Goddess Of Death

Goddess Of Death
CHAPTER 34


__ADS_3

"aku belum puas jika hanya menusukmu" ucap orang itu mengambil pasangan sumpitnya lalu memegang nya seperti ingin mau makan, ternyata ia mengambil bola mata selir An menggunakan sumpit tadi sampai keluar.


"mataku!!! aaarrrggg!!! dasar binatang gilaa!!" teriak selir An yang masih sempat memaki.


"Ahahahaha" orang itu hanya tertawa bahagia melihat rasa kesakitan selir An.


"ck...aku ingin kau mati perlahan lahan" ucap orang itu kemudian mengikat kedua tangan dan kaki selir An di kursi, dan mencekiknya sampai nafasnya hilang lalu melepaskannya untuk memberinya waktu bernafas setelah cukup terus mencekiknya lagi sampai hampir mati, itu ia ulang ulang terus sampai nafas selir An benar benar habis.


Tidak cukup sampai disitu setelah selir An mati ia menelanjangi nya dan membawanya di depan paviliun kaisar dengan meninggalkan surat yang bertuliskan "kejutan".


orang itu pergi keatas atap dan membuka jubah hitamnya "ah akhirnya selesai juga...huh sudah lama aku tidak membunuh tanganku kaku sekali" ucap orang itu yang ternyata adalah Meifeng.

__ADS_1


"hmp..dasar murahan" ucap Meifeng lalu pergi meninggalkan kerajaan itu.


"Huli" panggil Meifeng dengan lembut, yang di panggil langsung datang secepat kilat dengan wujud rubahnya dan langsung melompat di gendongan Meifeng.


"Mei'er kau kemana saja satu hari ini?" tanya Huli yang sudah sangat merindukan gadis kecilnya.


"oh..aku habis bermain" balas Meifeng dengan senyum manisnya.


"Kau temani aku ya jalan jalan sebentar" pinta Meifeng yang ingin menenangkan pikirannya.


saat Meifeng berjalan yang sudah cukup jauh dari istana nya ia menemukan banyak bercak darah di pohon bahkan di rerumputan.

__ADS_1


"darah siapa ini" tanya Meifeng pada Huli ia mencium bau darah itu, aneh bau darahnya tidak terlalu menyengat namun memiliki aroma khas.


Mereka berjalan mengikuti jejak darah tersebut, Meifeng sesekali mencium bau darah yang sangat pas di hidungnya, dari kejauhan mereka melihat seorang pria yang tergeletak bersandar di pohon dengan banyak luka.


Meifeng mendekati pria itu dan mencium bau darahnya, benar saja bau darah itu berasal dari pria tersebut, Meifeng berusaha membangunkan pria itu tapi tak kunjung bangun ia berpikir untuk membawa pria itu ke istana nya namun nanti pria itu membocorkan semua tentang istana nya.


"Bagaimana kalau kita membeli rumah untuk menempatinya" ucap Huli memberikan pendapatnya, Meifeng pun setuju.


Ia memasukkan pria itu kedalam cincin dimensinya dan cepat mencari rumah untuk dibelinya, setelah mendapatkan rumah yang cukup besar ia lalu meletakkan pria itu di tempat tidur sebelumnya ia sudah menyuruh Huli untuk membersihkan tubuhnya.


"ck..ck..ck..pria ini sangat sangat sangat tampan, bagaimana Meimei tidak tertarik dengannya sungguh wanita aneh pria setampan ini abaikan, dasar" ucap Huli yang sangat mengagumi wajah tampan pria itu, "ketampananku saja kalah sama dia" gumam Huli yang iri pada pria itu.

__ADS_1


saat sedang memperhatikan wajahnya, pria tersebut tiba tiba terbangun langsung memegang kepalanya "ukh....dimana aku, kau...kau Siapa? tanya pria itu dengan ekspresi kejamnya.


"wow..santai tuan saya Huli yang sudah membersihkan tubuh tuan dari banyak darah" jelas Huli pada pria itu.


__ADS_2