
Kamar yang dihias dengan buku pendidikan terdapat dua wanita berbaring di tempat tidur membahas semua perihal tentang mereka yang terkadang menciptakan gelak tawa hingga sakit perut tapi kini berakhir dengan obrolan perpisahan.
“Riri. Tidak terasa tinggal satu bulan kamu di sini. Entar aku sendiri lagi. Tidak bisakah kamu terus bersamaku”ucapnya sendu.
“Cika. Enam Bulan waktu yang cukup untuk kita saling mengenang untuk selamanya. Maaf aku harus kembali setelah magangku selesai.Kalau Cika mau. Kamu boleh ikut Riri ke Samarinda.”jawabnya.
“Riri ada ada saja. Kalau aku ikut denganmu. Aku harus makan dan tinggal di mana. Tidak mungkin aku numpang hidup terus denganmu”
“Tenang aja Cika bisa tinggal dan hidup dengan Pamanku”ucapnya menghasilkan cubitan singkat.
“Riri ngaur. Kamu mau jual aku sama Pamanmu yang udah bau tanah. Tidak bisakah Riri merekomendasikan laki laki setidaknya seperti Pak Bian yang tampan juga mapan”jelasnya mengutarakan keinginan.
“Kamu jangan salah Cika. Pamanku lebih Tampan dan Mapan daripada Bian. Bahkan Pamanku masih muda.Lima Tahun lebih dulu lahir dariku”jawabnya membuat Cika heboh.
“Beneran. Berarti Pamanmu masih muda banget tapi lebih mapan dan tampan Ceo kita, Pak Alana Saputra. Iyakan. Ceo ILA tidak ada tandingannya”ucapnya penuh kebanggaan.
“Emmm. Ceo ILA emang tidak ada tandingannya kalau persolan wajah dan harta tapi sayangnya minim Iman” ucapnya sebab beberapa kali kejadian di awal magang terulang yaitu berkunjung di Bar.
“Bagiku Ceo ILA yang terbaik. Jarang banget seorang pemimpin tidak main perempuan. Aku belum perna melihatnya bersama perempuan kecuali adiknya”ucapnya.
“Itu hak kamu Cika. Tapi bagiku Pamanku tetap tidak ada tandingannya. Dia seperti Teman, orang tua, Bodyguard dan bahkan sering jadi pacar pura pura ku agar tidak ada yang berani mengganggu ku. Riri bisa jamin Cika tidak akan menyesal jika memili Pamanku”ucapnya menggambarkan kesempurnaan Pamannya.
“MasyaAllah. Suatu saat aku akan mengunjungimu di samarinda dan jangan lupa kenalkan aku dengan Pamanmu yang luar biasa itu”jawabnya di akhiri tawa.
“Jangan ketawa mulu mending tidur. Besok kita harus kembali bekerja jangan sampai terlambat bisa bisa aku di hukum lagi sama Ceo andalanmu”ucapnya sembari menutup mata membuat Cika tamba semangat.
“Pak Alan. Galak banget iya Riri?”ucapnya membuat Riri membuka mata.
“Galak pakai banget. Cika tahu setiap hari kerjaan ku hanya menemaninya kemanapun dia pergi. Bahkan Riri dilarang tidur, dilarang berbicara dengan Bian dan bahkan dilarang melihatnya. Bagaimana coba tidak melihatnya jika terus meminta bersamanya” jelasnya.
“Itu bukan Galak tetapi memang tugasmu Riri sayang. Kamu saja yang sering ngorok di sembarang waktu jadi kena marah kan”ucapnya masih membela.
“Hehehe. Benar juga perkataanmu Cika. Tetapi tetap saja marahnya tidak masuk akal. Cika tahu. Riri perna dimarahin karena menjawab pertanyaan Bian dan bahkan Bian juga kena marah, padahal Bian hanya bertanya tentang Bos di kamar pribadinya” ucapnya menjelaskan sembari mengingat kejadian kemarin.
“Galak tapi tetap Tampan”jawabnya membuat Riri geleng geleng kepala.
“Iya iya. Bagi Cika Ceo ILA tidak ada tandingannya”ucapnya terpaksa membuat Cika tertawa penuh kemenangan.
“Sudah Riri mau tidur”ucapnya membuat dua wanita menutup mata hingga Fajar.
“Cika. Cepat entar kita telat”ucapnya membuat Cika terburu buru memperbaiki seragam kerjanya.
__ADS_1
“Tunggu Ri. Kunci motor mana lagi”ucapnya sembari mencari cari dan ternyata ada di tasnya.
“Astagfirullah ternyata di sini”ucapnya kemudian menghampiri Riri yang sudah di daun pintunya.
“Cika. Tinggal lima belas menit. Nanti kita telat”ucapnya sembari menatap jam tangannya
“Ayo cepat. Tidak baik marah marah di pagi hari”jawabnya masih saja sempat bercanda.
Kendaraan Roda dua melaju dengan kencang sementara di tempat lain seseorang sudah menunggu kehadirannya yang tak kunjung datang seperti biasanya.
“Bian tidak boleh ke lantai atas tanpa dia” ucapnya membuat Bian mematung di depan Lift pribadi Ceo.
“Jika dia datang. Beritahu untuk langsung menemaniku. Sepertinya dia sangat suka aku hukum”lanjutnya berucap sebelum Lift tertutup.
“Kamu yang suka menghukum orang sesuka hati. Benar kata Agnes Monica. Cinta tak ada logika”ucapnya sebelum kembali ke pintu utama ILA.
“Astagfirullah Al Azim. Riri kita benar benar terlambat. Tamatlah riwayat kita”ucapnya sembari menepuk jidat.
“Siap siap dapat hukuman lagi Cika”ucapnya pasrah sembari melangkahkan kaki.
“Bian”..Ucapnya mengejutkan seseorang yang sedang memantau jadwal pekerjaan atasannya.
“Akhirnya Riri datang juga”
“Lebih tepatnya di perintahkan menunggu mu. Cepat temui Bosmu di Ruangan kalian” jawabnya membuat Cika terkejut setengah mati.
“Riri satu Ruangan dengan Pak Alan?”tanyanya terkejut.
“ Obrolannya di lanjut pada saat istirahat mending Cika masuk. Tenang saja aku sudah bicara dengan HRD mu. Kamu selamat hari ini. Jangan di ulangi lagi”ucapnya.
“Terima Kasih pak Bian”jawabnya tersenyum.
“Riri aku tagi penjelasanmu nanti di waktu istirahat”jawabnya melotot penuh ancaman membuat Riri hanya menganggukkan kepala.
“Bian marah sama Riri karena Riri terlambat?”tanyanya membuat Bian memberanikan diri memandangnya.
“Aku mana berani marah kepadamu Riri”jawabnya
“Beneran Bian tidak marah. Tetapi Riri perhatikan Bian tidak mau memandangku bahkan saat bicara sekalipun” ucapnya mengutarakan keluh kesannya.
“Bukan Aku yang marah tetapi Bosmu yang akan marah jika aku melihatmu lebih dari satu menit”batinnya.
__ADS_1
“Itu hanya perasaanmu saja Riri”jawabnya.
“Tetapi Bian terlihat berubah. Apa Bian ada masalah siapa tahu Riri bisa bantu” ucapnya sembari memandang lekat Bian.
“Jika aku bisa mengatakan. Tolong bantu aku membahagiakan Alan”batinnya dengan tatapan kosong sampai tidak menyadari keberadaan seseorang yang sedang sandar di tembok dengan tangan melipat di dada.
“Aku harus menyatakan perasaan sebelum ke tikung sahabat sendiri”batinnya memandang lekat dua orang yang hampir melewatinya.
“Aku menggaji kalian untuk bekerja bukan untuk Pdkt”jawabnya penuh penekanan membuat dia orang berbalik kearahnya dengan terkejut.
“Alan. Bos”ucapnya bersamaan membuat Alan semakin panas dingin.
“Bian. Kembali keruangan mu. Dan kamu ikut denganku”ucapnya berlalu di susul oleh Riri.
“Sepertinya ada yang dilanda cemburu” Batinnya tak mengalihkan pandangan dari dua orang di hadapannya.
“Duduk!”ucapnya setelah duduk di kursi kebesarannya.
“Kenapa kamu terlambat?”lanjutnya bertanya saat Riri duduk sembari menunduk.
“Maaf Pak. Aku ketiduran”jawabnya.
“Kenapa bisa ketiduran. Apa kamu kejujuran?” tanyanya.
“Tidak Pak. Aku tidak perna ke mana mana. Aku hanya gobron dengan Cika hingga larut malam”jawabnya menegakkan kepala..
“Apa yang kalian obrolkan. Kalian tidak menggosip tentang Bosmu?”tebaknya membuat bola mata Riri membulat.
“Bos pintar banget menebak atau mungkin dia punya mata mata”batinnya.
“Terserah kalian mau ngobrol apapun yang penting ingat waktu jangan sampai kejadian hari ini terulang kembali”ucapnya lagi membuat Riri bernafas lega.
“InsyaAllah Bos”jawabnya diiringi senyuman.
“Seperti biasa. Jika membuat kesalahan dapat hukuman lagi”ucapnya tersenyum membuat Riri menarik nafas dalam dalam.
“Siap Bos”jawabnya.
“Duduk. Jangan ke mana mana sebelum aku kembali”ucapnya berlalu meninggalkan Riri yang jadi penurut.
“Maukah kamu jadi Madrasah Utama bagi Anak anakku?”ucapnya pada pantulannya dengan detak jantung yang lebih cepat.
__ADS_1
“Alan. Kamu harus bisa”ucapnya lagi sembari melihat dirinya di cermin dalam kamar mandi pribadinya.