
Setelah kematiannya itu ia tak lagi datang menemui Jingyi, membuat Jingyi merasa kesepian namun nama dari wanita itu senantiasa menemaninya, setelah para bawahan dari Jingyi memberitahu kalau wanita itu telah mati, Jingyi merasa kehilangan ia lalu meminta bawahan itu untuk memasang jebakan mematikan mengelilingi batu tersebut.
Seiring berjalannya waktu hingga mencapai 2 abad nama di batu itu perlahan memudar secara misterius dan membuat Jingyi melupakan nama tersebut secara tiba tiba.
belakangan ini Jingyi selalu menatap ukiran itu dan berusaha mengingat namanya sampai akhirnya ia mendengar suara dari atas permukaan, ia lalu dengan cepat menghilangkan tubuhnya dan juga rantai itu dan hanya menyisakan simbol sihir.
Tidak lama setelahnya muncullah seekor rubah yang entah dari mana dan rubah itu adalah Huli sendiri.
"oh jadi seperti itu" ucap Huli berpikir betapa lamanya sampai dua abad sedangkan ia baru hidup selama 90 tahun.
sedangkan Meifeng seperti menangkap sesuatu dari cerita Jingyi ia nampak berpikir keras sampai kedua keningnya berkerut menyatu, "kalau ia bilang akan kembali berarti dia akan kembali?" tanya Meifeng penasaran "lalu kenapa nama itu perlahan memudar" tanya Meifeng lagi yang sangat penasaran akan hilangnya nama itu hingga menyisakan M dan Y saja yang masih utuh.
"kalau ia mempunyai dua jiwa apakah dua duanya akan masuk neraka?" tanya Meifeng lagi namun Jingyi hanya diam karena tidak tahu apa apa, "kalau ia berkata akan kembali berarti kedua jiwanya tidak masukkan kedalam neraka maupun surga" ucap Meifeng lagi dan hanya disambut dengan kesunyian mereka berempat nampak mengiyakan perkataan Meifeng.
__ADS_1
"lalu kemana kedua jiwa itu" tanya Huli yang sama penasarannya degan Meifeng.
"Saya rasa kedua jiwa itu menyebar terpisah masuk kedalam orang yang berbeda" ucap Bri Bian ikut "karena selama ini tidak ada orang yang sekejam itu tapi..." ucap Bei Bian melihat Meifeng lalu menunduk.
"lalu apa" tanya Jingyi yang mendengar itu.
"yang saya tahu nona Meifeng lah sewaktu masih kecil suka menolong orang, berbeda dengan putri putri lainnya atau seperti orang orang bangsawan yang tidak sudi bersentuhan dengan pengemis" ucap Bei Bian mengingat sewaktu ia melihat Meifeng namun berbeda dengan yang sekarang yang wajahnya terlihat kejam.
"kalau jiwa itu ada pada Meimei lalu kenapa Meimei bisa sekejam itu dan kemana jiwa yang satunya" ucap Huli penasaran dengan sifat Meifeng yang dulunya sangat baik namun berubah jadi jahat dan kejam.
Sedari tadi Meifeng hanya diam dan nampak berpikir sampai pada akhirnya ia menyerah dan mencari tahunya nanti.
mereka mulai melanjutkan hari harinya, Huli yang sibuk memakan apel dan pergi berkeliling di pasar pasar yang ia datangi bersama Bei Bian ketika ada waktu.
__ADS_1
Jingyi dan Jingmi mulai untuk membangkitkan kekuatan dulu yang mereka punya sedangkan Meifeng sibuk membuat senjata seperti yang ia punya ada 10 senjata dulu di kehidupan sebelumnya.
salah satunya adalah Desert Eagle Mark XIX pistol dan Sniper ia membuatnya dari koin perak yang diambilnya dari rumah rumah pedagang kaya tak lupa dengan emasnya, ia mencairkan perak untuk badan senjata begitu juga dengan pelurunya.
Tak terasa setelah dua tahun akhirnya ia bisa membuat 3 pistol desert eagle, 100 Sniper, dan 2000 Heckler & koch HK416 seperti yang ia punya dulu dan masih banyak lagi.
"Meimei kau tak mau makan apel ini?" ucap Huli yang melihat Meifeng sedang merancang senjata senjatanya.
"itu benda apa? kau selama ini membuatnya namun tak pernah memberitahuku" ucap Huli kesal tak pernah di beritahu itu benda apa.
"ini namanya senjata api" ucap santai Meifeng yang di dengar oleh Jingyi yang sedang anak serigala yang ia temukan di hutan kematian.
"aku punya banyak api apa kau mau" teriak Jingyi yang mengeluarkan api dari tangannya sambil mendekati Meifeng.
__ADS_1
"Ck..bukan itu yang dimaksud" ucap Meifeng lalu mengambil sniper nya membidik dan menembak salah satu pohon disana.
Setelah menembak Meifeng menunjuk arah pohon itu mengisyaratkan Huli dan Jingyi melihat disana, Huli dan Jingyi menelan saliva nya susah payah melihat pohon itu tembus oleh benda kecil yang menancap di pohon belakangnya.