
Keesokan harinya Meifeng telah keluar dari cincin dimensi tepat dimana ia berbaring. Meifeng keluar mencari udara segar ia tak cuci muka sebab sudah mencucinya di ruang dimensi.
Ia berjalan menuju pohon di depan kediamannya, Ketika hampir sampai ada seseorang memanggil "Meifeng kau belum mati juga ternyata" ucap suara itu sarkastik.
Meifeng menoleh ke sumber suara dan mendapati putri selir yang memfitnahnya dulu, Jiafeng. Meifeng diam ia menunggu apa yang dilakukan kakak keempatnya, ia punya dua kakak laki laki dan kakak ketiganya adalah kakak dari Jiafeng.
Jiafeng yang merasa terabaikan kesal ia maju hendak mendorong Meifeng tapi dengan gerakan cepat hingga hanya bayangan yang dilihat ia memotong tangan Jiafeng "aakkkkhhh!!....apa yang kau lakukan dasar tidak tau diri" Jiafeng mengeluarkan cambuknya hendak memecut Meifeng, dengan cepat ia menahan cambuk itu dan menariknya hingga berpindah tangan.
Meifeng lalu memecut Jiafeng dengan kesal, "aduh...ah!!..sakit bodoh" Jiafeng menatapnya marah, "sudah tau sakit kenapa kau tidak menghindar bukannya kau lebih kuat dari ku, ingat aku ini sampah" Meifeng mencambuki lebih keras lagi hingga kulit Jiafeng robek.
Jiafeng tidak bisa berkata kata lagi ia ingat kalau lebih kuat dari sampah, ia kesal lalu memanggil hewan kontraknya harimau putih, Meifeng tertawa renyah harimau itu menyerangnya dengan brutal "rasakan itu ******" ucap Jiafeng merendahkan. Dengan satu tebasan kepala singa itu terpisah dari kepalaya Jiafeng muntah darah karna hewan kontraknya mati, ia mengangkat kepala harimau itu dan memamerkannya kepada Jiafeng "Karyaku bagus kan kakak!!" ucap Meifeng dengan menekan kata kakak.
Jiafeng ketakutan setengah mati ia harus mencari cara agar bisa kabur, sebelum kabur Meifeng mengikat leher Jiafeng dengan rantai hitam miliknya lalu memanggil Bian dari cincinnya, Bian keluar dan menatap marah ke arah Jiafeng "bawa dia ke jendral feng ingat hapus ingatannya tentang kejadian ini dan bilang ke jendral kalau kau disuruh oleh seseorang membawa Jiafeng dan katakan ia telah menyinggung orang yang tak sepatutnya disinggung" ucap Meifeng panjang lebar dan memberikan rantai itu ke Bian.
Bian mengangguk patuh kemudian membuat Jiafeng pingsan dan menghapus ingatannya, lalu pergi ke gerbang kediaman jendral dengan Qing gong (ilmu meringankan tubuh) berpura pura jika ia dari luar ia tak lupa menutup wajahnya, ketika sampai ia di hadang oleh dua prajurit penjaga "mau apa kau dan siapa yang kau gendong itu" tanya salah satu penjaga "aku datang kesini ingin menemui jendral feng dan yang aku gendong putri Jiafeng" pengawal itu terkejut dan pergi menemui jendral.
Putra pertama jendral, Fengyin melihat itu menghentikan prajurit tersebut "ada apa? kenapa lari lari" tanya Fengyin "anu tuan..itu"
"apa cepat katakan!" Fengyin tidak sabar.
"itu..tuan muda di depan ada seorang pemuda yang membawa putri Jiafeng" ketika mengatakan itu Fengyin berlari kegerbang mendengar nama Jiafeng.
__ADS_1
"siapa kau kenapa Jiafeng bisa ada di tanganmu!" Fengyin marah melihat adiknya terluka parah "maaf tuan muda saya hanya ingin menemui jendral secara baik baik kalau ingin tau saya akan menjelaskannya jika sudah bertemu jendral feng" kata bian sopan ia hanya ingin menyelesaikannya agar tidak melihat muka muka menjijikan itu.
"baiklah mari ku antar tapi biarkan aku menggendong Jiajia ku" pinta Fengyin "maaf tuan saya hanya ingin menuntaskan tugas yang diberikan tuan saya" Fengyin pun pasrah ia tak mau menyinggung tuan dari pemuda itu. Mereka berjalan sampai di ruang pertemuan sudah ada jendral feng disana dengan raut wajah khawatir beserta istri dan tiga selirnya begitu juga dengan tetua keluarga feng sebab Fengyin sudah menelepati ayahnya.
"hormat hamba jendral feng" bian menunduk sedikit pasalnya ia masih menggenong Jiafeng.
"Jia'er!!!!!" teriak selir Nuan kesayangan jendral dan berlari ke arah bian.
"jelaskan apa yang terjadi" jendral feng marah melihat keadaan mengenaskan putrinya.
"silahkan tanya yang mulia jendral feng" bian malas harus menjelaskan.
Jendral feng marah atas jawaban itu tapi di tenangkan oleh istrinya "tanyakan saja suamiku, sepertinya pemuda itu tidak tau harus menjelaskan dari mana" ucap Niu yin istri jendral feng.
"putri anda telah menyinggung tuanku" kata bian singkat
"apa sebabnya dan siapa tuanmu" jendral feng penasaran.
"putri Jiafeng ingin melukai tuanku dengan cambuknya hanya karna tuanku menyamar sebagai pengemis sebagai pembelaan tuanku menarik cambuknya dan membalas perbuatan putri Jia" bohongnya
jika tuannya menyamar berarti tuannya sedang mencari sesuatu, kalau aku bisa membuat orang ini tunduk pada kelurgaku tidak akan ada orang yang berani menyinggung bantin jendral feng dengan liciknya
__ADS_1
"ada lagi jendral, tuanku menghapus ingatan putri jia sebab tuanku tidak mau keberadaannya di ketahui" tambah bian mendengar rencana licik jendral itu
semua orang diruangan itu dapat melihat tanda bulat merah kecil diantara kening pemuda itu, Meifeng sebelumnya telah memberikannya namun tanda itu terdapat aura tersendiri jadi meifeng dapat membedakannya. jendral feng belum pernah melihat tanda itu mungkin tanda itu khusus bawahan orang itu batin jendral feng mengingat tanda itu.
setelah mengatakan itu pusaran hitam bercampur warna emas seperti pintu muncul tepat di depan pintu ruangan itu lalu Huli keluar dari sana dengan pakaian serba putihnya semua terpaku dengan ketampanannya. Meifeng sengaja mengirim Huli kesana dengan alasan Huli mencarinya Meifeng juga sebelumnya telah memberi tanda juga kepada Huli.
"ohh..disini kau rupanya aku telah mncarimu kemana mana ternyata kau disini. bian yang mengerti drama itu mulai memainkan perannya "hmm..aku disuruh tuan untuk mengantarkan putri jendral feng" ucap bian dengan nada bersahabat.
"memangnya ada apa dengan putri itu" tanya Huli seolah kebingungan. "ah...maafkan kelancangan saya jendral" Huli berpura pura sedih.
"maafkan teman hamba jendral" ikut Bian
Jendral yang juga melihat tanda di kening itu menyimpulkan kalau mereka punya tuan yang sama, ia jadi makin tertarik dengan tuan dari dua pemuda di depanya "siapa nama kalian" tanya selir kedua, selir xia atas permintaan ank gadisnya yang menyukai Huli.
"Nama hamba Huli nyonya" jawab Huli cepat.
"boleh tau nama keluargamu?"
"maaf nyonya keluarga hamba tersembunyi" Huli tda ingin klan keluarganya diketahui.
"oh..baiklah bagaimana kau tinggal dulu disini" selir xia berharap.
__ADS_1
"maafkan hamba nyonya tapi tuanku akan mencariku" sesal Huli.
Selir xia menghela nafas dan memandang putrinya.