
"Aku tidak melakukan apapun" ucap selir An yang tidak tahu sama sekali.
"tidak tahu kau bilang? putriku sebelum mati menyebut namamu kalau kau yang membunuhnya!! semua orang menyaksikannya!!" teriak Selir Su Ling marah besar pada selir An.
Kaisar yang mendengar itu memerintahkan prajurit untuk membawa selir An ke penjara bawah tanah, tiba di penjara ada seseorang yang satu ruangan dengan selir An, prajurit pun tidak menjelaskan siapa orang itu.
orang itu memakai jubah hitam dan kepalanya di tutup ia berdiri menghadap tembok penjara, saat selir An melihat orang itu ia terkejut bahwa ternyata sedari tadi orang itu ternyata melihatnya dengan tatapan mematikan.
"An" ucap orang tersebut memanggil selir An tanpa embel embel selir.
"Siapa kau!" ucap selir An yang merasa hawa disana sudah tidak enak.
"hai" ucap orang tersebut sambil melambaikan tangannya dan tersenyum aneh.
seketika selir An mengingat surat yang bertuliskan kata hai dan tulisan di cermin dengan kata yang sama, selir An melihat lagi orang tersebut dilihatnya orang itu masih melambaikan tangan dengan senyum yang aneh.
Selir An memutuskan untuk tidak melihat lagi orang itu, namun orang tersebut tetap melambaikan tangan dengan sesekali mengucapkan kata hai, selir An pun tak tenang dengan semua itu ia memberontak agar dikeluarkan dari sana.
"lepaskan aku breng@...aku ini selir di kerajaan ini, akan ku hukum kamu!!" ancam Selir An kepada 3 prajurit penjaga.
__ADS_1
prajurit itu ketakutan dan melepaskan selir An dari penjara, tak butuh waktu lama ia langsung berlari karena ketakutan.
"come play with me"
sedangkan diruangan kaisar ia masih terlihat gusar atas kematian putrinya "ayah ikhlaskan saja kepergian adik keempat" ucap sang putra pertama Lie Tian menenangkan ayahnya.
Kaisar hanya menanggung saja mendengar suara putra kesayangannya, sesaat setelahnya muncullah panah yang sudah penuh dengan darah dan surat yang terikat disana menancap tepat di samping kepala kaisar.
Lie Tian segera mengeluarkan pedang nya untuk berjaga jaga, ia menarik panah yang basah itu dengan tangannya dan mencabut surat dan membacanya, surat itu bertuliskan "aku ingin bermain" yang membuat bingung Lie Tian.
Ia memberikan surat itu kepada ayahnya dan membuat ayahnya ikut kebingungan.
saat malam tiba, terlihat selir An sedang merapikan rambutnya sendiri di depan cermin, di luar ada sosok yang memperhatikannya sedari tadi sambil memegang sumpit, saat selir An merasa diperhatikan ia melihat ke seluruh arah namun tidak ada apa apa.
"Aaaaaa!!!" teriak selir An sekencang kencangnya, namun tak ada yang mendengar teriakan nya.
sosok itu maju menghampiri selir An yang sedang menutup mata kemudian menjambak rambutnya sampai muka selir An terangkat tinggi.
"M-Mau apa kau?" ucap Selir An ketakutan.
__ADS_1
"tenang saja ini tidak akan sakit jika kau menuruti perintah ku" ucap orang itu sambil mengusap wajah selir An "kau cantik namun sayang hatimu busuk" tambah orang itu yang membuat selir An menangis.
"hiks...lepaskan aku..hiks" ucap Selir An yang sudah menangis pilu.
"melepaskan mu? tidak aku ingin bermain, lihat" ucap orang itu sambil menunjukkan sumpit yang ia pegang.
Selir An hanya diam dan pasrah saja, ia berpikir mungkin ini adalah takdir nya.
"kenapa tidak melawan? aku ingin kau melawanku!! teriak lah teriak sekencang mungkin!!" bentak orang itu yang tak suka jika mangsa nya pasrah.
Selir An memutuskan untuk diam terus mungkin akan menyelamatkan nyawanya, tanpa di duga justru diam itu yang membuat nyawanya melayang.
"kau tidak mau teriak, heh? akan ku buat kau teriak minta ampun" ucap orang itu yang sudah sangat kesal.
Orang itu kemudian mengambil pisau buah di dapur lalu menunjuk kan pisau dan sumpit kepada selir An "kau pilih mana? pisau atau sumpit?" ucap orang itu bertanya.
dilihatnya selir An hanya menatap kedua benda itu tanpa memilih "hmm...kurasa pakai yang tajam terlalu cepat" ucap Orang itu berpikir karena selir An tidak mau memilih.
Orang itu membuang pisau buah itu asal, kemudian menarik tangan selir An dan menusuk nya menggunakan sumpit tadi.
__ADS_1
"Aaa!! sakiiit!! tolong lepaskan aku!!" teriak selir An meminta untuk dilepaskan.
bukannya merasa iba, justru orang itu tambah bergairah untuk menusuk bagian bagian kecil dari Selir An seperti di tangan, kaki, bahkan pipi sekalipun.