di kursi yang ada di luar stasiun, karena yang ada di dalam penuh dengan calon penumpang yang lain' cuaca yang panas membuat gerah dan haus yang sangat. Arin pergi meninggalkan ibunya berjalan ke sebuah toko, ia membeli roti dan minuman.
" Bu, maaf." Ucap Arin lirih sambil menatap wajah ibunya.
" Ia, gak pa pa." Jawab ibu sambil mengusap pipi Arin.
Lama mereka menunggu kereta dan selama itu pula Arin dan ibu diam sibuk dengan pikiran masing masing, Hingga waktunya berangkat tiba, memasuki gerbong Kereta api dengan memperhatikan no penumpang dan akhirnya ketemu kursi mereka. Selama perjalanan mereka pun hanya diam hanya Ibu sekali sekali menggoda bayi yang ada di depan kursi mereka.
" Alhamdulillah... akhirnya tiba juga. Bu naik ojek ya ini kan sudah malam?" kata Arin.
__ADS_1
" Apa kamu bener bener capek? hmm??" tanya Ibu.
" Enggak juga sih."
" Jalan aja yuk." Kata ibu sambil menggandeng tangan Arin melangkah keluar stasiun.
Dengan senyuman yang mengembang Arin mengikuti ibunya, selama berjalan Arin dan Ibunya terkadang bercanda biar tidak terlalu menakutkan juga perjalanan mereka, perjalanan yang lumayan jauh dan gelap. Karena melintasi pegunungan rumah pun jaraknya berjauhan, jadi coba menghilangkan rasa takut itu dengan sedikit bercanda.
Took
Tok
Tok
" Assalamualaikum... Pak, Dek." Panggi Arin.
" Waalaikumsalam." Jawab Ana dari dalam rumah, ta butuh waktu lama untuk membuka pintu, karena kamar yang ana tempati adalah kamar depan.
" Ibu, Mbak! kok udah pulang? gimana kerjaannya?" seloroh Ana seperti polisi yang sedang tugas mengintrogasi.
" Stop, udah malem lebih baik sekarang tidur ok." Perintah Ibu, pada Ana karena Ibu tau kalau Ana di ladeni bisa sampai pagi cerita nya.
Ibu terus pergi ke kamar langsung istirahat, begitupun dengan Arin dia langsung membersihkan diri terus istirahat.
toel
toel
" Mbaakk Mbakkkk. Cerita dong! jangan diem aja." Belum sempat Arin menjawab.
" Ana, udah malem cepetan tidur." Perintah ibu yang ada di kamar sebelah.
Dinding pembatas antara kamar Ibu dan Ana hanya lah sebuah anyaman bambu, jadi sekecil apapun suara bisa di dengar.
" Iya Bu!" jawab Ana dengan muka cemberut, Arin yang tak tahan geli melihat muka adiknya ia pun tertawa sambil di tutupi bantal mulutnya.
Ana yang merasa jengkel pun langsung memeluk Arin seperti sedang memeluk guling dan ta beberapa lama mereka pun tertidur.
Keesokkan harinya aAna sudah bangun dan bersiap siap untuk sekolah.
__ADS_1
" Mbak cerita dong...! aaaa gak asik tau." Rengek Ana ke Arin sambil memasang wajah memelas.
Tapi Arin hanya melirik tanpa menjawab, karena ia memang sengaja ingin menggoda Ana.
" Ana lihat jam itu, sudah jam berapa kamu telat low nanti." Seru Ibu.
Dengan refleks pun Ana melihat jam yang ada di dinding, dengan mata yang membulat sempurna kemudian ia,
" Aaaaaaaakkkkkk." Teriak Ana sambil berlari keluar rumah hingga dia lupa untuk berpamitan dengan keluarga nya.
Ibu dan Arin pun hanya bisa tertawa geli melihat Ana yang kalang kabut pergi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 6. 55 sedangkan ia membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai sekolah.
" Dasar Ana selalu meremehkan waktu dan ketika udah terlambat kayak gini baru lari kayak motor yang baru di isi bensin." Geleng geleng ibu sambil menghabiskan sarapan nya.
" Biarlah Bu..itukan sudah jadi sifatnya." Jawab Arin.
tok
tok tok
tok
Terdengar suara pintu, kami pun menoleh ke sumber suara, karena pintu rumah gak di tutup tamu itupun langsung masuk.
" Assalamualaikum." Seru Pak Prapto.
" Waalaikumsalam." Jawab kami berbarengan.
" Masuk silahkan, ada apa kah gerangan yang menyebabkan anda kesini?" tanya basa basi Bapak ke tamunya.
" Begini Pak, saya mau bertanya mengenai Arin yang mencari kerja apa kang iya? karena saya dengar dari orang kampung gitu Pak." Jelas Pak Prapto.
" Iya, memang benar inipun semalam baru pulang cari kerja ke tempat Omnya, ternyata di sana malah kena tipu." Balas Bapak Arin dengan wajah sedih.
" Ya yang sabar pak mungkin bukan rejekinya, mungkin Arin bisa ikut saya saja Insya Allah gak akan ketipu." Jelas Pak Prapto.
"Maksudnya gimana ya?" tanya Bapak.
" Maksud saya jadi TKW saja, kalau negara tujuan itu tergantung Arin. Lumayan kan gajinya juga besar." Terang Pak Prapto.
__ADS_1
Arin yang sejak dari tadi duduk di tepi ranjang sambil mendengarkan pembicaraan Bapak dan tamunya. Arin sudah mulai sedikit tertarik dengan penawaran pak Prapto. .
" *T**erima kasih 🙏🤗 sudah mampir ke cerita ku mohon dukungannya ya dengan like dan komen 🙏😘🙏*