
"kalau begitu jendral kami pamit undur diri" ucap Bian tidak ingin berlama lama disana.
"Baiklah kalian boleh pergi, sampaikan salamku ke tuanmu" balas jendral feng ramah.
"mengapa kau membiarkan mereka pergi aku ingin bertemu dengan tuan ******** mereka itu" ucap selir Nuan marah tak terima putrinya dipukuli.
Bagaimana pun tidak ada ibu yang tega melihat anaknya dipukuli begitu mengenaskan.
Bian dan Huli yang mendengar itu marah nonanya dibilang ********. "Aku akan mengatakan ini kepada tuanku, permisi" ucap Huli cepat ia tak ingin bertambah marah dan menghancurkan kediaman jendral feng, Huli membuka pusaran hitamnya dan masuk diikuti Bian dibelakang.
Jendral feng yang menyaksikan itu marah, ia tak ingin menyinggung orang itu dan keluarganya dihancurkan. Jendral feng menghukum selir Nuan tidak boleh keluar dari paviliun selama 3 bulan lalu beranjak dari ruangan itu.
saat ini Huli dan Bian sudah sampai di tempat Meifeng, ia menceritakan semua yang terjadi seperti anak kecil yang mengadu ke ibunya.
"******** ya, hm?" Meifeng tampak semringah karna mendapat mainan baru. "heh...aku akan datang menemui mereka besok perintah pembunuh bayaran untuk nemberi tahukan kedatabganku" lanjut Meifeng senang.
__ADS_1
Bian berlalu meninggalkan Meifeng dan Huli menjalani perintah Meifeng, setelah Bian pergi Huli kembali ke cincin dimensi.
"Meifeng" ucap suara itu melihat meifeng sendirian.
"siapa?" balas Meifeng ia tau itu kakak keduanya namun Meifeng membencinya.
"ini aku Fai feng kakak kandungmu" ucap Feifeng bingung kenapa adik bungsunya melupakannya.
"aku tidak punya kakak dan aku juga tidak punya keluarga...keluarga ku semua sudah mati" balas Meifeng mengalihkan tatapannya tak mau menatap manusia hina seperti itu, ia berbicara kenyataan bahwa keluarga feng bukan keluarganya namun dalam artian Faifeng berbeda.
"mana? mereka bahkan membenciku, memukuliku, dan membuangku kesini apa itu yang dinamakan keluarga, hm? ucap Meifeng santai namun setiap katanya ditekan.
"Apa yang kau bicarakan kau memang putri yang tidak baik, bahkan berkultivasi saja kau tidak bisa lantas apa salahnya ayah membuangmu" ucap Faifeng dengan nada mengejek.
"satu lagi mangsa" gumam Meifeng yang tak dapat di dengar Faifeng.
__ADS_1
Meifeng turun dari pohon yang sebelumnya ia naiki dan berjalan menuju Faifeng "kalau kau berani kalahkan aku" ucap Meifeng setibanya di hadapan Faifeng.
"hahahaha...mengalahkanmu? jangan bercanda Meifeng apa yang harus aku kalahkan dar....."belum sempat menuntaskan kalimatnya Meifeng mendorongnya hingga Faifeng terlempar kebelakang dan muntah darah.
"kalahkan aku atau nyawamu melayang" ucap meifeng kesal ia sudah mengeluarkan 50% auranya setiap ia berjalan mengekuarkan asap hitam dari tubuh yang tertiup angin.
Faifeng yang merasa berhadapan dengan dewa kematian hampir mati karna sesak nafas "Me..Mei..feng" ucap Faifeng melihat aura hitam disekitar tubuh adiknya.
"apa?...oh lumayan juga aku jadikan kau budak hehe" Meifeng tertawa renyah ia berencana Menjadikan Faifeng budaknya.
"ja..jangan a..aku tidak ma..mau" ucap Faifeng gugup berusaha lari dari Meifeng.
Namun Meifeng terlanjur memberikan tanda di kening Faifeng dan menghilangkannya agar tidak di lihat orang.
"dengar kakakku tersayang aku masih mengampuni nyawamu, sekarang kau adalah budakku jika kau berhianat maka tanda dikeningmu akan meleburkan tubuhmu hingga hanya terisisa tulang saja" ucap Meifeng membisik di telinga Faifeng.
__ADS_1