Goddess Of Death

Goddess Of Death
CHAPTER 9


__ADS_3

"Tampan juga kau Huli" ucap Meifeng setelag melihat Huli kesayangannya telah selesai kultivasi.


"heh...aku memang tampan" jawab Huli dengan bangga.


Meifeng turun dari ayunan di pohon apelnya dan berjalan mendekat ke Huli "ikut aku...aku ingin keluar sebentar sambil menunggu paviliunku selesai" sambil menarik tangan Huli.


Huli yang mendapat perlakuan itu hanya pasrah saja, mereka keluar cincin dimensi dan berjalan keluar dari gubuk.


"Bisa kau ubah dirimu jadi rubah kecil?" tanya meifeng.


"Bisa...memangnya kenapa?" tanya Huli balik.


"aku ingin berjalan-jalan sambil menggendongmu" berharap Meifeng menunjukan ekspresi imutnya.


Huli merubah wujudnya menjadi rubah kecil menyembunyikan ekornya dan segera di gendong Meifeng, ia berjalan mengikuti arus sungai yang menuju keluar hutan, ketika hampir keluar dari hutan ia melihat seorang pemuda sebrang sungai berpakaian serba hitam bersandar di batang pohon.


"sepertinya pemuda itu pingsan" ucap Huli melihat pemuda yang terbaring lemah disana.


"biar aku cek" Meifeng menggunakan Qing gong (ilmu meringankan tubuh) menghampiri pemuda itu, dilihatnya wajah pemuda tampan itu tapi lebih tampan Huli sih batin Meifeng.

__ADS_1


Segera ia memeriksa keadaannya "racun bunga tujuh rupa" gumam Meifeng yang masih dapat di dengar Huli. "Racun bunga tujuh rupa adalah racun langka dan tidak punya obat penawar pemuda ini pasti mati" sarkas Huli.


Mendengar itu Meifeng meyeringai dan menampilkan mata merah darahnya, kemudian ia mengambil belati pemuda itu dan mengiris jarinya dan meminumkannya kepada pemuda itu. Teknik yang digunakan Meifeng adalah dengan membuat racun melawan racun, sebagai seorang pembunuh ia pasti tau.


Setelah dirasa cukup Meifeng menarik jarinya dan lukanya dengan cepat menutup tanpa bekas, Huli yang melihat itu melongo sebab ia hanya tau level kekuatan Meifeng gadis ini memang penuh kejutan batin Huli.


Efek racunnya telah bekerja, tubuh pemuda itu mengeluarkan keringat dingin. Pemuda itu bangun dengan rasa yang amat sakit ditubuh bagian dalam, pemandangan pertama ia melihat seorang gadis kecil dengan rubah digendongannya.


"apa yang kau lakukan pada tubuhku gadis kecil" tanya pemuda itu dengan nada marah karena sakit didalam tubuhnya.


Meifeng tidak menjawab ia mengeluarkan beberapa apel dari cincin dimensinya "makan" ucap singkat Meifeng dengan datar.


"makan" ucap ketiga kalinya dengan malas, pemuda itu menatap mata Meifeng mencari apa yang dicurigainya, ia tidak bisa melihat apa apa di mata Meifeng.


Kembali menatap apel merah itu sebentar dan menatap mata Meifeng lagi, Meifeng yang melihat itu sudah diujung batas kesabarannya apa susahnya hanya makan apel huh? sarkas Meifeng dalam hati. Ia sudah tidak bisa sabar lagi ia ingin membunuhnya sepuluh persen aura nya keluar pemuda itu hampir mati ketakutan.


"k..ka..kau" pemuda itu terbata bata.


Meifeng mengeluarkan pedangnya, pedang pemberian gurunya selama satu tahun berlatih untuk berjaga jaga jika ia sendirian. Meifeng mengalirkan Qi nya ke pedang dan asap hitam keluar dari pedangnya, matanya memandang tajam pemuda itu, ia berdiri dan hendak berjalan mendekat tetapi Huli menghalanginya ia dengan cepat berubah wujud kemanusia untungnya pemuda itu tidak melihat karena menunduk takut.

__ADS_1


"mei'er tenang lah" Huli memeluk Meifeng berusaha menghilangkan nafsu brutalnya itu.


"Minggir kau...kau ingin membela pemuda itu Huli!!!" bentak Meifeng, sebenarnya tubuh Huli sedah gemetar takut akan aura nonanya tapi ia lawan.


"Bukan begitu mei'er pemuda itu hanya takut kau meracuninya" ucap Huli sambil memegang kedua pundak Meifeng. Pemuda itu hanya mampu mendengar sja tak berani untuk melihat ia merasa telah menyinggung orang yang salah.


Meifeng kembali menatap tajam pemuda itu dan menyingkirkan Huli dari hadapannya, "makan!!!" bentak Meifeng tidak bisa perintahnya tidak dilaksanakan.


Huli yang mendengar itu lantas berkata "makanlah tuan buah itu tidak mengandung racun apapun nonaku sudah menyembuhkan racun bunga tujuh rupa ditubuhmu, tolong jangan buat nonaku marah" agar Mei nya tidak marah seperti tadi.


"b..ba..baik tu..an" pemuda itu segera memakan apel itu dan rasanya manis beda dengan apel apel yang pernah ia temui.


.


.


.


Vote:)

__ADS_1


__ADS_2